Showing posts with label maternitas. Show all posts
Showing posts with label maternitas. Show all posts

Thursday, October 7, 2010

Proses Dalam Persalinan

1. Pengertian persalinan
Persalinan merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para ibu hamil, sebuah waktu yang menyenangkan namun di sisi lain merupakan hal yang paling mendebarkan. Persalinan terasa akan menyenangkan karena si kecil yang selama sembilan bulan bersembunyi di dalam perut anda akan muncul terlahir ke dunia. Di sisi lain persalinan juga menjadi mendebarkan khususnya bagi calon ibu baru, dimana terbayang proses persalinan yang menyakitkan, mengeluarkan energi yang begitu banyak, dan sebuah perjuangan yang cukup melelahkan. Ada baiknya para calon ibu mengetahui proses atau tahapan persalinan seperti apa, sehingga para calon ibu dapat mempersiapkan segala halnya guna menghadapi proses persalinan ini.
2. Sebab terjadinya Persalinan
a. Penurunan fungsi plasenta : kadar progesteron dan estrogen menurun mendadak, nutrisi janin dari plasenta berkurang. (pada diagram, dari Lancet, kok estrogen meningkat)
b. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser, menjadi stimulasi (pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus.
c. Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin merangsang terjadinya kontraksi.
d. Peningkatan beban / stress pada maternal maupun fetal dan peningkatan estrogen mengakibatkan peningkatan aktifitas kortison, prostaglandin, oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk proses persalinan




3. Proses Persalinan
a. Tahap Pembukaan / In partu ( kala I )
In partu (partus mulai) ditandai dengan lendir bercampur darah, karena serviks mulai membuka dan mendatar. Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar karnalis servikalis karena pergeseran ketika serviks mendatar dan terbuka. Pada kala ini terbagi atas dua fase yaitu: Fase Laten: dimana pembukaan serviks berlangsung lambat, sampai pembukaan 3 cm Fase aktif: yang terbagi atas 3 subfase yaitu akselerasi, steady dan deselerasi Kala I adalah tahap terlama, berlangsung 12-14 jam untuk kehamilan pertama dan 6-10 jam untuk kehamilan berikutnya. Pada tahap ini mulut rahim akan menjadi tipis dan terbuka karena adanya kontraksi rahim secara berkala untuk mendorong bayi ke jalan lahir. Pada setiap kontraksi rahim, bayi akan semakin terdorong ke bawah sehingga menyebabkan pembukaan jalan lahir. Kala I persalinan di sebut lengkap ketika pembukaan jalan lahir menjadi 10 cm, yang berarti pembukaan sempurna dan bayi siap keluar dari rahim. Masa transisi ini menjadi masa yang paling sangat sulit bagi ibu. Menjelang berakhirnya kala I, pembukaan jalan lahir sudah hampir sempurna. Kontraksi yang terjadi akan semakin sering dan semakin kuat. Anda mungkin mengalami rasa sakit yang hebat, kebanyakan wanita yang pernah mengalami masa inilah yang merasakan masa yang paling berat. Anda akan merasakan datangnya rasa mulas yang sangat hebat dan terasa seperti ada tekanan yang sangat besar ke arah bawah, seperti ingin buang air besar.
Menjelang akhir kala pertama, kontraksi semakin sering dan kuat, dan bila pembukaan jalan lahir sudah 10 cm berarti bayi siap dilahirkan dan proses persalinan memasuki kala II.

Peristiwa penting pada persalinan kala 1
1. keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus.
2. ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar.
3. selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm).
Pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) pada primigravida berbeda dengan pada multipara :
1. Pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih dahulu sebelum terjadi pembukaan – pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan
2. Pada primigravida, ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah) – pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
3. Periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama.


b. Tahap Pengeluaran Bayi ( Kala II )
Pada kala pengeluaran janin, rasa mulas terkordinir, kuat, cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin turun masuk ruang panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Anda merasa seperti mau buang air besar, dengan tanda anus terbuka. Pada waku mengedan, kepala janin mulai kelihatan, vulva (bagian luar vagina) membuka dan perineum (daerah antara anus-vagina) meregang. Dengan mengedan terpimpin, akan lahirlah kepala diikuti oleh seluruh badan janin. Ibu akan merasakan tekanan yang kuat di daerah perineum. Daerah perineum bersifa elastis, tapi bila dokter/bidan memperkirakan perlu dilakukan pengguntingan di daerah perineum (episiotomi), maka tindakan ini akan dilakukan dengan tujuan mencegah perobekan paksa daerah perineum akibat tekanan bayi dan Tak ada posisi melahirkan yang paling baik. Posisi yang dirasakan paling nyaman oleh si ibu adalah hal yang terbaik. Namun umumnya, ketika melahirkan dokter akan meminta ibu untuk berbaring atau setengah duduk. Namun pada saat proses melahirkan berlangsung, tidak menutup kemungkinan dokter akan meminta ibu mengubah posisi agar persalinan berjalan lancar. Misalnya, pada awal persalinan ibu diminta berbaring, namun karena proses kelahiran berjalan lamban maka dokter menganjurkan agar ibu mengubah posisinya menjadi miring.
c. Tahap Pengeluaran Plasenta ( Kala III )
Tahap ini dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap. berakhir dengan lahirnya plasenta. Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas pusat. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir. (jika lepasnya plasenta terjadi sebelum bayi lahir, disebut solusio/abruptio placentae – keadaan gawat darurat obstetrik !!).
d. Tahap Observasi proses persalinan ( Kala IV )
Tahap ini dilakukan Sampai dengan 1 jam setelah postpartum, serta harus dilakukan observasi. Dan ada 7 hal pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 ini yaitu:
1) kontraksi uterus harus baik
2) tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain,
3) plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
4) kandung kencing harus kosong,
5) luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,
6) resume keadaan umum bayi, dan resume keadaan umum ibu.

3. Posisi – Posisi dalam proses persalinan
a. Duduk atau setengah duduk ( Litotomi ), seringkali merupakan posisi yang paling nyaman, di samping memudahkan penolong persalinan dalam memimpin persalinan pada saat keluarnya kepala bayi, dan dalam mengamati perineum
b. Menungging atau posisi merangkak, baik dilakukan bila ibu merasakan kepala bayi tertahan di punggungnya. Posisi ini juga bermanfaat pada bayi yang sulit berputar
c. Jongkok atau berdiri, posisi ini membantu turunnya kepala bila persalinan berlangsung lambat atau bila ibu tidak mampu mengejan
d. Berbaring pada sisi kiri tubuh, posisi ini nyaman dan mampu mencegah ibu mengejan ketika pembukaan belum lengkap
Posisi yang tidak baik bagi ibu adalah berbaring lurus terlentang. Hal ini dapat menimbulkan penekanan pada pembuluh darah yang membawa darah untuk janin dan ibu, sehingga mereka akan memperoleh aliran darah dan oksigen yang lebih sedikit. Selain itu pada posisi ini ibu akan mengalam kesulitan dalam mengejan

MAKALAH MANUAL PLASENTA

MAKALAH MANUAL PLASENTA





BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perdarahan pascapersalinan adalah sebab penting kematian ibu; ¼ kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan (perdarahan pascapersalinan, placenta previa, solutio plasenta, kehamilan ektopik, abortus, dan ruptura uteri) disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan. Selain itu, pada keadaan dimana perdarahan pascapersalinan tidak mengakibatkan kematian, kejadian ini sangat mempengaruhi morbiditas nifas karena anemia dapat menurunkan daya tahan tubuh. Perdarahan pascapersalinan lebih sering terjadi pada ibu-ibu di Indonesia dibandingkan dengan ibu-ibu di luar negeri.

Perdarahan setelah melahirkan atau post partum hemorrhagic (PPH) adalah konsekuensi perdarahan berlebihan dari tempat implantasi plasenta, trauma di traktus genitalia dan struktur sekitarnya, atau keduanya.—Diperkirakan ada 14 juta kasus perdarahan dalam kehamilan setiap tahunnya paling sedikit 128.000 wanita mengalami perdarahan sampai meninggal. Sebagian besar kematian tersebut terjadi dalam waktu 4 jam setelah melahirkan. Di Indonesia, Sebagian besar persalinan terjadi tidak di rumah sakit, sehingga sering pasien yang bersalin di luar kemudian terjadi perdarahan post partum terlambat sampai ke rumah sakit, saat datang keadaan umum/hemodinamiknya sudah memburuk, akibatnya mortalitas tinggi. Menurut Depkes RI, kematian ibu di Indonesia (2002) adalah 650 ibu tiap 100.000 kelahiran hidup dan 43% dari angka tersebut disebabkan oleh perdarahan post partum.

Perdarahan yang disebabkan karena retensio plasenta dapat terjadi karena plasenta lepas sebagian, yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena:

a). Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva);

b).Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta).

Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta). Sehingga dilakukan tindakan manual plasenta.

Tujuan Penulisan

Tujuan Umum

Mampu memahami secara menyeluruh tentang Manual Plasenta dan cara pengeluaran manual pasenta.

Tujuan khusus

Mampu memahami yang dimaksud dengan manual plasenta.

Mengetahui indikasi manual plasenta

Mengetahui langkah-langkah manual plasenta

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Manual plasenta adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri secara manual yaitu dengan melakukan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong persalinan yang dimasukkan langsung kedalam kavum uteri. Pada umumnya ditunggu sampai 30 menit dalam lahirnya plasenta secara spontan atau dgn tekanan ringan pada fundus uteri yang berkontraksi. Bila setelah 30 mnenit plasenta belum lepas sehingga belum dapat dilahirkan atau jika dalam waktu menunggu terjadi perdarahan yang banyak, pasenta sebaiknya dikeluarkan dengan segera.

Manual plasenta merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio plasenta. Teknik operasi plasenta manual tidaklah sukar, tetapi harus diperkirakan bagaimana persiapkan agar tindakan tersebut dapat menyelamatkan jiwa penderita.

B. Etiologi

Indikasi pelepasan plasenta secara manual adalah pada keadaan perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc yang tidak dapat dihentikan dengan uterotonika dan masase, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir dan tali pusat putus.

- Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir. Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta disebabkan oeh gangguan kontraksi uterus.

Manual plasenta dilakukan karena indikasi retensio plasenta yang berkaitan dengan :

- Plasenta belum lepas dari dinding uterus dikarenakan:

a) Plasenta adhesive yaitu kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta

b) Plasenta akreta yaitu implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian

lapisan miometrium

c) Plasenta inkreta, yaitu implantasi jonjot korion placenta hingga mencapai/memasuki miometrium

d) Plasenta perkreta, yaitu implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.

e) Plasenta inkarserata, yaitu tertahannya plasenta didalam kavum uteri yang disebabkan oleh konstriksi ostium uteri.

- Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan dan dapat terjadi :

  • perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
  • Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan
  • Darah penderita terlalu banyak hilang
  • Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi,
  • Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam.

C. Patofisiologi

Manual plasenta dapat segera dilakukan apabila :

  • Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang.
  • Terjadi perdarahan postpartum melebihi 400 cc
  • Pada pertolongan persalinan dengan narkosa.
  • Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam.
  • Manual plasenta dalam keadaan darurat dengan indikasi perdarahan di atas 400 cc dan teriadi retensio plasenta (setelah menunggu ½ jam). Seandainya masih terdapat kesempatan penderita retensio plasenta dapat dikirim ke puskesmas atau rumah sakit sehingga mendapat pertolongan yang adekuat.

Dalam melakukan rujukan penderita dilakukan persiapan dengan memasang infuse dan memberikan cairan dan dalam persalinan diikuti oleh tenaga yang dapat memberikan pertolongan darurat.

- Tanda dan Gejala Manual Plasenta

  • Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
  • Pada pemeriksaan pervagina, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.
  • Perdarahan yang lama > 400 cc setelah bayi lahir.
  • Placenta tidak segera lahir > 30 menit.

D. Teknik Manual Plasenta

Untuk mengeluarkan plasenta yang belum lepas jika masih ada waktu dapat mencoba teknik menurut Crede yaitu uterus dimasase perlahan sehingga berkontraksi baik, dan dengan meletakkan 4 jari dibelakang uterus dan ibu jari didepannya, uterus dipencet di antara jari-jari tersebut dengan maksud untuk melepaskan plasenta dari dinding uterus dan menekannya keluar. Tindakan ini tidaklah selalu berhasil dan tidak boleh dilakukan secara kasar.

Sebelum mengerjakan manual plasenta, penderita disiapkan pada posisi litotomi. Keadaan umum penderita diperbaiki sebesar mungkin, atau diinfus NaCl atau Ringer Laktat. Anestesi diperlukan kalau ada constriction ring dengan memberikan suntikan diazepam 10 mg intramuskular. Anestesi ini berguna untuk mengatasi rasa nyeri. Operator berdiri atau duduk dihadapan vulva dengan salah satu tangannya (tangan kiri) meregang tali pusat, tangan yang lain (tangan kanan) dengan jari-jari dikuncupkan membentuk kerucut.

Gambar 1. Meregang tali pusat dengan jari-jari membentuk kerucut

Dengan ujung jari menelusuri tali pusat sampai plasenta. Jika pada waktu melewati serviks dijumpai tahanan dari lingkaran kekejangan (constrition ring), ini dapat diatasi dengan mengembangkan secara perlahan-lahan jari tangan yang membentuk kerucut tadi. Sementara itu, tangan kiri diletakkan di atas fundus uteri dari luar dinding perut ibu sambil menahan atau mendorong fundus itu ke bawah. Setelah tangan yang di dalam sampai ke plasenta, telusurilah permukaan fetalnya ke arah pinggir plasenta. Pada perdarahan kala tiga, biasanya telah ada bagian pinggir plasenta yang terlepas.

Gambar 2. Ujung jari menelusuri tali pusat, tangan kiri diletakkan di atas fundus

Melalui celah tersebut, selipkan bagian ulnar dari tangan yang berada di dalam antara dinding uterus dengan bagian plasenta yang telah terlepas itu. Dengan gerakan tangan seperti mengikis air, plasenta dapat dilepaskan seluruhnya (kalau mungkin), sementara tangan yang di luar tetap menahan fundus uteri supaya jangan ikut terdorong ke atas. Dengan demikian, kejadian robekan uterus (perforasi) dapat dihindarkan.

Gambar 3. Mengeluarkan plasenta

Setelah plasenta berhasil dikeluarkan, lakukan eksplorasi untuk mengetahui kalau ada bagian dinding uterus yang sobek atau bagian plasenta yang tersisa. Pada waktu ekplorasi sebaiknya sarung tangan diganti yang baru. Setelah plasenta keluar, gunakan kedua tangan untuk memeriksanya, segera berikan uterotonik (oksitosin) satu ampul intramuskular, dan lakukan masase uterus. Lakukan inspeksi dengan spekulum untuk mengetahui ada tidaknya laserasi pada vagina atau serviks dan apabila ditemukan segera di jahit.

Jika setelah plasenta dikeluarkan masih terjadi perdarahan karena atonia uteri maka dilakukan kompresi bimanual sambil mengambil tindakan lain untuk menghetikan perdarahan dan memperbaiki keadaan ibu bila perlu.

Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder.

Komplikasi

Kompikasi dalam pengeluaran plasenta secara manual selain infeksi / komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan, multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi organ dan sepsis, ialah apabila ditemukan plasenta akreta. Dalam hal ini villi korialis menembus desidua dan memasuki miometrium dan tergantung dari dalamnya tembusan itu dibedakan antara plasenta inakreta dan plasenta perkreta. Plasenta dalam hal ini tidak mudah untuk dilepaskan melainkan sepotong demi sepotong dan disertai dengan perdarahan. Jika disadari adanya plasenta akreta sebaiknya usaha untuk mengeluarkan plasenta dengan tangan dihentikan dan segera dilakukan histerektomi dan mengangkat pula sisa-sisa dalam uterus.

PROSEDUR KLINIK MANUAL PLASENTA

Persetujuan Tindakan Medik

Informed consent merupakan perstujuan dari pasien dan keluarga terhadap tindakan medic yang akan dilakukan terhadap dirinya oleh dokter/bidan. Persetujuan diberikan setelah pasien diberikan penjelasan yang lengkap dan objektif tentang diagnosis penyakit, upaya penyembuhan, tujuan dan pilihan tindakan yang akan dilakukan.

Persiapan Sebelum Tindakan

Pasien

Cairan dan selang infuse sudah terpasang. Perut bawah dan lipat paha sudah dibersihkan.

Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi

Siapkan kain alas bokong, sarrung kaki dan penutup perut bawah

Medikamentosa

Analgetika (Phetidin 1-2 mg/kg BB, Ketamin Hcl 0,5 mg/kg BBT, Tramadol 1-2 mg/kg BB)

Sedative (Diazepam 10 mg)

Atropine Sulfas 0,25-0,55 mg/ml

Uteretonika (Oksitosin,Ergometrin, Prostaglandin)

Cairan NaCl 0,9% dan RL

Infuse Set

Larutan Antiseptik (Povidon Iodin 10%)

Oksigen dengan regulator

Penolong

Baju kamar tindakan, pelapis plastic, masker dan kaca mata : 3 set

Sarung tangan DTT/steril : sebaiknya sarung tangan panjang

Alas kaki (sepatu boot karet) : 3 pasang

Instrument

1) Kocher: 2, Spuit 5 ml dan jarum suntik no 23G

2) Mangkok tempat plasenta : 1

3) Kateter karet dan urine bag : 1

4) Benang kromk 2/0 : 1 rol

5) Partus set

Pencegahan Infeksi Sebelum Tindakan

Sebelum melakukan tindakan sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun dan air yang mengalir untuk mencegah infeksi. Mengeringkan tangan dengan handuk bersih lalu pasang sarung tangan DTT/steril.

Tindakan Penetrasi Ke Kavum Uteri

Intruksikan asisten untuk memberikan sedatif dan analgetik melalui karet infuse.

Lakukan kateterisasi kandung kemih.

Pastikan kateter masuk kedalam kandung kemih dengan benar.

Cabut kateter setelah kandung kemih dikosongkan.

Jepit tali pusat dengan kocher kemudian tegakan tali pusat sejajar lantai.

Secara obstetric maukkan satu tangan (punggung tangan ke bawah) kedalam vagina dengan menelusuri tali pusat bagian bawah.

Setelah tangan mencapai pembukaan serviks, minta asisten untuk memegang kocher kemudian tangan lain penolong menahan fundus uteri.

Sambil menahan fundus uteri, masukan tangan ke dalam kavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta.

Buka tangan obstetric menjadi seperti memberi salam (ibu jari merapat ke pangkal jari telunjuk).

Melepas Plasenta dari Dindig Uterus

Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah

Bila berada di belakang, tali pusat tetap di sebelah atas. Bila dibagian depan, pindahkan tangan ke bagian depan tal pusat dengan punggung tangan menghadap ke atas.

Bila plasenta di bagian belakang, lepaskan plasenta dari tempat implantasinya dengan jalan menyelipkan ujung jari di antara plasenta dan dinding uterus, dengan punggung tangan mengahadap ke dinding dalam uterus.

Bila plasenta di bagian depan, lakukan hal yang sama (dinding tangan pada dinding kavun uteri) tetapi tali pusat berada di bawah telapak tangan kanan.

Kemudian gerakan tangan kanan ke kiri dan kanan sambil bergeser ke cranial sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan.

Catatan : Sambil melakukan tindakan, perhatikan keadaan ibu (pasien), lakukan penanganan yang sesuai bila terjadi penyuliit.

Mengeluarkan Plasenta

Sementara satu tangan masih berada di kavum uteri, lakukan eksplorasi ulangan untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding uterus.

Pindahkan tangan luar ke supra simfisis untuk menahan uterus pada saat plasenta dikeluarkan.

Instruksikan asisten yang memegang kocher untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam menarik plasenta ke luar (hindari percikan darah).

Letakan plasenta ke dalam tempat yang telah disediakan.

Lakukan sedikit pendorongan uterus (dengan tangan luar) ke dorsokranial setelah plasenta lahir.

v Perhatikan kontraksi uterus dan jumlah perdarahan yang keluar

Dekontaminasi Pasca Tindakan

Alat-alat yang digunakan untuk menolong di dekontaminasi, termasuk sarung tangan yang telah di guanakan penolong ke dalam larutan antiseptic

Cuci Tangan Pascatindakan

Mencuci kedua tangan setelah tindakan untuk mencegah infeksi.

Perawatan Pascatindakan

Periksa kembali tanda vital pasien, segera lakukan tindakan dan instruksi apabila masih diperlukan.

Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan d dalam kolom yang tersedia.

Buat instruksi pengobatan lanjutan dan hal-hal penting untuk dipantau.

Beritahukan pada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah seesai tetapi pasien masih memerlukan perawatan.

Jelaskan pada petugas tentang perawatan apa yang masih diperlukan, lama perawatan dan apa yang perlu dilaporkan.(Di Rumah Sakit)

PENUTUP

Kesimpulan

Manual plasenta adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri secara manual yaitu dengan melakukan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong persalinan yang dimasukkan langsung kedalam kavum uteri.

Indikasi pelepasan plasenta secara manual adalah pada keadaan perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc yang tidak dapat dihentikan dengan uterotonika dan masase, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir dan tali pusat putus. Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan dan dapat terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta disebabkan oeh gangguan kontraksi uterus.

Saran

Masyarakat Luas

Masyarakat maupun ibu-ibu dalam masa kehamilannya, dapat menjaga kesehatan selama hamil dengan maksimal, makan-makanan yang bergizi, konsumsi Fe dan istirahat yang cukup agar selama proses persalinan tidak terjadi kegawatan. Serta mampu memahami alasan dilakukannya manual plasenta apabila plasenta belum lahir > 30 menit setelah bayi lahir dan terjadi perdarahan agar dapat menyelamatkan pasien sesegera mungkin.

Petugas Kesehatan

Petugas kesehatan harus mengetahui sedini mungkin penyebab plasenta tidak lahir segera setelah bayi lahir, serta melakukan tindakan segera apabila pasien mengalami perdarahan kala III, dan merupakan indikasi untuk dilakukanya manual plasenta dan untuk menurunkan angka kematian ibu.

Sumber : koleksi Mediague.wordpress.com

dikumpulkan oleh RW.Hapsari

Wednesday, June 2, 2010

ASKEP Rawat Gabung ( Rooming In )


LATAR BELAKANG

UNICEF menyatakan, terdapat 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia setiap tahunnya. UNICEF menyebutkan bukti ilmiah terbaru, yang juga dikeluarkan oleh Journal Paediatrics ini, bahwa bayi yang diberikan susu formula memiliki kemungkinan untuk meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya. Dan peluang itu 25 kali lebih tinggi dibandingkan bayi yang disusui oleh ibunya secara eksklusif. Tingginya angka kematian bayi di Indonesia maupun di dunia sebenarnya dapat diminimalisir dengan salah satunya melakukan Rawat Gabung.

Infeksi pada bayi baru lahir merupakan penyakit yang sangat sulit untuk diobati. Angka kematian akibat infeksi di Indonesia yang tertinggi, khususnya infeksi pada neonatus masih merupakan masalah yang gawat. Di Jakarta, khususnya di RSCM infeksi nosokomial merupakan 10-15% dari morbiditas perinatal. Ada bermacam cara yang mampu kita upayakan untuk pencegahan infeksi pada bayi baru lahir, salah satunya dengan melakukan Rawat Gabung (rooming in), walaupun fungsi rawat gabung tidak terbatas pada pencegahan infeksi semata.
Rawat gabung merupakan satu cara perawatan di mana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya. Istilah rawat gabung parsial yang dulu banyak dianut, yaitu rawat gabung hanya dalam beberapa jam seharinya, misalnya hanya siang hari saja sementara pada malam hari bayi dirawat di kamar bayi, sekarang tidak dibenarkan dan tidak dipakai lagi.

Tujuan rawat gabung adalah agar Ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin kapan saja dibutuhkan, ibu dapat melihat dan memahami cara perawatan bayi yang benar seperti yang dilakukan oleh petugas, ibu mempunyai pengalaman dalam merawat bayinya sendiri selagi ibu masih di rumah sakit dan yang lebih penting lagi, Ibu memperoleh bekal keterampilan merawat bayi serta menjalankannya setelah pulang dari rumah sakit. Dalam perawatan gabung suami dan keluarga dapat dilibatkan secara aktif untuk mendukung dan membantu ibu dalam menyusui dan merawat bayinya secara baik dan benar, selain itu Ibu akan mendapatkan kehangatan emosional karena ibu dapat selalu kontak dengan buah hati yang sangat dicintainya, demikian pula sebaliknya bayi dengan ibunya.

Banyak RS yang menawarkan pilihan agar bayi dapat terus bersama ibunya selama 24 jam. Meskipun selama ini banyak RS yang masih menerapkan ruangan khusus untuk bayi, terpisah dari ibunya. Namun riset terakhir menunjukkan bahwa jika tidak ada masalah medis, tidak ada alasan untuk memisahkan ibu dari bayinya, meski hanya sesaat (Yamauchi and Yamanouchi 1990; Buranasin 1991; Oslislo and Kaminski 2000). Bahkan makin seringnya ibu melakukan kontak fisik langsung (skin-to-skin contact) dengan bayi akan membantu menstimulasi hormon prolaktin dalam memproduksi ASI (Hurst 1997). Karena itu pada tahun 2005, American Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan kebijakan agar ibu dapat terus bersama bayinya di ruangan yang sama dan mendorong ibu untuk segera menyusui bayinya kapanpun sang bayi menginginkannya (on demand). Semua kondisi tersebut akan membantu kelancaran dari produksi ASI.

Rooming in akan membantu memperlancar pemberian ASI. Karena dalam tubuh
ibu menyusui ada hormon oksitosin. Hormon ini sangat berpengaruh pada keadaan emosi ibu. Jika Ibu tenang dan bahagia karena dapat mendekap bayinya, maka hormon ini akan meningkat dan ASI pun cepat keluar. Sehingga bayi lebih puas mendapatkan ASI . Manfaat lain dari perawatan rooming in bagi bayi akan lebih cepat menyesuaikan dengan waktu tidur dan bangun dengan ibu. Selain itu jika bayi menangis akan langsung didekap ibu sehingga bayi akan tenang mendengarkan detak jantung ibu. Bagi Ibu, perawatan rooming in akan memperkecil resiko mengalami depresi pasca melahirkan, karena ibu merasakan daya tarik tersendiri terhadap bayinya dan membuat rasa sayang kepadanya.


Tujuan
Untuk mengetahui pentingnya rooming in dalam perawatan ibu dan anak.

Rumusan Masalah
apakah yang dimaksud dengan rooming in?
Apa tujuan dan manfaat rooming in bagi ibu dan anak?

Batasan Masalah
Dalam pembuatan makalah ini kami membatasi pada pokok bahasan rooming in

Manfaat
Untuk menambah wawasan khusus mahasiswa tentang rooming in



1. PENGERTIAN
Rawat gabung adalah suatu system perawatan ibu dan anak bersama-sama pada tempat yang berdekatan sehingga memungkinkan sewaktu-waktu, setiap saat ibu dapat menyusui anaknya.
Rawat gabung adalah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh seharinya.

Ada dua jenis rawat gabung :
A. RG kontinu : bayi tetap berada disamping ibu selama 24 jam
B. RG parsial : ibu dan bayi bersama - sama hanya dalam beberapa jam seharinya Misalnya pagi bersama ibu sementara malam hari dirawat di kamar bayi.
Rawat gabung parsial saat ini tidak dibenarkan dan tidak dipakai lagi.

2. TUJUAN RAWAT GABUNG
A. Memberikan bantuan emosional
1. Ibu dapat memberikan kasi sayang sepenuhnya kepada bayi
2.Memberikan kesempatan kepada ibu dan keluarga untuk mendapatkan pengalaman dalam merawat bayi

B. Penggunaan ASI
1. Agar bayi dapat sesegera mungkin mendapatkan kolostrum/ASI
2. Produksi ASI akan makin cepat dan banyak jika diberikan sesering mungkin
C. Pencegahan infeksi
mencegah terjadinya infeksi silang
D. Pendidikan kesehatan
Dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan kesehatan pada ibu
E. Memberikan stimulasi mental dini tumbuh kembang pada bayi

4. MANFAAT RAWAT GABUNG
A. Bagi ibu
1. Aspek psikologi
2. Aspek fisik
a. Involusi uteri akan terjadi dengan baik karena dengan menyusui akan terjadi kontraksi rahim yang baik
b. Ibu dapat merawat sendiri bayinya sehingga dapat mempercepat mobilisasi

A. Bagi bayi

1. Aspek psikologi
a. Sentuhan badan antara ibu dan bayi akan berpengaruh terhadap perkembangan pskologi bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi.
b. Bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung, dan ini merupakan dasar bagi terbentuknya rasa percaya pada diri anak

2. Aspek fisik
a. Bayi segera mendapatkan colostrum atau ASI jolong yang dapat memberikan kekebalan/antibodi
b. Bayi segera mendapatkan makanan sesuai pertumbuhannya
c. Kemungkinan terjadi infeksi nosokomial kecil
d. Bahaya aspirasi akibat susu botol dapat berkurang
e. Penyakit sariawan pada bayi dapat dihindari/dikurangi
f. Alergi terhadap susu buatan berkurang

c. Bagi keluarga
1. Aspek psikologi
Rawat gabung memberikan peluang bagi keluarga untuk memberikan support pada ibu untuk memberikan ASI pada bayi

2. Aspek ekonomi
Lama perawatan lebih pendek karena ibu cepat pulih kembali dan bayi tidak menjadi sakit sehingga biaya perawatan sedikit.

d. Bagi petugas
1. Aspek psikologi
Bayi jarang menangis sehingga petugas di ruang perawatan tenang dan dapat melakukan pekerjaan lainnya.
2. Aspek fisik
Pekerjaan petugas akan berkurang karena sebagian besar tugasnya diambil oleh ibu dan tidak perlu repot menyediakan dan memberikan susu buatan

4 PELAKSANAAN
A. Di poliklinik kebidanan
a. Penyuluhan tentang ASI
b. Memutar film
c. Melayani konsultasi masalah ibu dan anak

B. Kamar persiapan
a. Jika rumah sakit telah berfungsi sebagai RS sayang ibu, maka hampir semua ibu yang masuk kamar bersalin sudah mendapat penyuluhan manajemen laktasi sejak mereka berada di poliklinik.
b. Kamar ini dipersiapkan bagi ibu yang tidak pernah melakukan ANC di RS dimana ia akan bersalin. Di dalam ruangan persiapan diperlukan gambar, poster, brosur dsb untuk membantu memberikan konseling ASI. Di ruangan ini tidak boleh terdapat botol susu, dot atau kempengan apalagi iklan susu formula yang semuanya akan mengganggu keberhasilan ibu menyusui.

C. Kamar Persalinan
a. Di ruangan ini dapat dipasang gambar, poster tentang menyusui yang baik dan benar. Serta menyusui segera setelah lahir.
b. Dalam waktu 30 menit setelah lahir bayi segera disusukan. Rangsangan pada puting susu akan merangsang hormon prolaktin dan oksitosin untuk segera memproduksi ASI

D. Kamar perawatan
a. Bayi diletakkan dekat dengan ibunya
b. Awasi KU dan kenali keadaan-keadaan yang tidak normal
c. Ibu dibantu untuk dapat menyusui dengan baik dan cara merawat payudara
d. Mencatat keadaan bayi sehari-hari
e. KIE tentang perawatan tali pusat, perawatan bayi, perawatan payudara, cara memandikan bayi, immunisasi dan penanggulangan diare
f. Jika bayi sakit pindahkan ke ruang khusus

5. SASARAN DAN SYARAT
a. Bayi lahir dengan spontan , baik presentasi kepala atau bokong
b. Jika bayi lahir dengan tindakan maka rawat gabung dapat dilakukan setelah bayi cukup sehat, reflek hisap baik, tidak ada tanda-tanda infeksi dsb
c. Bayi yang lahir dengan Sectio Cesarea dengan anestesi umum, RG dilakukan segera stelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk)misalnya 4-6 jam setelah operasi.
d. Bayi tidak asfiksia setelah 5 menit pertama (nilai apgar minimal 7)
e. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih
f. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih
g. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum
h. Bayi dan ibu sehat

6. KONTRA INDIKASI
Rawat gabung tidak dianjurkan pada keadaan :
b. Pasca eklamsi
c. Penyakit infeksi akut, TBC
d. Hepatitis, terinfeksi HIV, sitimegalovirus, herpes simplek
e. Karsinoma payudara

B. Bayi
a. Bayi kejang
b. Sakit berat pada jantung
c. Bayi yang memerlukan pengawasan intensif
d. Catat bawaan sehingga tidak mampu menyusu

7. PERSYRARATAN RAWAT GABUNG YANG IDEAL

A. Bayi
a. Ranjang bayi tersendiri yang mudah terjangkau dan dilihat oleh ibu
b. Bagi yang memerlukan tersedia rak bayi
c. Ukuran tempat tidur anak 40 x 60 cm

B. Ibu
a. Ukuran tempat tidur 90 x 200 cm
b. Tinggi 90 cm
C. Ruang
a. Ukuran ruang untuk satu tempat tidur 1,5 x 3 m
b. Ruang dekat dengan ruang petugas (bagi yang masih memerlukan perawatan)
D. Sarana
a. Lemari pakaian
b. Tempat mandi bayi dan perlengkapannya
c. Tempat cuci tangan ibu
d. Setiap kamar mempunyai kamar mandi ibu sendiri
e. Ada sarana penghubung
f. Petunjuk/sarana perawatan payudara, bayi dan nifas, pemberian makanan pada bayi dengan bahasa yang sederhana
g. Perlengkapan perawatan bayi

E. Petugas
a. Rasio petugas dengan pasien 1 : 6
b. Mempunyai kemampuan dan ketrampilan dalam pelaksanaan RG

7. MODEL PENGATURAN RUANGAN RAWAT GABUNG
a. satu kamar dengan satu ibu dan anaknya
b. empat sampai lima orang ibu dalam 1 kamar dengan bayi pada kamar yang lain
bersebelahan dan bayi dapat diambil tanpa ibu harus meninggalkan tempat tidurnya
c. beberapa ibu dalam 1 kamar dan bayi dipisahkan dalam 1 ruangan kaca yang kedap
udara
d. model dimana ibu dan bayi tidur di atas tempat tidur yang sama
e. bayi di tempat tidur yang letaknya disamping ibu

9. KEUNTUNGAN & KERUGIAN

A. Keuntungan

a. Menggalakkan penggunaan ASI
b. Kontak emosi ibu dan bayi lebih dini dan lebih erat
c. Ibu segera dapat melaporkan keadaan-keadaanbayi yang aneh
d. Ibu dapat belajar merawat bayi
e. Mengurangi ketergantungan ibu pada bidan
f. Membangkitkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam merawat bayi
g. Berkurangnya infeksi silang
h. Mengurangi beban perawatan terutama dalam pengawasan

B. Kerugian
a.ibu kurang istirahat
b. Dapat terjadi kesalahan dalam pemberian makanan karena pengaruh orang lain
c. Bayi bisa mendapatkan infeksi dari pengunjung
d. Pada pelaksanaan ada hambatan tekhnis/fasilitas

Friday, May 21, 2010

ASKEP BAYI DENGAN INFEKSI HERPES DAN VARICELLA ZOOSTER


Oleh
Diyan Indriyani, M.Kep., Sp.Mat
Konsep Dasar
Herpes zoster adl peradangan pd kulit dan mukosa yg disebabkan oleh virus varicella zoster
Etiologi : terjadi krn rektivasi dari virus varicella zoster
Frekuensi meningkat pd bayi yg memiliki imunitas lemah.

Cara penularan : kontak langsung dg lesi aktif, sekresi pernapasan.
Manifestasi klinik : gejala prodromal (80%) rewel (krn nyeri, demam), kelainan kulit : lesi eritema papula dan vesikula bula, isi lesi jernih keruh dan dpt bercampur darah, lokasi bisa disemua tempat, paling sering unilateral pd servikal IV dan lumbal II.

Pemeriksaan penunjang : tzanck’s smear dan punch biopsi : adanya sel raksasa berinti banyak dan sel epitel mengandung badan inklusi eosinofilik
Isolasi virus : cairan vesikel, darah cairan cerebrospinal, jaringan terinfeksi.
Komplikasi : jaringan cikatrik, neuralgi pascaherpetik

Penatalaksanaan : dukung kenyamanan bayi, analgetik, asiklovir selama 7 hari, paling lambat 72 jam setelah lesi muncul. Dosis asiklovir 10 mg/KgBB/hr scr IV setiap 8 jam selama sekurang-kurangnya 14 hr.
Mata, rongga mulut dan kulit bbl diperiksa cermat utk deteksi lesi.
Spesimen kultur diambil di mata, mulut dan lesi.
Sirkumsisi ditunda samapai by siap diplgkan
Bayi pulang bila kultur thd virus negatif
Bayi yg berisiko, berikan salep profilaksis mata topikal (viradabin) mencegah keratokonjungtivitis

Tindakan keperawatan :
Berikan dan Kaji efektifitas terapi
Kompres dingin, gunakan antipruritus dingin
Jaga agar vesikel tdk pecah, dengan pemberian bedak salisil 2%
Informasikan pd keluarga tentang cara penularan dan pencegahan
Informasikan pd keluarga ttg pencegahan infeksi sekunder
Berikan pd kelg support emosional ttg intervensi yg berkelanjutan

Varicella :
Adalah infeksi akut primer oleh virus varicella zoster yg menyerang kulit dan mukosa yg ditandai oleh demam mendadak, malaise, erupsi kulitberupa makulopapular bbrp jam yg kemudian berubah mjd vesikel selam 3-4 hr dan dpt meninggalkan keropang.

Virus varicella zooster bila Infeksi primer menyebabkan penyakit varicella, sdgkan reaktivasi (kambuh setelah sembuh dari varicella) menyebabkan herpes zoster.
Epidemiologi : masa penularan sekitar 7 hr dihitung dr timbulnya gejala kulit.

Mortalitas/morbiditas
Angka kesakitan krn penyebaran virus dlm darah, infeksi otak dan selaputnya.
Pd bumil infeksi varicella usia gestasi 20 mgg dpt menyebabkan kelainan kongenital pd bayi termasuk atrofi anggota gerak, abnormalitas saraf dan mata juga retardasi mental.
Bayi yg lahir dg ibu varicella bbrp hr sblm inpartu atau 2 hr postnatal : menimbulkan disseminated varicella neonatorum.

Manifestasi klinik :
Bayi demam, lemah, muntah, rewel (krn nyeri), lesi kulit yg berbentuk bentolan air, biasanya berawal dr badan dan menyebar ke luar (muka, kepala, anggota gerak), lesi juga bisa ditenggorokan.

Pemeriksaan fisik
Terdpt lesi kulit yg has : lesi berupa air bentuk oval dengan kemerahan pd kulit bagian dasarnya, timbul pd tubuh dan wajah, dg diawali bentolan merah, selama 12-14 hari mjd besar, berair,berisi nanah dan kering. Lesi biasanya pd sentral tubuh atau anggota gerak bagian proksimal (lengan paha) dan menyebar ke bwh tp tdk banyak.
Suhu tbh meningkat sampai 39,5 derajat C selam 3-6 hr stlh terbentuk lesi
Benjolan dpt berdarah
Penyebaran ke kulit lainnya dpt berupa pengaktifan kembali
Bayi biasanya rewel krn nyeri
Pemeriksaan pd organ lain bila mungkin terjadi komplikasi.

Penatalaksanaan:
Isolasi
Obat2an mengurangi simptomatik
Obat antivirus : acyclovir
Pemberian varizella zoster immuno globullin (VZIG) diberikan kurang dr 96 jam stl terpapar, yaitu : bumil, bbl dg ibu tertular varizella dlm 5 hr sblm melahirkan atau 48 jam stlh melahirkan
Bayi prematur 28 minggu/lbh dg ortu tanpa riwayat cacar sblmnya.
Asuhan keperawatan

Pengkajian :
  • Anamnesa
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan diagnostik

Diagnosa keperawatan :
Hipertermi yg b.d proses inflamasi sekunder thd perjalanan penyakit.
Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yg b.d bayi malas minum
Gangguan rasa nyaman (rewel) yg b.d efek invasi virus dlm sistem persyarafan
Kerusakan integritas kulit yg b.d lesi vesikel, pustula
Risiko perluasan dan penyebaran infeksi yg b.d kurangnya pengetahuan keluarga ttg risiko penularan dan cara pencegahannya

Kerusakan integritas kulit :
Mandikan bayi scr teratur.
Hindarkan bayi thd perluasan kerusakan kulit dg cara memberikan sarung tangan bayi, memotong kuku bayi.
Berikan bayi pakaian yg halus dan lembut
Pertahankan suhu ruangan tetap sejuk dg kelembaban yg adekuat
Berikan bedak antipruritus.

Risiko penyebaran dan perluasan infeksi :
Lakukan isolasi.

Prosedur strict isolation :
  1. Ruangan tersendiri, pintu selalu tertutup
  2. Gunakan masker, pakaian khusus dan sarung tangan bagi semua org yg masuk dlm ruangan
  3. Selalu cuci tangan sblm dan sesudah prosedur.
Pendidikan kesehatan
Berikan minum yg banyak.
Kuku bayi pendek dan gunakan sarung tangan bayi agar tidak melukai lesi dan kulit yg utuh
Penggunaan obat antipruritus secukupnya.
Keluarga hrs segera membawa bbl ke rs bila ditemukan tanda-tanda lesi herpes maupun varicella

Askep bayi baru lahir terinfeksi HIV



Oleh
Diyan Indriyani, M.Kep., Sp.Mat

Misteri AIDS
Semua Orang Bisa Terkena AIDS
Belum Ada Vaksin Pencegahannya Belum Ada Obatnya Penyebaranya Sangat Cepat
Pengetahuan tentang AIDS adalah langkah pertama untuk pencegahan penyebaran AIDS lebih meluas

Apa penyebab AIDS
Perkembangan AIDS tahun 2002
Setiap hari kasus bertambah kira-kira 8.500 kasus
Bayi yang lahir dengan HIV + lebih dari 400.000 bayi
Untuk orang dewasa bertambah kira-kira 7.000 kasus tiap hari
Sampai akhir tahun ada 28,7 juta kasus

Perkembangan AIDS di Indonesia
Pertama kali kasus ditemukan tahun 1987
Perkembangan tajam mulai tahun 1993
Jumlah kasus sampai bulan Juni 2003 mencapai 3647 kasus
60% kasus adalah usia produktif bangsa

Penularan HIV
HIV Dalam jumlah yang bisa menularkan ada di
CAIRAN SPERMA
CAIRAN VAGINA
DARAH
AIR SUSU IBU

Kegiatan yang menularkan:
Hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang terinfeksi HIV
Transfusi darah yang tercemar HIV
Mengunakan jarum suntik, tindik, tatto bersama-sama dengan penderita HIV dan tidak disterilkan
Dari Ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada janin yang di kandungnya


Fase dan gejala AIDS
Fase 1 (0 – 5 Tahun terinfeksi)
Tanpa Gejala (asimtomatik)
FASE II (5-7 TAHUN TEINFEKSI)
Muncul Gejala Minor:
Hilang selera makan, tubuh lemah, keringat berlebihan di malam hari, pembengkakan kelenjar getah bening, diare terus menerus, flu tidak sembuh-sembuh
FASE III (7 TAHUN ATAU LEBIH)
Masuk penyakit AIDS:
Kekebalan tubuh sudah sangat sedikit dan muncul infeksi oportunistik: TBC, Radang Paru, Gangguan Syaraf, Kaposi Sarkoma (kanker Kulit)

AIDS tidak menular lewat
Bersentuhan, senggolan, salaman, berpelukan, berciuman dengan penderita AIDS
Mengunakan peralatan makan bersama-sama dengan penderita AIDS
Gigitan nyamuk
Terkena keringat, air mata, ludah penderita AIDS
Berenang bersama-sama dengan penderita AIDS
Mengurangi Resiko Penularan

Bagi yang belum aktif melakukan kegiatan seksual: tidak melakukan hubungan seks sama sekali
Bagi yang sudah aktif melakukan kegiatan seksual: melakukan seks mitra tunggal, mengurangi mitra seks, menggunakan kondom, segera mengobati PMS kalau ada
Hanya melakukan transfusi darah yang bebas HIV
Mensterilkan alat-alat yang dapat menularkan: jarum suntik, tindik, tatto dll
Ibu yang terinfeksi HIV perlu mempertimbangkan lagi untuk tdk hamil

Apa yang bisa kita lakukan
Menerapkan informasi pada diri sendiri
Berperilaku bertanggung jawab
Menyebarkan informasi tentang AIDS kepada orang lain
Mendukung kegiatan pencegahan AIDS di lingkungannya

Tes HIV perlukah?
Konseling dan Tes HIV
HIV/AIDS
Merupakan kumpulan gejala yang merusak kekebalan tubuh manusia
Perkembangannya sangat cepat sekali terutama di negara berkembang
Melakukan tes HIV merupakan satu-satunya cara untuk mengetahuinya
Tidak gejala yang khas untuk mengetahuinya

Jenis Tes
Mendeteksi antibodi
Antibodi HIV diproduksi begitu menginfeksi oleh tubuh
Tes Elisa, tes sederhana/cepat dan tes konfirmasi
Mendeteksi virusnya

Prinsip
Sukarela
Tidak boleh ada tekanan oleh sebab apapun
Rahasia
Hasilnya hanya diketahui oleh yang tes dan konselor
Keputusan di tangan klien
Semua keputusan baik sebelum dan sesudah tes merupakan keputusan klien

Program yang Menyertai

Konseling sebelum dan setelah
Informed consent (persetujuan)
Kerahasiaan
Supervisi dan kontrol kualitas tes
Kegiatan untuk perawatan dan pendukung untuk ODHA (orang dengan HIV/AIDS)
HIV dan AIDS...
HIV: Human Immunodeficiency Virus, adalah virus menyerang dan bertahap merusak sistem immunitas badan dan berkembang menjadi AIDS.

AIDS: Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan tanda atau gejala berat dan kompleks yang disebabkan oleh penurunan respon immunitas tubuh.

“HIV tidak sama dengan AIDS”
Tahapan infeksi HIV
Tahap Serokonversi : infeksi awal, belum ada antibodi
Tahap Asimtomatik : belum ada gejala yang dirasakan
Tahap Simtomatik : Mulai merasakan gejala : Infeksi Oportunistik
Tahap AIDS

Perjalanan Infeksi HIV dan Komplikasi Umum


Pathway
Fase I
Virus HIV - sel dendrit - kelj getah bening - jaringan limfoid - virema dan sindroma HIV akut - keseluruh tubuh - respon imun adaptif - virema berkurang
Pathway
Fase II
Replikasi HIV & destruksi sel - penghancuran sel T CD4+ - fase kronik progresif.
Pathway
Fase III
Infeksi - respon imun - peningkatan produksi HIV - AIDs - destruksi seluruh jaringan limfoid perifer, penurunan jml sel T CD4 - virema HIV meningkat - infeksi opportunistik, neoplasma, gagal ginjal, degenari SSP

Prinsip penularan HIV
Prinsip Three Ones

  1. Ada orang yang positif HIV
  2. Ada kegiatan yang memungkinkan terjadinya pertukaran cairan tubuh
  3. Ada orang yang belum terinfeksi atau orang yang juga sudah terinfeksi HIV

Bagaimana HIV ditularkan?
  • Kegiatan Seksual tertentu
  • Kontak Darah
  • Kehamilan, kelahiran dan pemberian air susu ibu
  • Faktor terkait dengan penularan dari Ibu ke bayi
  • Jumlah virus dari Ibu yang positif
  • Tahapan HIV dari Ibu yang bersangkutan
  • Pemberian ASI
  • Kelahiran melalui vagina
  • Penularan HIV dari ibu ke bayi
  • Melalui plasenta pd berbagai usia kehamilan.
  • Masa intranatal melalui darah dan sekresi ibu.
  • Masa pascanatal melalui ASI, cairan tubuh ibu
Prevalensi
Kemungkinan 50%-60% pd bayi lahir dg ibu HIV.
Penularan bisa 20%-35%

HIV dapat dicegah melalui
  1. Menggunakan kondom untuk seks yang penetratif
  2. Tidak berbagi jarum suntik dan perlengkapan menyuntik
  3. Perawatan HIV bagi ibu yang positif, mengganti ASI dengan susu formula jika memungkinkan.
  4. Menapis darah dan produk darah

Pencegahan HIV dari ibu ke bayi dengan cara :
Perode antenatal : penggunaan antiretroviral selama kehamilan, agar vital load rendah shg jml virus yg ada dlm darah dan cairan tbh kurang efektif utk menularkan HIV
Saat melahirkan : penggunaan ARV saat persalinan dan BBL, persalinan sebaiknya SC (terbukti mengurangi risiko penularan 80%)
Setelah persalinan : informasi yg lengkap pd ibu ttg risiko ASI.

  • Wanita hamil dg HIV akan memproduksi antibodi IgG
  • IgG menembus plasenta ke janin
  • Darah tali pusat memberi hsl positif saat test ELISA (enzime linked immunosorbent assay)/western blot

Depresi fisiologis

BBL memproduksi respon antibodi yg tdk terlalu aktif
Lebih terbatas thd infeksi HIV
Bayi lahir dg ibu HIV seropositif : memiliki antibodiHIV saat lahir.
Bayi tdk terinfeksi akan kehilangan antibodi maternal sekitar 8-15 bl.
Sebagian besar bayi terinfeksi : mengembangkan antibodi mereka sendiri dan tetap seporopositif


Bayi yang memperlihatkan tanda2 infeksi saat lahir cenderung meninggal dlm satu bulan.

Penatalaksanaan
Meningkatkan kewaspadaan universal
Kewaspadaan utk membatasi prosedur invasif
Sirkumsisi pd anak laki2 dihindarkan saat lahir
Ujung tali pusat dibersihkan dg cermat tiap hr sampai pulih.
Terapi gamma globulin utk profilaksis
Medikasi antimikroba yg spesifik utk infeksi
Kortikosteroid jika terdpt pneumonitis interstisial limfoid.

Penatalaksanaan
Asuhan ibu : ikuti panduan Center for Disease Control (CDC) utk profilaksis antiretrovirus gestasional.

Asuhan keperawatan
Pengkajian bayi baru lahir berisiko :
Anamnesa : tanyakan faktor risiko (ibu dengan HIV positif dan hal-hal yg terkait)
Pemeriksaan fisik :
Sistem integumen :
Apakah bayi mengalami sianosis, mottling, pucat, terdpt lesi, ruam, insisi, kulit maserasi, edema, terdpt akses intravena

Sistem neurologi :apakah fontanel anterior cekung atau menonjol, terdpt bengkak pd kulit kepala, rentang gerak sendi terbatas, apakah tangisan lemah, letargi, bagaiman bayi berespon thd stimulus saat dipegang
Sistem pernapasan : apakah terdpt gerakan dinding dada yg tdk sama, suara nafas yg tdk sama, bunyi rales, ronkhi, wheezing, napas cuping hidung, apakah frekuensi napas diluar parameter normal.

Sistem cardiovaskuler : apakah ada ritme yg abnormal, nadi perifer yg tdk sama, CRT memanjang, apakah ht terlalu tinggi.
Sistem pencernaan : apakah abdomen distensi, apakah umbilikus meradang atau berair, apakah bising usus hipoaktif, hiperaktif atau tdk terdengar, diare
Sistem perkemihan : apakah bj urine rendah atau tinggi, apakah haluaran urine kurang dr 2 ml/kgBB/jam, apakah terdpt residu yg berlebihan.

Bayi baru lahir dengan HIV belum menunjukkan gejala yg khas, tapi pd perkembangannya akan memiliki gejala umum :
  • Gangguan tumbang
  • Kandidiasis oral
  • Diare kronis
  • Hepatosplenomegali
  • Hal yg mrpk pedoman diagnosis adalah melalui pemeriksaan diagnostik.

Diagnosa keperawatan
Risiko infeksi yg b.d peningkatan kerentanan sekuder terhadap perlemahan sistem imun.
Perubahan nutrisi kurang dr kebutuhan tbh yg b.d dg gangguan pencernaan
Kelemahan yg b.d defisiensi nutrisi
Ansietas (orgtua) yg b.d status bayi sakit

Rencana tindakan
Risti infeksi :
Tujuan : ibu dpt mengidentifikasi risiko infeksi, dpt memonitor faktor risiko yg ada disekitarnya, menunjukkan kemampuan utk mencegah terjadinya infeksi
Rencana tindakan :
  • Berikan informasi risiko infeksi apa saja yg dpt muncul
  • Ajarkan lifestyle yg sehat.
  • Lakukan universal precaution yg tepat saat prosedur tindakan

Nutrisi kurang :
Tujuan : nutrisi tubuh tercukupi sesuai usia bayi.
Rencana tindakan :
  • Informasikan pentingnya nutrisi yg adekuat utk bayi
  • Anjurkan utk menggantikan ASI dengan susu formula.

Thursday, May 13, 2010

Askep Solusio Plasenta

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.

Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.

Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.

Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang relatif umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu. Seorang ibu yang pernah mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami kekambuhan pada kehamilan berikutnya. Solusio plasenta juga cenderung menjadikan morbiditas dan bahkan mortabilitas pada janin dan bayi baru lahir.

1.2 Batasan Masalah

Makalah yang kami buat ini dibatasi pada hal-hal yang mngenai solusio plasenta. Tentang definisi solusio plasenta, etiologi, patofisiologi, klasifikasi solusio plasenta, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, prognosis, asuhan keperawatan pada solusio plasenta.

1.3 RUMUSAN MASALAH

a. Apa definisi solusio plasenta ?

b. Apa etiologi solusio plasenta?

c. Bagaimana patofisiologi dari solusio plasenta ?

d. Apa saja klasifikasi dari solusio plasenta ?

f. Apa saja manifestasi klinis dari solusio plasenta ?

g. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk pasien dengan solusio plasenta ?

h. Apa saja klasifikasi dari solusio plasenta ?

i. Apa prognosis dari solusio plasenta ?

j. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta ?

1.4 Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini yaitu :

1. Untuk mengetahui definisi solusio plasenta.

2. Untuk mengetahui etiologi dari solusio plasenta.

3. Untuk mengetahui patofisiologi dan solusio plasenta.

4. Untuk mengetahui kalsifikasi dari solusio plasenta.

5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari solusio plasenta.

6. Untuk mengetahui pemeriksaan pemnunjang untuk solusio plasenta.

7. Untuk mengetahui komplikasi dari solusio plasenta.

8. Untuk mengetahui prognosis dari solusio plasenta.

9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta.

1.5 Manfaat

Manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu memberikan sidikit informasi kepada mahasiswa tentang solusio plasenta sampai asuhan keperawatan pasien dengan solusio plasenta.

BAB 2

ISI

2.1 Definisi

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum janin lahir, dengan masa kehamilan 22 minggu / berat janin di atas 500 gr.

2.2 Etiologi

Etiologi dari solusio belum diketahui secara pasti. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik, trauma eksternal, tali pusat pendek, defisiensi gizi, merokok, konsumsi alkohol, penyalah gunaan kokain, umur ibu yang tua.

2.3 Patofisiologi

Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.

Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban.

Pohon masalah

Trauma

Perdarahan ke dalam desidualbasalis

Terbelah & meninggal lapisan tipis pada miometrium

Terbentuk hematoma desidual

Penghancuran plasenta

Ruptur pembuluh arteri spinalis desidua

Hematoma retroplasenta

Pelepasan plasenta lebih banyak

Uterus tidak mampu berkontraksi optimal

Darah mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban

Syok hipovolemik

2.4 Klasifikasi

2.4.1 Menurut derajat lepasnya plasenta

2.4.1.1 Solusio plasenta partsialis

Bila hanya sebagaian plasenta terlepas dari tepat pelekatnya.

2.4.1.2 Solusio plasenta totalis

Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat pelekatnya.

2.4.1.3 Prolapsus plasenta

Bila plasenta turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan dalam.

2.4.2 Menurut derajat solusio plasenta dibagi menjadi :

2.4.2.1 Solusio plasenta ringan

Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit. Perut terasa agk sakit atau terus menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah diraba.

2.4.2.2 Solusio plasenta sedang

Plasenta telah terlepas lebih dari seperempat tanda dan gejala dapat timbul perlahan atau mendadak dengan gejala sakit terus menerus lalu perdarahan pervaginan. Dinding uterus teraba tegang.

2.4.2.3 Solusio plasenta berat

Plasenta telah lepas dari dua pertiga permukaan disertai penderita shock.

2.5 Manifestasi Klinis

2.5.1 Anamnesis

Perdarahan biasanya pada trimester ketiga, perdarahan pervaginan berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang perdarahan pervaginan yang banyak, syok dan kematian janin intra uterin.

2.5.2 Pemeriksaan fisik

Tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok.

2.5.3 Pemeriksaan obstetri

Nyeritekan uterus dan tegang, bagian-bagian janin yang sukar dinilai, denyut jantung janin sulit dinilai / tidak ada, air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah.

2.6 Pemeriksaan Penunjang

2.6.1 Pemeriksaan laboratorium darah : hemoglobin, hemotokrit, trombosit, waktu protombin, waktu pembekuan, waktu tromboplastin, parsial, kadar fibrinogen, dan elektrolit plasma.

2.6.2 Cardiotokografi untuk menilai kesejahteraan janin.

2.6.3 USG untuk menilai letak plasenta, usia gestasi dan keadaan janin.

2.7 Komplikasi

2.7.1 Langsung (immediate)

2.7.1.1 perdarahan

2.7.1.2 infeksi

2.7.1.3 emboli dan syok abtetric.

2.7.2 Tidak langsung (delayed)

2.7.2.1 couvelair uterus, sehinga kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan post partum.

2.7.2.2 hipofibrinogenamia dengan perdarahan post partum.

2.7.2.3 nikrosis korteks neralis, menyebabkan anuria dan uremia

2.7.2.4 kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofisis.

2.7.3 Tergantung luas plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung. Komplikasi pada ibu ialah perdarahan, koalugopati konsumtif (kadar fibrinogen kurang dari 150 mg % dan produk degradasi fibrin meningkat), oliguria, gagal ginjal, gawat janin, kelemahan janin dan apopleksia utero plasenta (uterus couvelar). Bila janin dapat diselamatkan, dapat terjadi komplikasi asfiksia, berat badan lahir rendah da sindrom gagal nafas.

2.8 Penatalaksanaan

2.8.1 Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi .

2.8.2 Sebelum dirujuk , anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri , tidak melakukan senggama , menghindari eningkatan tekanan rongga perut .

2.8.3 Pasang infus cairan Nacl fisiologi . Bila tidak memungkinkan . berikan cairan peroral .

2.8.4 Pantau tekanan darah & frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi / syk akibat perdarahan . pantau pula BJJ & pergerakan janin .

2.8.5 Bila terdapat renjatan , segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah , bila tidak teratasi , upayakan penyelamatan optimal . bila teratsi perhatikan keadaan janin .

2.8.6 Setelah renjatan diatasi pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama . bila renjatan tidak dapat diatasi , upayakan tindakan penyelamatan optimal .

2.8.7 Setelah syk teratasi dan janin mati , lihat pembukaan . bila lebih dari 6 cm pecahkan ketuban lalu infus oksitosin . bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea .

2.8.8 Bila tidak terdapat renjatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu / taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr . penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu :

a) Solusi plasenta ringan .

· Ekspektatif , bila ada perbaikan ( perdarahan berhenti , kontraksi uterus tidak ada , janin hidup ) dengan tirah baring atasi anemia , USG & KTG serial , lalu tunggu persalinan spontan .

· Aktif , bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus , uterus berkontraksi , dapat mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam dengan amnintomi / infus oksitosin bila memungkinan . jika terus perdarahan skor pelvik kurang dari 5 / ersalinan masih lama , lakukan seksi sesarea .

b) Slusio plasenta sedang / berat .

· Resusitasi cairan .

· Atasi anemia dengan pemberian tranfusi darah .

· Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam bila tidak dapat renjatan , usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin 2.500 gr / lebih , pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama .

2.9 Prognosis

2.9.1 Terhadap ibu

Mortalitas ibu 5 – 10 % hal ini karena adanya perdarahan sebelum dan sesudah partus.

2.9.2 Terhadap anak

Mortalitas anak tinggi mencapai 70 – 80 % hal ini tergantung derajat pelepasan dari plasenta.

2.9.3 Terhadap kehamilan berikutnya

Biasanya bila telah menderita penyakit vaskuler dengan solusio plasenta, maka kehamilan berikutnya sering terjadi solusio plasenta yang lebih hebat.

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

SOLUSIO PLACENTA

3.1 Pengkajian

a. Biodata

Pada biodata yang perlu dikaji berhubungan dengan solusio plasenta antara lain

à Nama

Nama dikaji karena nama digunakan untuk mengenal dan merupakan identitas untuk membedakan dengan pasien lain dan menghindari kemungkinan tertukar nama dan diagnosa penyakitnya.

à Jenis kelamin

Pada solusio plasenta diderita oleh wanita yang sudah menikah dan mengalami kehamilan.

à Umur

Solusio plasenta cenderung terjadi pada usia lanjut (> 45 tahun) karena terjadi penurunan kontraksi akibat menurunnya fungsi hormon (estrogen) pada masa menopause.

à Pendidikan

Solusio plasenta terjadi pada golongan pendidikan rendah karena mereka tidak mengetahui cara perawatan kehamilan dan penyebab gangguan kehamilan.

à Alamat

Solusio plasenta terjadi di lingkungan yang jauh dan pelayanan kesehatan, karena mereka tidak pernah dapat pelayanan kesehatan dan pemeriksaan untuk kehamilan.

à Riwayat persalinan

Riwayat persalinan pada solusio plasenta biasanya pernah mengalami pelepasan plasenta.

à Status perkawinan

Dengan status perkawinan apakah pasien mengalami kehamilan (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan.


à Agama

Untuk mengetahui gambaran dan spiritual pasien sebagai memudahkan dalam memberikan bimbingan kegamaan.

à Nama suami

Agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan memberi persetujuan dalam perawatan.

à Pekerjaan

Untuk mengetahui kemampuan ekonomi pasien dalam pembinaan selama istrinya dirawat.

b. Keluhan utama

o Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri

o Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang.

o Perdarahan yang berulang-ulang.

c. Riwayat penyakit sekarang

Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.

d. Riwayat penyakit masa lalu

Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi / pre eklampsi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.

e. Riwayat psikologis

Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.

f. Pemeriksaan fisik

1. Keadaan umum

o Kesadaran : composmetis s/d coma

o Postur tubuh : biasanya gemuk

o Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa

o Raut wajah : biasanya pucat

2. Tanda-tanda vital

o Tensi : normal sampai turun (syok) (<>

o Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)

o Suhu : normal / meningkat (> 37o c)

o RR : normal / meningkat (> 24x/menit)

g. Pemeriksaan cepalo caudal

1. Kepala : kulit kepala biasanya normal / tidak mudah mengelupas rambut biasanya rontok / tidak rontok.

Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada cloasma

Hidung : biasanya ada pernafasan cuping hidung

Mata : conjunctiva anemis

2. Dada : bentuk dada normal, RR meningkat, nafas cepat da dangkal, hiperpegmentasi aerola.

3. Abdomen

o Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat etrio pada area perut, terlihat linea alba dan ligra

o Palpasi rahim keras, fundus uteri naik

o Auskultasi : tidak terdengar DJJ, tidak terdengar gerakan janin.

4. Genetalia

Hiperpregmentasi pada vagina, vagina berdarah / keluar darah yang merah kehitaman, terdapat farises pada kedua paha / femur.

5. ekstimitas

Akral dingin, tonus otot menurun.

6. pemeriksaan penunjang

o Darah : Hb, hemotokrit, trombosit, fibrinogen, elektrolit.

o USG untuk mengetahui letak plasenta,usia gestasi, keadaan janin.

2. Daftar Diagnosa Keperawatan

a) Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan conjungtiva anemis , acral dingin , Hb turun , muka pucat & lemas .

b) Resiko tinggi terjadinya letal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang .

c) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus di tandai terjadi distress / pengerasan uterus , nyeri tekan uterus .

d) Gangguan psikologi ( cemas ) berhubungan dengan keadaan yang dialami .

e) Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan .

f) Kurang pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi .

3. Intervensi Keperawatan

a. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan conjunctiva anemis, acrar dingin, Hb turun, muka pucat, lemas.

- Tujuan : suplai / kebutuhan darah kejaringan terpenuhi

- Kriteria hasil

Conjunctiva tida anemis, acral hangat, Hb normal muka tidak pucat, tida lemas.

- Intervensi

1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien

Rasional : pasien percaya tindakan yang dilakukan

2. Jelaskan penyebab terjadi perdarahan

Rasional : pasien paham tentang kondisi yang dialami

3. Monitor tanda-tanda vital

Rasional : tensi, nadiyang rendah, RR dan suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi darah.

4. Kaji tingkat perdarahan setiap 15 – 30 menit

Rasional : mengantisipasi terjadinya syok

5. Catat intake dan output

Rasional : produsi urin yang kurang dari 30 ml/jam menunjukkan penurunan fungsi ginjal.

6. Kolaborasi pemberian cairan infus isotonik

Rasional : cairan infus isotonik dapat mengganti volume darah yang hilang akiba perdarahan.

7. Kolaborasi pemberian tranfusi darah bila Hb rendah

Rasional : tranfusi darah mengganti komponen darah yang hilang akibat perdarahan.

b. Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke placenta berkurang.

- Tujuan : tidak terjadi fetal distress

- Kriteria hasil : DJJ normal / terdengar, bisa berkoordinasi, adanya pergerakan bayi, bayi lahir selamat.

- Intervensi

1. Jelaskan resiko terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu

Rasional : kooperatif pada tindakan

2. Hindari tidur terlentang dan anjurkan tidur ke posisi kiri

Rasional : tekanan uterus pada vena cava aliran darah kejantung menurun sehingga terjadi perfusi jaringan.

3. Observasi tekanan darah dan nadi klien

Rasional : penurunan dan peningkatan denyut nadi terjadi pad sindroma vena cava sehingga klien harus di monitor secara teliti.

4. Oservasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin

Rasional : penurunan frekuensi plasenta mengurangi kadar oksigen dalam janin sehingga menyebabkan perubahan frekuensi jantung janin.

5. Berikan O2 10 – 12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress

Rasional : meningkat oksigen pada janin

c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uteres ditandai terjadi distrensi uterus, nyeri tekan uterus.

- Tujuan : klien dapat beradaptasi dengan nyeri

- Kriteria hasil :

* Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.

* Klien kooperatif dengan tindakan yang dilakukan.

- Intervensi

1. Jelaskan penyebab nyeri pada klien

Rasional : dengan mengetahui penyebab nyeri, klien kooperatif terhadap tindakan

2. Kaji tingkat

Rasional : menentukan tindakan keperawatan selanjutnya.

3. Bantu dan ajarkan tindakan untuk mengurangi rasa nyeri.

- Tarik nafas panjang (dalam) melalui hidung dan meng-hembuskan pelan-pelan melalui mulut.

Rasional : dapat mengalihkan perhatian klien pada nyeri yang dirasakan.

- Memberikan posisi yang nyaman (miring kekiri / kanan)

Rasional : posisi miring mencegah penekanan pada vena cava.

- Berikan masage pada perut dan penekanan pada punggung

Rasional : memberi dukungan mental.

4. Libatkan suami dan keluarga

Rasional : memberi dukungan mental

d. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan keadaan yang dialami

- Tujuan : klien tidak cemas dan dapat mengerti tentang keadaannya.

- Kriteria hasil : penderita tidak cemas, penderita tenang, klie tidak gelisah.


- Intervensi

1. Anjurkan klilen untuk mengemukakan hal-hal yang dicemaskan.

Rasional : dengan mengungkapkan perasaannyaaka mengurangi beban pikiran.

2. Ajak klien mendengarkan denyut jantung janin

Rasional : mengurangi kecemasan klien tentag kondisi janin.

3. Beri penjelasan tentang kondisi janin

Rasional : mengurangi kecemasan tentang kondisi / keadaan janin.

4. Beri informasi tentang kondisi klien

Rasional : mengembalikan kepercayaan dan klien.

5. Anjurkan untuk manghadirkan orang-orang terdekat

Rasional : dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi klien

6. Anjurkan klien untuk berdo’a kepada tuhan

Rasional : dapat meningkatkan keyakinan kepada Tuhan tentang kondisi yang dilami.

7. Menjelaskan tujuan dan tindakan yang akan diberikan

Rasional : penderita kooperatif.

e. Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan

- Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi

- Kriteria hasil : * Perdarahan berkurang

* Tanda-tanda vital normal

* Kesadaran kompos metit

- Intervensi

1. Kaji perdarahan setiap 15 – 30 menit

Rasional : mengetahui adanya gejala syok sedini mungkin.

2. monitor tekanan darah, nadi, pernafasan setiap 15 menit, bila normal observasi dilakukan setiap 30 menit.

Rasional : mengetahui keadaan pasien

3. Awasi adanya tanda-tanda syok, pucat, menguap terus keringat dingin, kepala pusing.

Rasional : menentkan intervensi selanjutnya dan mencegah syok sedini mungkin

4. Kaji konsistensi abdomen dan tinggi fundur uteri.

Rasional : mengetahui perdarahan yang tersembunyi

5. Catat intake dan output

Rasional : produksi urine yang kurang dari 30 ml/jam merupakan penurunan fungsi ginjal.

6. Berikan cairan sesuai dengan program terapi

Rasional : mempertahanka volume cairan sehingga sirkulasi bisa adekuat dan sebagian persiapan bila diperlukan transfusi darah.

7. Pemeriksaan laboratorium hematkrit dan hemoglobin

Rasional : menentukan intervensi selanjutnya

f. Kurangnya pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi

- Tujuan : penderita dapat mengerti tentang penyakitnya.

- Kriteria hasil : dapat menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya.

- Intervensi

1. Kaji tingkat pengetahuan penderita tentang keadaanya

Rasional : menentukan intervensi keperawatan selanjutnya.

2. Berikan penjelasan tentang kehamilan dan tindakan yang akan dilakukan.

a. Pengetahua tentang perdarahan antepartum.

b. Penyebab

c. Tanda dan gejala

d. Akibat perdarahan terhadap ibu dan janin

e. Tindakan yang mungkin dilakukan

Rasional : penderita mengerti dan menerima keadaannya serta pederita menjadi kooperatif.

BAB 4

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.

Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.

Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.

DAFTAR PUSTAKA

MANSJOER ARIF DKK . 2001.KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. EDISI 3 JILID 1.FK UI . JAKARTA

WWW.SOLUSI PLASENTA . COM