Showing posts with label farmakologi. Show all posts
Showing posts with label farmakologi. Show all posts

Monday, August 2, 2010

PENGUKURAN DOSIS OBAT

PENGUKURAN DOSIS OBAT
BY :
TUTIK SUYANTINI SKeP Ns


Nurma eka ayulinar
2007.02.086
Sistem Pengukuran
Sistem metrik & konversi metrik
- 1 kg = 1000 gr
1 gr = 1000 mg
1 mg =1000 µ (mkg)
- 1 kl = 1000 L
1 L = 1000 mL (cc)
Soal
1. 2 gr = …. Mg
2. 0,5 gr = …mg
3. 2,5 L = …ml
4. 1500 mg = …gr
5. 500 ml = …L
Sistem pengukuran
Sistem farmasi menggunakan angka romawi unt menyatakan jumlah, angka romawi diletakkan setelah simbol singkatan unt unit pengukuran
Contoh
- R/ Ulsikur amp No III
Ś I mm
- R/ ceftriaxon 1 gr vial No VI
S I mm
Contoh sediaan obat
Obat oral
Ket :
- dosis 500 mg
- SANMOL adl nama dagang
-Paracetamol adl nama generiknya
- SANBE adl nama pabriknya
Contoh sediaan obat
Obat injeksi

KET ;
-AMIKIN : nama dagang
-Amikacin sulfate : nama generiknya
-Bisa digunakan IM/IV
-100 mg/2 ml : dosisnya tiap 2 ml = 100mg
Metode Penghitungan
RUMUS DASAR

R : D/H X V = A
Ket :
D : dosis yg diinginkan=dosis yg diperintah dokter
H : dosis ditangan=dosis obat pd label (botol,vial)
V : bentuk= bentuk obat yg tersedia (kapsul,tab,dll)
A : jumlah hasil hitungan yg diberikan kpd klien
Metode Penghitungan
Contoh
Perintah dokter
R/ Ampicillin 500 mg tab No XV
S 3 dd I
artinya dalam waktu 24 jam klien minum obat ampicillin 500 mg sebanyak 3 kali
Sediaan obat Ampicillin 1 tab = 250 mg
Pertanyaan berapa tab tiap kali klien minum obat ?
Jawab : D/H x V = 500/250 x 1 tab = 2 tab
Soal : perintah dokter : diltiazem 2 x 60mg, sediaan obat 1 tab = 15 mg, berapa tab unt sekali minum?
Metode Penghitungan
RASIO DAN PROPORSI
Diketahui Diinginkan
H : V = D : X
Ket
H : obat yg tersedia
V : bentuk obat (tab,kapsul,dll)
D : dosis sesuai perintah
X : jumlah yg harus diberikan
Metode Penghitungan
Contoh
-Perintah dokter
R/ Ampicillin syr No I
S 3 dd 100 mg
-Artinya klien diberikan obat ampicillin100mg ,3 kali dalam sehari
-Obat yg tersedia, Ampicillin syrup 250mg/5ml
-Jawab H : V = D : X
250 : 5ml = 100 : ? Ml
250 X = 5 x 100
X = 500/250
= 2 ml
Soal
-Perintah dokter : allopurinol 3 x 450mg
-Sediaan obat 300mg/ tab
-Butuh berapa tab sekali minum ?
Metode Penghitungan anak
Bentuk puyer
R/ kotrimoxazole 15mg No XV
S 3 dd I
- sediaan 1 tab = 80 mg
- berapa tab yg dibutuhkan?
- jawab H : V = D : X
80 : 1tab = 15 : ?tab
x = 15/80
= 0,2 tab/bungkus
bila butuh 15 bungkus = 0,2 x 15
= 3 tab
Soal
R/ Ampicillin 100 mg
Paracetamol 125 mg No XV
C T M 1 mg
S 3 dd 1

Metode penghitungan anak
Dosis anak sesuai berat badan (BB)
-Perintah ampicillin 50mg/kg/hr, PO
BB = 20 kg
-Tanya berapa dosis ampicillin yg harus diberikan?
-Jawab : 50mg x 20 kg = 1000mg/hr
bisa diberikan 2 x 500 mg atau 4 x 250 mg per hari
Soal ,Perintah Dilantin 2 x 50mg, BB= 20kg
dosis anak 4 – 8mg/kg/hr
sediaan 30mg / 5ml
Berapa ml yg dibutuhkan dalam sekali minum?

Tuesday, May 25, 2010

ANTIBIOTIKA




Pengertian

Adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup, terutama fungi/jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain termasuk turunan yang dibuat secara sintetik dan dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme
Antibiotika harus memiliki toksisitas selektif : membunuh mikroorganisme penginvasi tetapi tidak merusak host.

Yang harus selalu diingat, antibiotika hanya ampuh dan efektif membunuh bakteri tetapi tidak dapat membunuh virus. Karena itu, penyakit yang dapat diobati dengan antibiotika adalah penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Penggolongan
1. Berdasarkan daya kerja : bakterisid (pada dosis biasa berkhasiat mematikan kuman, Contoh : pensisilin, sefalosporin, dll), bakteriostatik (pada dosis biasa berkhasiat menghentikan/menghambat pertumbuhan kuman, contoh : sulfonamida, kloramfenikol)
2. Berdasarkan struktur kimia : beta laktam (penisilin, sefalosporin), aminoglikosida, kloramfenikol, tetrasiklin, rifampisin, makrolida, polien, antibiotika lain

2. Berdasarkan Mekanisme kerja
Menghambat sintesis dinding sel atau mengaktivasi enzim yang merusak dinding sel mikroba shg menghilangkan kemampuan untuk berkembang biak, lisis (penisilin, sefalosporin, sikloserin, basitrasin)
Antibiotika yang bekerja langsung thd membran sel, mempengaruhi permeabilitas sehingga menimbulkan kebocoran dan menghilangkan senyawa intraseluler (polimiksin, nistatin, amfoterisin)

Antibiotika yang mengganggu fungsi ribosom bakteri, menyebabkan inhibisi sintesis protein (kloramfenikol, tetrasiklin, eritromisin, dll)
Antibiotika yang mengganggu pembentukan asam-asam inti (DNA,RNA) : rifampisin, kuinolon
Antagonisme saingan yaitu menyaingi zat-zat yang penting untuk metabolisme bakteri (sulfonamid, trimetoprim)

4. Berdasarkan sasaran kerja

Zat dengan aktivitas sempit (narrow spektrum) terutama aktif untuk beberapa jenis bakteri saja. Aktif untuk bakteri gram positif (penisilin G, V, kanamisin, eritromisin). Aktif untuk bakteri gram negatif (streptomisin, gentamisin, dll)
Zat dengan aktivitas luas (broad spektrum) baik gram positif maupun gram negatif (penisilin, sefalosporin, dll)

Efek samping
Sensitasi/hipersensitif
Resistensi
Super infeksi

Seleksi Obat Antimikroba
Dasar pertimbangan (ideal) :
Identifikasi & sensitivitas organisme,
Tempat infeksi,
Status pasien (umur, BB, keadaan patologis, kehamilan & laktasi),
Keamanan antibiotik,
Biaya.


Dalam prakteknya :
Terapi empirik sebelum identifikasi organisme.
Berdasar bukti-bukti ilmiah & pengalaman, dengan mempertimbangkan : mengutamakan obat bakterisid, memilih obat dengan daya penetrasi baik (jaringan tubuh, sistem saraf pusat), memilih obat dengan frekuensi pemberian rendah (drug compliance), mengutamakan obat dengan pengikatan protein rendah, tidak merutinkan penggunaan antibiotik mutakhir (misalnya sefalosporin gen-3) agar terjamin ketersediaan antibiotik yang lebih efektif bila dijumpai resistensi)

Pemberian AB

Dosis : kadar obat di tempat infeksi harus melampaui MIC kuman. Untuk mencapai kadar puncak obat dlm darah, kalau perlu dengan loading dose (ganda) dan dimulai dengan injeksi kemudian diteruskan obat oral.
Frekuensi pemberian : tergantung waktu paruh (t½ obat. Bila t½ pendek, maka frekuensi pemberiannya sering.
Lama terapi : harus cukup panjang untuk menjamin semua kuman telah mati & menghindari kekambuhan. Lazimnya terapi diteruskan 2-3 hari setelah gejala penyakit lenyap.

Kombinasi AB

Pemberian AB tunggal lebih dianjurkan untuk :
Organisme penyebab infeksi spesifik.
Menurunkan kemungkinan superinfeksi.
Menurunkan resistensi organisme.
Mengurangi toksisitas

Pemberian Antibiotik kombinasi untuk keadaan khusus :
Infeksi campuran.
Ada risiko resistensi organisme, misalnya pada TBC.
Keadaan yang membutuhkan AB dengan dosis besar, misalnya sepsis, dan etiologi infeksi yang belum diketahui.

Keuntungan AB Kombinasi

Efek sinergistik / potensiasi, misalnya :
a) Betalaktam + Aminoglikosid; b) Kotrimoksazol (Sulfametoksazol + Trimetoprim)
Mengatasi & mengurangi resistensi, misalnya : a) Amoksisilin + Asam klavulanat; b) Obat-obat TBC
Mengurangi toksisitas, misalnya : Trisulfa + sitostatika.

Kerugian Pemberian Antibiotik kombinasi :
Antagonisme pada penggunaan bakteriostatika & bakterisid yang bekerja pada fase tumbuh.

Resistensi Obat
Bila pertumbuhan bakteri tidak dapat dihambat oleh antibiotik pada kadar maksimal yang dapat ditolerir host.
Penyebab resistensi :
Perubahan genetik,
Mutasi spontan DNA,
Transfer DNA antar organisme (konjugasi, transduksi, transformasi),
Modifikasi tempat target,
Menurunnya daya penetrasi obat (adanya lapisan polisakarida, adanya sistem refluks),
Inaktivasi oleh enzim.

Pencegahan resistensi
Penggunaan AB hanya sesuai indikasi dan dosis yg tepat,jangka waktu cukup
Pembatasan penggunaan AB spektrum luas
Penggunaan AB di rumah sakit pada waktu tertentu sebaiknya dibatasi pada jenis jenis AB tertentu
Aplikasi penggunaan AB, khususnya di bidang peternakan perlu dibatasi

Antibiotika Profilaktik

Pemberian antibiotik untuk pencegahan infeksi, bukan untuk pengobatan infeksi.
Lama pemberian ditentukan oleh lamanya risiko infeksi.
Dapat timbul resistensi bakteri & superinfeksi.

Komplikasi Terapi AB

Hipersensitivitas, misalnya pada pemberian Penisilin berupa reaksi alergi ringan (gatal-gatal) hingga syok anafilaktik.
Toksisitas langsung, misalnya pada pemberian Aminoglikosid berupa ototoksisitas.
Superinfeksi, misalnya pada pemberian antibiotik spektrum luas atau kombinasi akan menyebabkan perubahan flora normal tubuh sehingga pertumbuhan organisme lain seperti jamur menjadi berlebihan dan resistensi bakteri.

Efek Samping
Reaksi hipersensitifitas dan dermatologi : shock, rash, urtikaria, eritema, pruritis, udema,
Hematologi : pendarahan, trombositopenia, anemia hemolitik Hematologi : pendarahan, trombositopenia, anemia hemolitik
Reaksi toksik
ex: tetrasiklin dapat mengganggu pertumbuhan tulang, gigi, hepatotoksik
Perubahan biologik dan metabolik

Kontra Indikasi
Hipersensitivitas pada antibiotik sefalosporin atau golongan betalaktam lainnya. Sebelum penggunaan antibiotik sefalosporin, terlebih dahulu dilakukan skin tes

Antibiotika dapat digolongkan sebagai berikut :

Antibiotika golongan aminoglikosid, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
Antibiotika golongan sefalosforin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
Antibiotika golongan klorampenikol, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
Antibiotika golongan makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri. Ex : Eritromisin
Antibiotika golongan penisilin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan.
Antibiotika golongan beta laktam golongan lain, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
Antibiotika golongan kuinolon, bekerja dengan menghambat satu atau lebih enzim topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi DNA bakteri. Ex : Siprofloksasin
Antibiotika golongan tetrasiklin, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.

Aminoglikosida
Efektif untuk bakteri gram –
Mekanisme kerja : menghambat sintesis sel bakteri
Sifat : bakterisidal
Efek samping : alergi, iritasi, ototoksik, nefrotoksik
Jenis : streptomisin, gentamisin, kanamisin, neomisin, amikasin, tobramisin, paromomisin
Indikasi : aerob gram -, Pseudomonas
Kontraindikasi : kehamilan, gangguan ginjal

Sefalosporin
Mekanisme menghambat sintesis dinding sel
Aktivitas bersifat bakterisid dengan spektrum luas terhadap gram positif dan negatif
Sefalosporin hanya digunakan untuk infeksi yang berat atau tidak dapat diobati dengan antimikroba yang lain


Kloramfenikol
Mekanisme kerja : menghambat sintesis protein kuman
Sifat : bakteriostatik
Spektrum antibakteri luas
Indikasi : demam tifoid, meningitis purulenta, riketsiosis, kuman anaerob
Efek samping : depresi sumsum tulang, alergi, reaksi sal.cerna, sindrom Gray, reaksi neurologik
Kontrindikasi : neonatus, gangguan faal hati, penderita yang hipersensitif

Penisilin
Antibiotika pertama yang ditemukan oleh Alexander Fleming
Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel bakteri sehingga bakteri lisis
Dapat terjadi resistensi bakteri dimana bakteri membentuk enzim betalaktamase atau berubah menjadi bakteri huruf L

Derivat Penisilin
Penisilin spektrum sempit
1. Benzil penisilin
Tidak tahan asam lambung, penggunaan secara injeksi
Fenoksimetil penisilin
Tahan terhadap asam lambung, pemberian sebaiknya sebelum makan
Penisilin tahan penisilinase
Aktivitas lebih ringan dari Penisilin G, cth kloksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin.
Penisilin spektrum luas
Ampisilin, amoksilin

Sulfonamide
Aktivitas : spektrum antibakteri luas baik gram (+) maupun (-) yg peka, ct : Str. Pyogenes, E.coli, B. anthracis, v. cholerae, C. trachomatis, C. diphteriae
Bersifat bakteriostatik
Mekanisme kerja :antagonisme kompetitif PABA (para amino benzoid acid) dan sulfa
Sediaan : oral, parenteral, topikal
Efek samping : reaksi alergi, agranulositosis, trombositopeni, gangguan saluran kemih

Kotrimoksazole
Kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol
Spektrum antibakteri luas, ct : S. aureus, Str. Pneumoniae, N. meningitis, E. coli
Mekanisme kerja : sulfonamid menghambat masuknya PABA ke molekul asam folat, trimetoprim menghambat tjdnya reaksi reduksi dihidrofolat mjd tetrahidrofolat
Sediaan : tablet, suspensi, tablet pediatrik
Indikasi : ISK, infeksi saluran napas, infeksi gonokokal akut, shigellosis
Efek samping : alergi, mual, anemia, stomatitis

Tetrasiklin
Spektrum : luas, baik gram + atau -, aerob, anaerob, spirochaeta, klamiidia, riketsia
Derivat : tetrasiklin, klortetrasiklin, oksitetrasiklin, demeklosiklin, rolitetrasiklin, doksisiklin, minosiklin, limesiklin
Indikasi : infeksi klamidia, riketsia, mikoplasma, gonore, kokus, kollera
Efek samping : reaksi kepekaan, toksik dan iritatif
Sediaan : tablet, kapsul, sirup, salep, pulveres

Tuberkulostatik
Streptomisin
Bersifat bakteriostatik terhadap M. tuberkulosis
Waktu paruh obat 2-3 jam
Sediaan : bubuk injeksi 1 & 5 gram
Efek samping : sakit kepala, malaise, reaksi alergi
Untuk mengobati tuberkulosis harus diberikan kombinasi dengan obat lain

Isoniazid/INH

Invitro bersifat tuberkulostatik dan tuberkulosid pd kuman yang tumbuh aktif
Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel mikobakteria
Mudah diabsorbsi pada pemberian oral maupun parenteral
Efek samping : demam, urtikaria, anemia, neuritis perifer, hepatotoksik, mulut kering
Sediaan : tablet 50, 100, 300 dan 400mg, sirup 10 mg/ml

Rifampisin
Mekanisme kerja : menghambat polimerase RNA mikobakteria
Rifampisin meninggikan aktivitas streptomisin dan isoniazid
Efek samping: kemerahan, demam, mual, muntah, urtikaria, ikterus, anemia
Merupakan pemacu metabolisme obat yg cukup kuat, misalnya obat hipoglikemik oral, kortikosteroid, kontrasepsi oral
Sediaan : kapsul 150 dan 300 mg, tablet 450 dan 600 mg, suspensi 100 mg/5 ml

Etambutol
Bersifat tuberkulostatik
Resistensi dapat terjadi jika tidak dikombinasikan dengan obat lain
Efek samping : peningkatan kadar asam urat, neuritis optik, pruritus
Sediaan : tablet 250 mg dan 500 mg

Pirazinamid
Bersifat tuberkulostatik
Efek samping : kelainan hati, muntah, naussea
Bekerja pada suasana asam

Leprostatik
Sulfon
Derivat 4.4 diamino difenil sulfon (DDS, dapson)
Bersifat bakteriostatik
Mekanisme kerja : sama dengan sulfonamid
Pengobatan harus dimulai dengan dosis kecil baru dinaikkan perlahan
Merupakan sediaan terpilih untuk semua bentuk lepra

Wednesday, May 12, 2010

PEMBERIAN OBAT

Pemberian Obat

By : Supriyadi S





Tujuan Pembelajaran :

Pengertian pemberian obat

Tujuan pemberian obat

Faktor-2 yg mpengaruhi kerja obat

Pengelolaan pemberian obat-obatan

Tipe order pemberian obat

Syarat dan komponen order obat

Beberapa hal yg dpt menyebabkan kesalahan dan pencegahannya

Cara menghitung dosis obat

NCP



I. Konsep Pemberian Obat

Pengertian

Menyiapkan & memberikan obat / pngobatan

kepada pasien sesuai dengan program therapi

Meliputi :

jenis obat,

dosis,

waktu dan

cara – cara pemberiannya

dengan jalan memasukkan obat tertentu ke dalam jaringan tubuh



B. Tujuan Pemberian Obat

Mempercepat reaksi dari cairan obat.

Mendapatkan reaksi setempat.

Membantu menegakkan diagnosa.

Mendapat kekebalan.

Faktor - 2 yang mempengaruhi kerja obat

Perbedaan genetik

Mempengaruhi biotrasformasi obat

Menentukan enzim yg tbentuk scr alami u/ penguraian obat

Akibatnya anggota klg sensetif thd obat

Variabel fisiologis

Hormonal pria dan wanita mngubah metabolisme obat t3

Hormon dan obat saling bersaing dlm biotransformasi krn keduanya terurai dlm proses metabolik yg sama



Kondisi lingkungan

Radiasi ion mengubah kecepatan aktivitas enzim

Pajanan panas dan dingin mpengaruhi respon thd obat

Ex. :

Pberian vasodilator perlu dikurangi pd Cuaca panas krn suhu tinggi meningkatkan efek obat a/ sebaliknya

Klien isolasi yg diberi analgesik mperoleh efek peredaan nyeri lebih kecil dibanding ditempat yg dpt dikunjungi klgnya



Faktor psikologis

Stres fisik dan emosi yg berat memicu respon hormonal, shg mengganggu metabolisme obat

Pemberian obat dg kesan baik dpt mberikan efek positif a/ efektif





Diet

Status nutrisi buruk, sel tdk dpt berfungsi dg baik, shg biotrasformasi tdk berlangsung

Metabolisme obat tgt pd nutrisi

Nutrisi u/ mbentuk enzim dan protein sbg ikatan dg obat sblm didistribusi ketempat kerja obat

Contoh :

Vit K tdp pd sayuran hijau mberi efek warfarin Na (coumadin) yaitu mngurangi efek pd mekanisme pembekuan darah

Minyak mineral menurunkan absorpsi vit larut lemak

Usia

Perub. Fisiologis menyertai penuaan mpenngaruhi respon thdp obat

Bayi tdk memiliki byk enzim yg diperlukan u/ metabolisme obat



Faktor Penyakit

Fungsi Organ sbg farmakokinetik rusak krn penyakit dpt merusak kerja obat

Contoh :

Rusaknya integritas kulit

Penurunan absorpsi a/ motilitas sal. Cerna

Kerusakan fungsi ginjal dan hati

Cara Penyimpanan Obat

Tiga faktor utama yg harus diperhatikan dlm penyimpanan obat :

Suhu

faktor terpenting, karena kebanyakan obat itu bersifat termo – labil (rusak atau diubah oleh panas).

penyimpanan obat ditempat sejuk : <15 style="font-weight: bold;">2. Letak

Obat itu bersifat toksik tempat penyimpanan hrs terang

letak setinggi mata,

bukan tempat umum.

Lemari obat harus terkunci.

Kedaluarsa

Kurangi kedaluarsa dgn cara rotasi stok artinya obat baru diletakkan dibelakang.

Yang perlu diperhatikan adalah perubahan warna (dari bening jd keruh) dan tablet menjadi basah

Tipe order pemberian obat

Standing orders

Instruksi PRN

Instruksi Tunggal

Instruksi Stat



Standing orders / instruksi tetap

Dilaks sampai dokter mgantik dg instruksi baru a/ jml hr pgunaan obat yg diresepkan berlalu

Punya batas waktu

Ex :

Tetracycline 500mg PO q6h

Decadron 10 mg qd x 5 hr



Instruksi PRN

Sesuai kebutuhan klien

Perlu pkajian scr obyektif, subyektif dan bijaksana dlm mnetapk kebut.

Dokter mmerlukan interval minimal u/ waktu pberian obat ( tdk boleh sering diberikan)

Contoh :

Morfin sulfat 2mg SC 3-4 jam PRN nyeri insisi

Moalox 30 ml PRN rasatdk nyaman pd lambung

Yang hrs dilaks perawat selama pemberian mencatat :

Pengkajian / observasi

Waktu pemberrian obat

Mengevaluasi efektifitas obat





Instruksi Tunggal

Berlaku pd obat praoperasi a/ diberikan sblm px diagnostik

Ex.

Valium 10 mg PO pukul 09.00



Instruksi Stat

dosis tunggal obat diberikan segera dan hanya sekali

Ditulis u/ situasi darurat ketika kondisi klien tiba2 berubah

Ex.

Apresoline 10 mg IV stat

Komponen order obat

Resep memuat informasi yg lebih terinci

Bagian2 resep :

Superscription :

Identitas : Nama, alamat, usia

Tanggal resep

Simbol R

Inscrioption

Nama obat, kekuatan dan dosis

Subscription

Petunjuk ttg jml tablet



Informasi dan Tanda tangan

Info yg ditulis pd label obat u/ petunjuk klien

Contoh :

Obat diminum bersama air a/ obat diminum sblm makan

Petunjuk ttg pengisian ulang resep

Data pribadi

Dokter tanda tangan resep

Bila obat merup. Zat terkontrol dokter menuliskan no reg dan alamatnya





I. PENGKAJIAN



f. Persepsi Klien atau Masalah Koordinasi

persepsi dan koordinasi klien terbatas kemungkinan sulit menggunakan obat secara mandiri.

Perawatan kemampuan klien dlm mpersiapkan dosis dan menggunakan obat yang benar.

bila mempelajari apakah ada anggota keluarga atau teman yang dapat membantu.

g. Sikap Klien Terhadap Penggunaan Obat

Sikap klien terhadap obat menunjukan tingkat ketergantungan pada obat.

Klien seringkali enggan mengungkapkan perasaannya tentang obat.

Untuk mengkaji sikap klien, perawat perlu mobservasi perilaku klien yg mdukung bukti ketergantungan sosial.







Contoh Diagnosa Keperawatan NANDA untuk Terapi Obat :

Kurang pengetahuan tentang terapi obat yang berhubungan dengan :

  • Kurang informasi dan pengalaman
  • Keterbatasan Kognitif
  • Tidak mengenal sumber Informasi
Ketidakpatuhan terhadap terapi obat yang berhubungan dengan :

  • Sumber ekonomi yang terbatas
  • Keyakinan tentang kesehatan
  • Pengaruh Budaya
Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan :

  • Penurunan kekuatan
  • Nyeri dan ketidaknyamanan
Perubahan sensori atau persepsi yang berhubungan dengan :

Pandangan kabur





III. PERENCANAAN





Hal yang perlu diperhatikan :

Agar dpt memahami obat dan penggunaan obat scr mandiri, rencana pulang perlu disusun scr dini.

Bila klien tidak mampu dan konsisten menggunakan obat secara mandiri, perawat perlu mengkaji klien secara komprehensif :

  • fisik,
  • psikologis,
  • ekonomi atau
  • sosial.
Yang hrs diperhatikan bila klien mencoba menggunakan obat secara mandiri :

Tidak ada komplikasi yg timbul akibat rute pemberian obat yang dipakai

Efek terapeutik obat yang diprogramkan dicapai dengan aman sementara kenyamanan klien tetap dijaga



Klien dan keluarga memahami terapi obat

Pemberian obat secara mandiri dilakukan dengan aman



Implementasi



Transkripsi yang benar dan mengkomunikasikan program

Intervensi keperawatan berfokus pada pemberian obat yang aman dan efektif.

Intervensi dilakukan dengan menyiapkan obat secara cermat, memberikannya dengan benar, dan memberikan penyuluhan

Setiap kali dosis disiapkan perawat mengacu format atau label obat.







  1. Rute pemberian Obat
  2. Oral
  3. Parenteral
  4. Topikal
  5. Inhalasi
  6. supositoria
V. EVALUASI



Perawat memantau respon klien terhadap obat secara berkesinambungan.

perawat harus mengetahui kerja terapeutik dan efek samping yang umum muncul dari setiap obat.

Perawat harus mewaspadai reaksi yang akan timbul ketika klien mengkonsumsi beberapa obat.





Tuesday, May 11, 2010

PROSES KEPERAWATAN OBAT ANALGESIK

ANALGESIK



  • Analgesik adalah obat penghilang rasa sakit atau nyeri, seperti sakit kepala atau sendi.
  • Analgesik ialah istilah yang digunakan untuk mewakili sekelompok obat yang digunakan sebagai penahan sakit.
  • Analgesik : obat yang mengurangi/bahkan mungkin menghilangkan rasa sakit tanpa diikuti hilangnya kesadaran.




Analgesik narkotik bekerja terutama pada sistem saraf pusat

Sedangkan analgesik non narkotik bekerja pada sistem saraf tepi pada tempat reseptor nyeri.



Obat-obatan analgesik mempunyai efek antipiretik, yakni mampu menstabilkan suhu tubuh dan meredakan demam.

Obat analgesik termasuk obat antiradang non-steroid (NSAID) seperti salisilat, obat narkotika seperti morfin dan obat sintesis bersifat narkotik seperti tramadol.



Obat analgesik antipiretik serta obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimiawi.Walaupun demikian obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototip obat golonganini adalah Aspirin, karena itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin ( aspirin-like drugs).



ASETAMINOFEN

Farmakodinamik :

Efek Analgesik parasetamol dan fenasetin serupa dengan salisilat mengurangi nyeri,dari nyeri ringan sampai sedang dengan menghambat biosintesis PG tapi lemah

Efek Antipiretik, menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat

Efek Anti Inflamasinya sangat lemah/tidak ada, tidak digunakan sebagai anti-inflamasi



Farmakokinetik :

Diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.

Efek iritasi , erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat ini.



Indikasi :

Digunakan sebagai analgesik

Digunakan sebagai antipiretik





Efek samping :

Reaksi alergi terhadap derivat Para- aminofenol jarang terjadi



Toksisitas akut :

Dosis toksis yang paling serius ialah nekrosis hati

Nekrosis tubuli renalis serta koma hipoglikemik dapat terjadi

Hepatotoksisitas dapat terjadi pada pemberian dosis tunggal 10 - 15 gram ( 200 - 250 mg/kgBB ) Parasetamol



DIPIRON

Farmakodinamik:

  • Efek analgesik
  • Efek antipiretik
  • Efek anti-inflamasinya lemah
  • Diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna
  • Farmakokinetik : Indikasi :
  • Hanya digunakan sebagai analgesik-antipiretik
  • Efek Anti-inflamasinya lemah
Efek samping :

Semua derivat Pirazolon dapat menyebabkan -agranulositosis -anemia aplastik -trombositopeni -menimbulkan hemolisis -udem, tremor, mual dan muntah, perdarahan lambung -alergi





SALISILAT DAN OBAT-OBAT ANTI INFLAMASI NON STEROID





FARMAKODINAMIK :

  • Efek Analgesik, aspirin paling efektif untuk mengurangi nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang
  • Efek Antipiretik, aspirin menurunkan suhu yang meningkat, sedangkan suhu badan normal hanya berpengaruh sedikit
  • Efek Anti Inflamasi, aspirin adalah penghambat non selektif kedua isoform COX ( Cyclooxygenase ) atau ( COX-I dan COX-II )
  • Efek Platelet, aspirin mempengaruhi hemostasis. Dosis rendah tunggal aspirin( 80 mg sehari ) menyebabkan sedikit perpanjangan waktu perdarahan


FARMAKOKINETIK :

Salisilat dengan cepat diserap oleh lambung dan usus kecil bagian atas

Asam salisilat diabsorpsi cepat dari kulit sehat terutama bila digunakan sebagai obat gosok atau salep

Salisilat di distribusikan keseluruh jaringan mudah menembus sawar darah otak dan sawar uri



Indikasi :

  1. Sebagai obat Analgesik
  2. Sebagai obat Antipiretik
  3. Untuk terapi Demam reumatik akut
  4. Untuk terapi Artritis reumatoid
  5. Mencegah trombus koroner, dosis aspirin kecil(325mg/ha ri) yang diminum tiap hari dapat mengurangi insiden infark miokard akut
  6. Sebagai counter irritant bagi kulit, bentuk salep atau lini ment


Efek samping :

tukak lambung atau tukak peptik -perdarahan lambung -anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna -beratnya efek samping ini berbeda pada masing masing obat

Dosis yang berlebihan dapat menyebabkan telinga berdenging, tuli, penglihatan kabur, bahkan kematian.



Asam mefenamat

Asam mefenamat termasuk obat pereda nyeri yang digolongkan sebagai NSAID (Non Steroidal Antiinflammatory Drugs). Asam mefenamat digunakan untuk mengatasi berbagai jenis rasa nyeri, namun lebih sering diresepkan untuk mengatasi sakit gigi, nyeri otot, nyeri sendi dan sakit ketika atau menjelang haid. Seperti juga obat lain, asam mefenamat dapat menyebabkan efek samping.



Salah satu efek samping asam mefenamat yang paling menonjol adalah merangsang dan merusak lambung. Sebab itu, asam mefenamat sebaiknya tidak diberikan pada pasien yang mengidap gangguan lambung.



PROSES KEPERAWATAN: NSAID

PENGKAJIAN



  • Periksa riwayat klien akan adanya alergi terhadap NSAID,termasuk aspirin.Jika terdapat alergi,beritahu perawat atau dokter yg bertanggungjawab.
  • Kaji klien terhadap adanya rasa tidak enak pd gastrointestinal dan edema perifer, ke-2 nya merupakan efek samping yang serimg pd NSAID.
  • Jika aspirin dipakai untuk dismenore selama dua hari pertama menstruasi, mungkin terjadi pendarahan yang lebih banyak.
INTERVENSI KEPERAWATAN

Pantau klien akan adanya feses berwarna seperti terjadi perdarahan gusi, petekie dan ekimosis.

Waktu perdarahan dpt diperpanjang jika memakai NSAID.

Periksa adanya perubahan dlm hasil laboratorium darah jika klien memakai NSAID dr kelompok pirazolon dan terapi obat emas.



Aspirin tidak boleh dipakai dan merupakan kontraindikasi bagi anakyang mengalami demam dan berusia dibawah 12 tahun, apapun sebabnya, karena adanya bahaya sindroma Reiter (problem neurologis yang berhubungan dengan infeksi virus dan diobati dengan salisilat).







PENYULUHAN PADA KLIEN




  1. Penyuluhan pd klien untuk tidak memakai aspirin bersama NSAID lain,dan jika sedang memakai obat NSAID,jangan memakai aspirin.
  2. Beritahu klien untuk memakai NSAID,termasuk aspirin bersama makan untuk mengurangi rasa tidak enak pd gastrointestinal.
  3. Bertahu klien untuk menghindari alkohol sewaktu memakai NSAID.
  4. Nasehatkan wanita untuk tidak memakai NSAID 1-2 hari sebelum menstruasi untuk menghindari banyaknya aliran darah.
  5. Nasehatkan wanita dlm kehamilan trimester ke-3 untuk menghindari NSAID,jika terjadi persalinan,mungkin mengalami komplikasi perdarahan.


OBAT PIRAI

Pirai(Gout) : penyakit metabolisme familial yang dikarakterisasi oleh episode berulang artritis akut yang disebabkan oleh endapan monosodium urat pada sendi-sendi dan tulang rawan.

Tinjauan Umum : Pirai biasanya dikaitkan dengan kadar serum yang tinggi dari asam urat, zat yang sulit larut yang merupakan hasil akhir utama dari metabolisme purin.

Pengobatan pirai ditujukan pada pengurangan serangan akut dan mencegah kambuhnya episode pirai dan batu urat.



PROSES KEPERAWATAN : OBAT2 ANTI PIRAI

Pengkajian

Dapatkan riwayat medis dr klien dengan g3

lambun.ginjal,jantung atau hati



Perencanaan

Klien akan terbebas dr neri gout tanpa mengalami efek samping

Beri tahu klien untuk melaporkan setiap keluhan pd lambung

Anjurkan klien untuk patuh pd jadwal kunjungan dokter dan melakukan pemeriksaan darah dg teratur.



Evaluasi

Evaluasi respon klien terhadap obat anti gout,jk nyeri ttp regimen obat mungkin perlu di ubah





ANALGESIK NARKOTIK

  1. Analgesik narkotik, disebut juga agonis narkotik, diresepkan untuk mengatasi nyeri yang sedang sampai berat.
  2. Narkotik tidak hanya menekan rangsang nyeri tetapi juga menekan pernafasan dan batuk dengan bekerja pada pusat pernafasan dan batuk pada medulla di batang otak. Salah satu contoh dari narkotik adalah morfin, yang merupakan analgesik kuat yang dapat dengan cepat menekan pernafasan.
  3. Kodein tidak sekuat morfin, tetapi dapat meredakan nyeri yang ringan sampai sedang dan menekan batuk. Kodein juga dapat diklasifikasikan ebagai penekan batuk (antitusif).


EFEK SAMPING DAN REAKSI YANG MERUGIKAN

  • Tanda-tanda depresi pernafasan (pernafasan <10/>
  • Hipotensi ortostatik (turunnya tekanan darah ketika bangun dari posisi duduk atau berbaring)
  • takikardia
  • mengantuk dan mental berkabut
  • konstipasi, dan retensi urin.
  • konstriksi pupil (suatu tanda intoksikasi)
  • toleransi, dan ketergantungan psikologis serta fisik dapat terjadi pada penggunaan jangka panjang.


Gejala-gejala putus obat (disebut sebagai sindroma abstinensi) biasanya terjadi dalam waktu 24-48 jam setelah pemakaian narkotik terakhir.

Ketergantungan fisik, iritabilitas, diaforesis (berkeringat), gelisah, kedutan otot, serta meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah adalah contoh-contoh dari gejala-gejala putus obat.

KONTRAINDIKASI

Pemakaian analgesik narkotik adalah kontraindikasi bagi pasien dengan cidera kepala. Narkotik memperlambat pernafasan, sehingga mengakibatkan penumpukan CO2. Dengan bertambahnya retensi CO2, pembuluh darah berdilatasi (vasodilatasi), terutama pembuluh darah otak, yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial.



Analgesik narkotik yang diberikan kepada klien dengan gangguan pernafasan hanya akan mengakibatkan bertambah beratnya distres pernafasan. Pada penderita asma, opioid dapat merelaksasikan atau malah mengkonstriksikan saluran bronkus.



Narkotik dapat menyebabkan hipotensi dan tidak merupakan indikasi bagi klien yang syok atau mereka yang mempunyai tekanan darah yang sangat rendah. Jika diperlukan pemakaian narkotik, dosis perlu disesuaikan, kalau tidak keadaan hipotensi akan semakin memburuk. Bagi orang lanjut usia atau orang yang debil, dosis narkotik biasanya perlu dikurangi.



PROSES KEPERAWATAN ANALGESIK NARKOTIK

Pengkajian



Intervensi Keperawatan

Berikan narkotik sebelum nyeri mencapai puncaknya untuk memaksimalkan efektifitas obat.

Amati klien untuk efek samping dari narkotik, termasuk distres pernafasan (pernafasan <10/menit),>
  • Pantau tanda-tanda vital dengan interval cukup sering untuk mendeteksi perubahan pernafasan. Laju pernafasan akan berubah dalam 7-8 menit setelah pemberian intravena, 30 menit setelah injeksi intramuskular, dan sekitar 90 menit setelah injeksi subkutan. Periksa laju pernafasan sebelum memberikan narkotik.
  • Pantau keluaran urin klien. Narkotik dapat menyebabkan retensi urin. Keluaran urin harus sekurang-kurangnya 600 ml/hari.
    • Periksa bising usus untuk mengetahui apakah terjadi penurunan peristaltik, suatu sebab dari konstipasi. Laksatif ringan atau perubahan diet mungkin diperlukan.
    • Periksa klien lanjut usia terhadap efek samping dari narkotik. Dosis mungkin perlu disesuaikan. Tirali tepi tempat tidur dan tindakan pencegahan lainnya mungkin perlu dilakukan.
    • Penyuluhan Kepada Klien
    • Beritahu klien untuk tidak minum alkohol atau penekan SSp dengan setiap analgesik karena bertambahnya depresi SSP dan pernafasan.
    • Anjurkan klien untuk mencari pertolongan profesinal dalam mengurangi adiksi narkotik. Beritahu klien mengenai program pengobatan metadon dan sumber lainnya di daerah saudara.
    • Peringati klien bahwa pemakaian narkotik yang terus menerus dapat menimbulkan adiksi.
    • Sebelum menjalani pembedahan besar, klien biasanya memerlukan narkotik selama 2-3 hari. Obat, dosis, dan interval dosis berubah-ubah sesuai dengan keperluan klien. Tindakan nonfarmakologik untuk meredakan nyeri mungkin membantu, seperti mengubah posisi, menggosok punggung, dan ambulasi. Jika nyeri menetap, pengobatan mungkin perlu diubah berdasrkan penilaian nyeri.


    • Beritahu klien untuk melaporkan jika mengalami pusing atau sulit bernafasa ketika memakai narkotik. Pusing dapat disebabkan oleh hipotensi ortostatik. Nasehatkan klien untuk berjalan dengan hati-hati atau hanya dengan bantuan.
    • Beritahu klien untuk melaporkan jika mengalami konstipasi dan retensi urin.
    • Evaluasi
    • Evaluasi efektifitas dari analgesik narkotik dalam mengurangi atau meredakan nyeri. Jika nyeri menetap setelah beberapa hari, sebab harus ditentukan atau narkotik perlu diganti.
    • Evaluasi stabilitas tanda-tanda vital. Tanda-tanda abnormal, seperti penurunan tekanan darah harus dilaporkan.

    OBAT OTONOM

    Ari Kurnianingsih. S.Si,Apt



    SISTEM OTONOM

    SIMPATIS
    1. NOREPINEFRIN/NORADRENALIN
    2. EPINEFRIN/ADRENALIN

    • ADRENORESEPTOR α, β1, DAN β2
    • EFEK DILATASI PUPIL PADA OTOT RADIALIS PUPIL- RESEPTOR α
    • SEKRESI SALIVA KENTAL PADA KELENJAR SALIVA- RESEPTOR α
    • PADA PEMBULUH DARAH RESEPTOR α-VASOKONSTRIKSI
    • PADA PEMBULUH DARAH RESEPTOR β2-VASODILATASI
    • PADA JANTUNG RESEPTOR β1-MENINGKATKAN FREKUENSI DAN KEKUATAN POMPA
    • PADA PARU, RESEPTOR β2-BRONCHODILATASI
    • PADA USUS, SELURUH RESEPTOR MENYEBABKAN PENURUNAN MOTILITAS DAN TONUS USUS(DINDING USUS) DAN PROSES EKSITASI PADA SFINGTER USUS
    • PADA HATI, MENGEKSITASI YANG MENYEBABKAN GLIKOGENOLISIS DAN GLUKONEOGENESIS
    • PADA KANDUNG KEMIH RESEPTOR β2-RELAKSASI
    • PADA UTERUS BISA RELAKSASI ATAUPUN KONSTRIKSI TERGANTUNG KEADAAN HORMON
    • PADA MEDULA ADRENAL MENGEKSTASI PENGELUARAN EPINEFRIN/ ADRENALIN
    • PADA KANDUNG KEMIH MENYEBABKAN RELAKSASI
    • PADA SFINGTER MENYEBABKAN KONSTRIKSI
    • VASDEFERENS DAN VESIKULA SEMINALIS MENYEBABKAN EJAKULASI
    • PADA OTOT PILOMOTORIK-MENYEBABKAN PILOEREKSI

    SISTEM PARASIMPATIS ASETILKOLIN RESEPTOR ASETILKOLIN RESEPTOR MUSKARINIK RESEPTOR NIKOTINIK

    RESEPTOR MUSKARINIK M1 OTAK & SEL PARIETAL LAMBUNG
    M2 JANTUNG
    M3 OTOT POLOS & KELENJAR
    RESEPTOR NIKOTINIK PD GANGLION OTONOM
    DAN MEDULA ADRENAL
    DIBLOK OLEH HEKSAMETONIUM
    PADA GANGLION DAN
    SBNGN SYARAF OTOT
    DI BLOK OLEH TUBOCURARIN


    SECARA UMUM, MEKANISME KERJA ASETILKOLIN BERTENTANGAN DG STIMULASI SIMPATIS
    1. PADA KELENJAR LACRRIMAL-MENSEKRESI AIR MATA
    2. PADA OTOT SIRKULAR IRIS-MENGKONSTRIKSI PUPIL
    3. PADA OTOT SILIARIS-MENGAKOMODASI MATA PADA PANDANGAN DEKAT
    4. PADA KELENJAR SALIVA-MEMPERBANYAK SEKRESI SALIVA ENCER
    5. PADA OTOT JANTUNG-MENURUNKAN FREKUENSI DAN KEKUATAN POMPA
    6. PADA JALAN NAFAS PARU-MENYEBABKAN BRONCHO KONSTRIKSI DAN BRONCHOSEKRESI
    7. PADA DINDING DAN SEKRESI USUS-MENINGKATKAN MOTILITAS DAN TONUS, TAPI PADA SFINGTER USUS MENGHAMBAT KONTRAKSI
    8. PADA PANKREAS MENINGKATKAN SEKRESI KELENJAR EKSOKRIN DAN ENDOKRIN
    9. PADA KANDUNG KEMIH MERANGSANG MIKSI
    10. PADA REKTUM MERANGSANG DEFEKASI
    11. PADA PENIS MENYEBABKAN EREKSI

    OBAT OTONOM YG BEKERJA PADA SINAPS KOLINERGIK

    • KOLINOMIMETIK(obat seperti asetilkolin)
    • AGONIS NIKOTINIK DAN MUSKARINIK
    • (lgsg bekerja pd reseptor)
    • ANTI KOLINESTERASE
    • (mcgh penguraian Asetilkolin)

    AGONIS MUSKARINIK SEPERTI
    1. -PILOKARPIN DAN KARBAKOL YG DIGUNAKAN UTK MENURUNKAN TEKANAN INTRA OKULAR
    2. -BETANEKOL, DULU UNTUK MENSTIMULASI KANDUNG KEMIH PADA RETENSI URIN
    3. ANTIKOLINESTERASE
    4. DIGUNAKAN UNTUK EFEK NIKOTINIKNYA PADA SAMBUNGAN OTOT, UTK MIASTENIA GRAVIS DAN MENGEMBALIKAN EFEK RELAKSAN POST OP

    ANTAGONIS MUSKARINIK
    BLOK EFEK ASETILKOLIN YG DILEPASKAN OLEH TERMINAL SYARAF PARASIMPATIS PASCA GANGLION DG SENSITIVITAS ORGAN AFEKTOR YG BERFARIASI
    SEKRESI KELENJAR SALIVA, BRONCHUS & KELENJAR KERINGAT-PLG SENSITIV THD BLOKADE
    DOSIS LBH TINGGI –DILATASI PUPIL, MELUMPUHKAN OTOT AKOMODASI, TAKIKARDI LWT BLOK TONUS VAGAL PD JANTUNG
    DOSIS LBH TINGGI LG- BLOKIR KONTROL PARASIMPATIS GIT & KANDUNG KEMIH.
    SEKRESI ASAM LAMBUNG RESISTEN DARI BLOKADE



    CONTOH ANTAGONIS MUSKARINIK
    1. ATROPIN, HYOSCINE(SCOPOLAMIN), IPRATROPIUM BROMIDE
    2. PENGGUNAAN ANTAGONIS MUSKARINIK
    3. BLOK VAGUS YG MEMPERLAMBAT JANTUNG DAN MENGHAMBAT SEKRESI BRONCHUS
    4. MENGURANGI SPASME USUS, CTH PD SYNDROME BOWL
    5. PD PARKINSON, CTH : BENZATROPIN
    6. MENCEGAH MOTION SICKNEES CTH : HYOSCINE
    7. DILATASI PUPIL PD PEMERIKSAAN OPTHALMOLOGI CTH : TROPIKAMIN
    8. BRONKHODILATOR PD ASMA CTH: IPRATROPIUM BROMIDE

    OBAT YG BEKERJA PADA SYARAF SIMPATIS
    SIMPATOMIMETIK
    NE-DIKELUARKAN DARI UJUNG SYARAF SIMPATIS. TAPI PD KONDISI STRESSVMEDULA ADRENAL DPT MENG-EKSKRESI EPINEFRIN/ADRENALIN
    YANG BEKERJA SECARA TIDAK LANGSUNG
    (PADA ADRENOSEPTOR α MAUPUN β)
    YANG BEKERJA SECARA LANGSUNG
    (AKTIFITAS BERGANTUNG PADA SPESIFISITAS RESEPTOR α DAN β SERTA REFLEKS KOMPENSASI YG DITIMBULKANNYA)


    CONTOH SIMPATOMIMETIK YG BEKERJA TIDAK LANGSUNG
    • AMFETAMIN- EFEK HIPERTENSI, TAKIKARDI DAN STIMULAN SENTRALNYA DISEBABKAN PELEPASAN KATEKOLAMIN
    • KATEKOLAMIN YANG DILEPASKAN PADA PENGGUNAAN DEKSAMFETAMIN DAN METILFENIDAT JUGA DAPAT MENENANGKAN ANAK YG HIPER KINETIK
    • DEXSAMFETAMIN DAN MODAFINIL JUGA MENGANDALKAN PELEPASAN KATEKOLAMIN UNTUK MENGATASI KETERGANTUNGAN/NARKOLEPSI AMFETAMIN
    • KOKAIN, SELAIN SEBAGAI ANASTETIK LOKAL, MERUPAKAN SIMPATOMIMETIK, KARENA MENGHAMBAT AMBILAN KEMBALI(REUPTAKE) NOREPINEFRIN OLEH TERMINAL SYARAF. KOKAIN PUNYA EEFEK STIMULAN SENTRAL YG KUAT SEHINGGA SERING DISALAH GUNAKAN



    SIMPATOMIMETIK YANG BEKERJA SECARA LANGSUNG
    EPINEFRIN DAN NOREPINEFRIN DIRUSAK DALAM USUS DAN MEMPUNYAI DURASI KERJA YANG PENDEK BILA DISUNTIKKAN, KRN ADANYA REUPTAKE DAN METABOLISME.
    EFEK PADA RESEPTOR β1- MENINGKATKAN TEKANAN DARAH DG MENINGKATKANFREKUENSI DAN KEKUATAN DENYUT JANTUNG. EFEK PADA RESEPTOR α VASOKONSTRIKSI PADA VISCERA/KULIT, TETAPI STIMULASI PADA β2 MENYEBABKAN VASODILATASI OTOT SKELET DAN AKHIRNYA RESISTENSI PERIFER TOTAL BISA TURUN.
    EFINEFRIN INJ PENTING UNTUK MENANGANI SYOK ANAFILAKTIK
    ISOPRENALIN MENSTIMULASI SEMUA RESEPTOR β, MENINGKATKAN DENYUT JANTUNG, MENYEBABKAN VASODILATASI, SEHINGGA MENURUNKAN TEKANAN DIASTOLIK DAN TEKANAN ARTERI
    AGONIS ADRENOSEPTOR β2 SELEKTIF MENYEBABKAN BRONCHODILATASI PADA DOSIS YG MASIH BISA DITERIMA OLEH JANTUNG. BYK DIGUNAKAN UNTUK TERAPI ASMA


    ANTAGONIS ADRENOSEPTOR

    BLOKER α- MENURUNKAN TONUS ARTERIOL DAN VENA, MENYEBABKAN PENURUNAN RESISTENSI PERIFER DAN HIPOTENSI, DAN MEMULIHKAN EFEK PENEKANAN EPINEFRIN. BLOKER α MENYEBABKAN REFLEKS TAKIKARDIA YANG LEBIH HEBAT PADA OBAT NON SELEKTIF YG JUGA MEMBLOKS RESEPTOR PRASINAPS α2 PADA JANTUNG, KARENA PELEPASAN NOREPINEFRIN-MENSTIMULASI RESEPTOR β JANTUNG-TAKIKARDI

    PRAZOSIN-ANTAGONIS α1 SELEKTIF-TAKIKARDI RINGAN

    Agonis alfa 1 dan alfa 2 : NE dan epinefrin
    Agonis alfa2 : klonidin metilnorepinefrin
    Agonis alfa1 : fenilefrin, metaraminol


    Agonis beta1 dan beta2 : epinefrin, isoprenalin
    Agonis beta 2 : salbutamol, terbutalin
    Agonis beta 1 : NE, Dobutamin

    Antagonis adrenoseptor alfa/ bloker alfa
    Alfa1 dan alfa2 : fenoksi benzamin & fentolamin
    Alfa 1 : prazosin


    Bloker beta1 dan beta 2 : propanolol, nadolol, timolol, oksprenolol, pindolol, karvedilol
    Bloker beta 1 : kardioselektif : metoprolol, atenolol, asebutolol

    Monday, April 26, 2010

    OBAT SALURAN PERKEMIHAN

    ANTISEPTIK SALURAN KEMIH
    Antiseptik saluran kemih bekerja pada tubulus ginjal dan kandung kemih, sehingga efektif dalam mengurangi pertumbuhan bakteri.


    Kelompok antiseptik saluran kemih adalah nitrofurantoin, metenamin, quinolon, dan trimetoprim.
    Nitrofurantoin
    Nitrofurantoin merupakan bakteriostatik atau bakterisidal dan efektif terutama terhadap E. coli.
    Obat ini dipakai untuk pengobatan ISK akut dan kronik. Pada fungsi ginjal yang normal, obat akan cepat dieliminasi karena waktu paruhnya yang singkat yaitu 20 menit; tetapi obat ini dapat menumpuk pada serum jika terjadi gangguan saluran kemih.
    Metenamin
    Metenamin (Mandelamine, Hiprex) menimbulkan efek bakterisidal jika pH urin kurang d 5,5.
    Metenamin efektif dalam melawan organisme gram positif dan gram negatif, terutama E Coli dan Pseudomonas aeruginosa

    Obat ini dipakai untuk infeksi saluran kemih kronik. Obat ini cepat diabsorpsi melalui saluran gastrointestinal, dan sekitar 90% dari obat ini diekskresi tanpa mengalami perubahan.

    Metenamin membentuk amonia dan formaldehida dalam urin yang asam; oleh karena itu, urin perlu diasamkan untuk menghasilkan efèk bakterisidal.

    Quinolon
    Quinolon merupakan salah satu dan kelompok antiseptik saluran kemih terbaru dan efektif dalam melawan ISK bagian bawah.
    Quinolon terbaru (sinoksasin, norfioksasin, dan siprofloksasin) efektif dalam melawan banyak macam ISK. Dosis obat harus diturunkan jika terdapat disfungsi ginjal.
    Farmakokinetik
    Sinoksasin diabsorpsi dengan baik dan saluran gastrointestinal, dan 35% dan norfloksasin diabsorpsi dan saluran gastrointestinal.
    Sinoksasin tinggi berikatan dengan protein, tetapi norfloksasin hanya 10-15% yang berikatan dengan protein. Waktu paruh dari ke dua obat ini adalah singkat; obat-obat ini biasanya diberikan dua kali sehari.
    Baik sinoksasin maupun norfloksasin diekskresi sebagai metabolit tanpa mengalami perubahan ke dalam urin. Selain itu sebagian dan metabolit norfloksasin diekskresikan ke dalam feses.
    Farmakodinamik
    Sinoksasin dan norfloksasin menghambat sintesis DNA bakteri, merupakan obat antibakterial saluran kemih yang kuat dan efektif untuk melawan mikroorganisme gram positif dan gram negatif, termasuk Pseudomonas aeruginosa.

    Antasid mengurangi absorpsi obat- obat ini. Probenesid memperpanjang kerja sinoksasin dan norfloksasin. Obat-Obat ini mempengaruhi hasil dari beberapa pemeriksaan Iaboratorium, mungkin menyebabkan peningkatan BUN, kreatinin serum, alkali fosfatase serum, SGOT dan SGPT serum.
    Trimetoprim
    Trimetoprim dapat dipakai tersendiri untuk pengobatan ISK atau dalam kombinasi dengan sulfonamid, sulfametoksazol (preparat kombinasi mi secara generik dikenal sebagai ko-trimoksazol), untuk mencegah terjadinya organisme yang resisten terhadap trimetoprim.
    Obat mi menghasilkan efek bakterisidal dengan masa kerja lambat untuk melawan hampir semua organisme gram positif dan gram negatif.

    Trimetoprim dipakai untuk pengobatan dan pencegahan ISK akut dan kronik.
    Dalam keadaan normal waktu paruh dan trimetoprim adalah 9-11 jam; waktu paruhrya akan lebih panjang jika terdapat disfungsi ginjal.
    Efek Samping dan Reaksi yang Merugikan
    NITROFURANTOIN Gangguan gastrointestinal, seperti anoreksia, mual, muntah, diane, dan nyeri abdomen; dan reaksi paru-paru, seperti dispnea, nyeri dada, demam, dan batuk.

    METENAMIN Metenamin juga mempunyai efek samping gastrointestinal yang meliputi mual, muntah, dan daire. Selain itu juga terdapat beberapa reaksi alergi terhadap zat warna pada Hiprex.
    TRIMETOPRIM Gejala-Gejala gastrointestinal, yaitu mual dan muntah; dan masalah kulit, seperti ruam kulit dan pruritus, dapat menyertai pemakaian trimetoprim.
    QUINOLON Pemakaian asam nalidiksat dapat meniinbulkan efek samping benikut: sakit kepala, pusing, sinkope (pingsan), neuritis penifer, gangguan penglihatan, dan ruam kulit. Mual, muntah, diare, sakit kepala,
    ANALGESIK SALURAN KEMIH
    Fenazopiridin hidrokiorida (Pyridium), merupakan suatu analgesik saluran kemih yang telah dipakai sejak 40 tahun yang lalu.

    Obat ini dipakai untuk meredakan nveri, rasa terbakar, dan sering berkemih serta rasa dorongan berkemih yang merupakan gejala dan ISK bagian bawah.

    Farmakokinetik
    Fenazopiridin diabsorpsi dengan baik melalui saluran gastrointestinal. Persentase pengikatan pada protein dan waktu paruhnya tidak diketahui. Fenazopiridin dimetabolisme oleh hati dan diekskresikan ke dalam urin, yang berwarna jingga kemerahan akibat zat warna dalam obat yang tidak berbahaya.

    Fenazopiridin telah tersedia sejak beberapa dasawarsa yng lalu untuk mengurangi nyeri dan rasa tidak enak sewaktu berkemih. Obat ini mempunyai efek anestetik pada selaput lendir saluran kemih; tetapi cara kerja pastinya tidak diketahui.
    EFEK SAMPING REAKSI YANG MERUGIKAN
    Anoreksia, mual, muntah, hepatotoksisitas, nefrotoksisitas, diare, sakit ulu hati, ruam trombositopenia, agianulosio kulit urin berwarna penia, lekopenia, anemia hemolitik
    PERANGSANG SALURAN KEMIH
    Jika fungsi kandung kemih menurun atau hilang akibat kandung kemih neurogenik (suatu disfungsi akibat lesi pada sistem saraf) akibat cedera medula spinalis (paraplegia, hemiplegia) atau cedera kepala yang berat, maka dapat dipakai parasimpatomimetik untuk merangsang miksi (berkemih).
    Obat pilihannya, yaitu betanekol kiorida (Urecholine), merupakan suatu perangsang saluran kemih, dan obat ini bekerja dengan meningkatkan tonus kandung kemih.
    ANTISPASMODIK SALURAN KEMIH
    Spasme saluran kemih akibat infeksi atau cidera dapat diredakan dengan antispasmodik yang bekerja langsung pada otot polos dan saluran kemih.
    Kelompok obat-obat ini (dimetil sulfoksida juga dikenal dengan DMSOI, oksibutinin, dan flavoksat) merupakan kontraindikasi jika terdapat obstruksi saluran kemih atau gastrointestinal, atau jika orang tersebut menderita glaukoma.
    Antispasmodik mempunyai efek yang sama dengan antimuskarinik, parasimpatolitik, dan antikolinergik (dibahas dalam Bab 18). Efek sampingnya meliputi mulut kering, peningkatan denyut jantung, pusing, distensi usus halus, dan konstipasi.
    Proses Keperawatan: Gangguan Saluran Kemih
    Pengkajian
    • Dapatkan riwayat dan klien mengenai masalah klinis dengan ISK atau gangguan saluran kemih lainnya.
    • Kaji klien akan adanya tanda-tanda dan gejala-gejala daei ISK, seperti nyeri atau rasa terbakar sewaktu berkemih, dan sering serta rasa dorongan berkemih.

    Perencanaan • Tanda-Tanda dan gejala-gejala infeksi saluran kemih pada klien akan hilang dalam 10 hari.

    Intervensi Keperawatan • Pantau keluaran urin klien. Jika terdapat oliguria dan anuria, perlu diberikan perhatian khusus mengenai keluaran urin Sewaktu memberikan antiseptik saluran kemih. Segera laporkan jika keluaran urin berkurang. • Sebelum memulai terapi, lakukan pembiakan urin untuk menentukan organisme penyebab ISK. • Amati klien akan adanya efek samping dan reaksi yang merugikan terhadap obat-obat antiseptik saluran kemih. Neuropati perifer (kesemutan, baal pada anggota gerak) dapat terjadi akibat insufisiensi ginjal (keti d akmampuan untuk mengekskresikan obat) atau pada pemakaian nitrofurantoin jangka panjang. Neuropati perifer dapat reversibel.
    PENYULUHAN KEPADA KLIEN
    NITROFURANTOIN
    Nasehatkan klien urituk berkumur dengan bersih setelah meminum nitrofurantoin. Obat mi dapat menodai gigi.
    Beritahu klien untuk memakai obat bersama makanan dan untuk menghindari antasid karena dapat menghambat absorpsi obat.
    Nasehatkan klien bahwa urin akan berubah warna menjadi kecokiatan akibat obat dan hal mi tidak berbahaya.
    Nasehatkan klien untuk melaporkan tanda-tanda adanya superinfeksi, atau infeksi jamur atau bakteri sekunder.

    METENAMIN Nasehatkan klien untuk meminum sari buah cranberry atau meminum vitamin C atas persetujuan dokter untuk menjaga agar urin tetap asam. Makanan yang bersifat basa, seperti susu dan beberapa macam sayur-sayuran, dapat rneningkatkan pH urin. pH urin harus kurang dan 5,5 agar antiseptik dapat efektif.

    QUINOLON
    Nasehatkan klien untuk menghindari menjalankan mesin yang berbahaya atau mengemudikan mobil sewaktu memakai obat, terutamäjika timbul rasa pusing.
    Nasehatkan klien bahwa fotosensitivitas merupakan efek samping dan hampir Semua obat dalam kelompok mi. Klien harus menggunakan sunbiock dan baju pe1indun jika terkena sinar matahari.
    Beritahu klien untuk minum sedikitnya enam sampai delapan gelas cairan setiap harinya untuk mencegah pembentukankristaluria

    FENAZOPIRIDIN
    Nasehatkan klien bahwa urin akan berubah warna menjadi jingga kemerahan yang tidak berbahaya.
    BETANEKOL
    Beritahu klien untuk melaporkan jika mengalami rasa tidak enak pada abdomen, diare, mual, muntah, bertambahnya air liur, rasa dorongan berkemih, kulit wajah kemerahan, atau berkeringat.
    Evaluasi
    Evaluasi efektivitas antiseptik, analgesik dan antispasmodik saluran kemih untuk menyembuhkan ISK.

    Obat Untuk Gangguan Jantung

    PENDAHULUAN
    Tiga kelompok obat, glikosida jantung, antiangina, dan antiaritmia, akan dibahas dalam bab ini. Obat-obat dalam kelompok ini mengatur kontraksi jantung, frekuensi dan irama jantung, dan aliran darah kemiokardium (otot jantung).
    klik ini dulu

    GLIKOSIDA JANTUNG

    Efek utama digoksin adalah untuk meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung. Akibatnya curah jantung meningkat, ukuran jantung mengecil, penurunan tekanan vena dan akhirnya meredanya edema.
    Selain itu digoksin menurunkan frekuensi denyut jantung. Digoksin juga menurunkan konduksi melalui nodus AV, sehingga melindungi ventrikel terhadap takikardia atrial.
    Farmakokinetik
    Digoksin dan digitoksin berbeda dlm laju absorbsi, pengikatan pd prot. & paruhx. Ke2 obat ini pny wkt paruh yg panjang & akumulasi obat dpt terjd. Krn digitoksin pny wkt paruh yg > panjang, mk toksisitas dpt berlsg > lm stlh obat dihentikan dr pemakaian digoksin.
    30 % dr digoksin dimetab o/ hati & 65% dieks o/ ginjal hampir tanpa perub, sedangkan digitoksin dimetab o/ hati & dieks o/ ginjal. G3 fs ginjal dpt m’pengaruhi metab digitoksin.
    G3 fs tiroid dpt m’pengaruhi metab glikosida jntg. Bg klien dgn hipotiroidisme, dz digoksin/digitoksin hrs ditrnkan; pd hipertiroidisme dz mungkin perlu dinaikkan.
    Farmakodinamik
    Mula kerja & kerja puncak dr digoksin oral dan IV berbeda2. Kadar serum terapeutik u/ digoksin ad 0,5 – 2,0 ng/mL & u/ digitoksin ad 10 – 35 ng/mL. U/ mengobati PJK hrs dicapai kadar terapeutik serum yg > rendah, sedangkan u/ flutter atau fibrilasi atrial diperlukan kadar serum terapeutik yg > tinggi.
    Dr ke2 obat ini, digoksin > sering dipakai. Obat ini dpt diberikan mlli oral atau IV.
    Toksisitas digitalis
    OD atau akumulasi digoksin dpt m’sebabkan toksisitas digitalis. Tanda2 & gejalax ad :
    Anoreksia
    Diare
    Mual
    Muntah
    Bradikardia
    Takikardia
    dll


    Interaksi Obat
    Interaksi obat dgn preparat digitalis dpt m’sebabkan toksisitas digitalis. Banyak dr diuretik kuat spt furosemid (Lasix) & hidroklorotiazid (HidroDiuril) memperberat kehilangan K dr tbh. Hipokalemia yg timbul akan meningkatkan efek preparat digitalis, & terjdlah toksisitas digitalis. Preparat kortison yg dipakai scr sistemik akan menambah retensi Na & eks atau kehilangan Kalium & jg m’sebabkan timbulnya Hipokalemia.
    Proses Keperawatan: Glikosida Jantung
    Pengkajian
    Tetapkan dulu fungsi dasar jantungnya, untuk dibandingkan dengan efek terapeutik&keracunan digoksin.
    Denyut apek, nadi perifer, irama&frekuensi serta kualitas gelombang nadi, umur, BB&status elektrolit harus dicatat.
    Jika diuretik dipakai bersama digoksin, pengetahuan tentang efek obat ini terhadap kadar kalium serum & kemungkinan keracunan digoksin pada hipokalemia, penting bagi perawat.
    Keadaan lain yang dapat menyebabkan hipokalemia adalah gangguan gastrointestinal, stres & asupan makanan yang buruk.

    Intervensi Keperawatan
    Ketahui beda antara digoksin dan digitoksin.
    Periksa adanya payah jntg.
    Penyuluhan kpd klien
    Beritahu klien ttg cr memeriksa denyut nadi.
    Nasehatkan klien u/ mkn yg kaya akan kalium.
    Jlskan pd klien ttg pentingnya kepatuhan thd terapi obat.
    Digoksin diberi sesudah makan untuk mengurangi iritasi lambung.
    Nasehatkan klien u/ tidak memakai obat2an bebas.



    Evaluasi
    Efek terapuetik digoksin akan tampak berupa perbaikan keadaan paru, edema perifer & kelelahan, peningkatan volume nadi & keluaran urine, dan tanda lain perbaikan curah jantung seperti awas mental & toleransi latihan.
    Karena bendungan pembuluh darah gastrointestinal berkurang, maka nafsu makan bertambah&mual hilang.
    Bila gagal jantung tidak dapat diatasi, perbaikan hanya terbatas & pemberian obat perlu berlanjut terus (menahun)
    OBAT-OBAT ANTIANGINA
    Ad : obat2an yg dipakai u/ mengobati angina pektoris dgn meningkatkan aliran drh baik dgn me+ suplai O2 atau dgn me-i kebutuhan miokardium.

    Jenis Angina:
    Klasik (stabil) yg terjd pd keadaan stres atau bekerja.
    Tdk stabil (Pra-infark) yg sering kali terjd sepanjang hari dan semakin berat.
    Varian (Prinz Metal) yg terjd sewkt istirahat.

    Nitrat
    Farmakokinetik
    Gliseril trinitrat, sorbid nitrat. Gliseril trinitrat 600 mcg & isosorbid nitrat 5 mg paling sering dipakai untuk mengatasi serangan akut. Keduanya diberi secara sublingual dan bekerja dalam 2 mnt selama sekitar 20 mnt. Sekitar 40 – 50% dr nitrat yg diabsorbsi mlli saluran gastrointestinal akan diinaktivasi o/ metab hati. Nitrogliserin dlm salep NITRO-BID dan dlm Pacth Transderm Nitro akan diabsorbsi scr perlahan mlli kulit.
    Farmakodinamik
    Nitrat bekerja lsg pd otot polos pembuluh drh, m’sebabkan relaksasi dan dilatasi. Obat2 ini menurunkan preload jntg (jml drh dlm ventrikel pd akhir diastole), afterload (tahanan pembuluh drh perifer) dan mengurangi kebutuhan O2 miokardium. berakibat penurunan tahanan perifer dan penurunan aliran balik vena ke jantung. Jadi kebutuhan oksigen miokard menurun.

    Efek samping dan reaksi yg merugikan dr Nitrat:
    Sakit kepala
    Hipotensi
    Pusing
    Lemah
    Ingin pingsan
    Penghambat Beta
    Farmakokinetik
    Scr oral, penghambat beta diabsorbsi dgn baik. Absorbsi kapsul sustained-release diabsorbsi scr lambat. Wkt paruh penghambat beta non selektif propanolol (Inderal) ad 3-6 jam. Dr gol penghambat beta selektif, atenolol (Tenormin) memiliki wkt paruh 6-9 jam & metoprolol (Lopresor) ad 3-7 jam. Propanolol & metoprolol dimetab & dikeluarkan o/ hati. 50% atenolol dieks tidak berubah o/ ginjal, & 50% dieks tanpa diabsorbsi o/ feses.

    Farmakodinamik
    Mula kerja dr propanolol ad 30 mnt & kerja puncakx dicapai dlm 1-1,5 jam & masa kerjax ad 4-12 jam. U/ mula kerja atenolol ad 60 mnt, puncak kerjax dicapai dlm 2-4 jam, & masa kerjax ad 24 jam; sedangkan u/ mula kerja metoprolol dicapai dlm 15 mnt & lama kerjax ad 6-12 jam.


    Efek samping dan reaksi yg merugikan dr Penghambat Beta:
    Penurunan denyut nadi
    Penurunan tekanan drh
    Bronkospasme
    Respon tingkah laku
    Impoten
    Reflek takikardi
    Reflek vasokontriksi
    Penghambat Rantai Kalsium
    Farmakokinetik
    3 penghambat rantai kalsium, verapamil (Calan), nifedipine (Procardia0, dan diltiazem (Cardizem), telah dipakai dgn selektif dlm pengobatan angina jangka panjang. 80 – 90% dr penghambat rantai kalsium diabsorbsi mlli mukosa gastrointestinal. Tetapi metab first-pass o/ hati akan me-i tersediax obat bebas dlm sirkulasi & hny 20% dr verapamil, 45-65% diltiazem, dan 35-40% nifedipine yg bioavailable. Ke3 obat ini tinggi berikatan dengan prot (80-90%) dan wkt paruhx ad 2-6 jam.

    Farmakodinamik
    Bradikardia merup mslh yg sering terjd pd verapamil. Nifedipine paling kuat, me+ vasodilatasi koroner & PD perifer, dan dpt terjd hipotensi. Mula kerjax 10 mnt u/ verapamil dan 30 mnt u/ nifedipine & diltiazem. Lama kerjax ad 3-7 jam (PO) dan 6-8 jam u/ nifedipine & diltiazem.


    Efek samping dan reaksi yg merugikan dr Penghambat Rantai Kalsium:
    Sakit kepala
    Hipotensi
    Pusing
    Perub fs hati dan ginjal

    Proses Keperawatan: Obat2 ANTIANGINA
    Pengkajian
    Periksa TTV
    Dapatkan riwayat medis dan pengobatan klien.

    Perencanaan
    Klien akan memakai obat2 antiangina sebagaimana diresepkan dan bebas dr angina

    Intervensi
    Pantau TTV
    Oleskan salep Nitro-Bid dgn menggunakan penekan lidah atau sarung tangan
    Minta klien u/ duduk atau berbaring sewkt memakai nitrat pertama kali
    Tawarkan air sblm memberi nitrat
    Laporkan jk angina menetap.

    PENYULUHAN KPD KLIEN

    Nitrat
    Beritahu klien ttg cara pemakaian nitrogliserin sublilngual (SL).
    Jelaskan pd klien u/ memakai tablet nitrogliserin SL jk timbul nyeri dada.
    Berikan penjelasan pd klien cara menggunakan Transderm Nitro patch.
    Nasehati klien bahwa seringkali akan timbul sakit kepala wkt mula2 memakai obat nitrogliserin dan biasax berls selama 30 mnt.
    Nasehati klien ttg kemungkinan timbulx toleransi thd nitrogliserin.
    Beritahu klien u/ menelan obat nitrat ½ jam sblm atau ssdh mkn.
    Penghambat Beta dan Penghambat Rantai Kalsium
    Beritahu klien u/ tdk menghentikan obat2 ini tanpa persetujuan dokter.
    Nasehati klien u/ memanggil dokter jika pusing atau akan pingsan


    Evaluasi
    Tidak berhasilnya nitrat mengatasi nyeri dapat menunjukkan terjadi IM, dan harus ditindaklanjuti.
    Pemantauan EKG selama nyeri dada dan setelah mereda mungkin bermanfaat untuk melihat nitrat.
    ANTIDISRITMIA
    Ad : obat2an yg dipakai u/ mengobati setiap penyimpangan frekuensi atau pola denyut jntg yang tdk normal.

    Disritmia jntg sering kali diikuti o/ infak miokardium (serangan jntg), hipoksia, hiperkapsia (meningkatnya CO2 dlm drh), ke>an katekolamin atau ketdk seimbangan elektrolit.

    Obat-obat antiaritmia dapat dibagi berdasarkan penggunaan kliniknya dalam obat-obat untuk aritmia supraventrikel (misal verapamil). Obat-obat untuk aritmia supraventrikel dan aritmia ventrikel (misal disopiramid), dan obat-obat untuk aritmia ventrikel (misal lidokain).


    Farmakokinetik
    Obat antidisritmia diabsorbsi dgn cepat pd mukosa gastrointestinal, kemudian dieks o/ ginjal tanpa mengalami perub.

    Farmakodinamik
    Menghambat perangsangan adrenergik dr jntg
    menekan eksitabilitas dan kontraktilitas dr miokardium
    Menurunkan kec hantaran pd jar jntg
    Meningkatkan masa pemulihan (repolarisasi) dr miokardium
    Menekan otomatisitas (depolarisasi spontan u/ memulai denyutan)

    Efek samping dan reaksi yg merugikan dr Penghambat Rantai Kalsium:
    Mual
    Muntah
    Diare
    Kekacauan mental
    Hipotensi
    Bradikardia
    Proses Keperawatan: ANTIDISRITMIA
    Pengkajian
    Periksa TTV dan EKG
    Dapatkan riwayat medis dan pengobatan klien.
    Periksa kadar terapeutik obat di dlm serum.

    Perencanaan
    Denyut jntg klien akan kembali pd irama sinus N.
    Klien mengikuti pemakaian obat dgn teratur.

    Intervensi
    Pantau TTV dan EKG
    Bila pemberian obat scr IV atau bolus, hrs diberikan dlm periode 2-3 mnt atau sesuai resep dokter.

    PENYULUHAN KPD KLIEN

    Beritahu klien u/ melaporkan efek samping reaksi yg merugikan kpd perawat/dokter.
    Beritahu klien u/ minum obat sesuai anjuran dokter.
    Nasehati klien u/ tdk minum minuman alkohol atau kafein dan tdk merokok.
    Berikan instruksi spesifik u/ masing2 obat.

    Evaluasi
    Efektifitas antidisritmia yg diresepkan dgn membandingkan denyut jntg dasar dan nilai respon klien thd obat.
    Laporkan efek samping dan reaksi yg merugikan.
    Obat Antihipertensi
    Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah arteri melebihi normal dan kenaikan ini bertahan. Menurut WHO, tidak tergantung pada usia. Hipertensi mungkin dapat diturunkan dengan terapi tanpa obat (non-farmakoterapi) tau terapi dengan obat (farmakoterapi). Semua pasien, tanpa memperhatikan apakah terapi dengan oabt dibutuhkan, sebaiknya dipertimbangkan untuk terapi tanpa obat. Caranya dengan mengendalikan bobot badan, pembatasan masukan sodium, lemak jenuh, dan alkohol serta pertisipasi dalam program olah raga dan tidak merokok.
    METODA NONFARMAKOLOGIS UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH
    1.teknik –teknik mengurangi stres
    2.olah raga(meningkatkan lipoprotein berdensitas tinggi[HLDL])
    3.pembatasan garam
    4.mengurangi minum alkohol
    5.mengurangi berat badan

    Obat-obat anti hipertensi ,dapat dipakai sebagai obat tunggal atau dicampur denga obat lain

    DIKLASIFIKASIKAN MENJADI 5 KATEGORI al:
    1.deuritik
    2.menekan simpatik(simpatolitk).
    3.vasodilatator anterior langsung.
    4.antagonis angiotensin
    5.penghambat saluran kalsium.
    a. Penghambat saraf adrenergik
    Obat dolongan ini bekerja dengan cara mencegah pelepasan noradrenalin dari pasca ganglion saraf adrenergik. Obat-obat golongan ini tidak mengendalikan tekanan darah berbaring dan dapat menyebabkan hipotensi postural. Karena itu, obat-obat ini jarang digunakan, tetapi mungkin masih perlu diperlukan bersama terapi lain pada hipertensi yang resisten.
    • Debrisokuin
    • Reserpin
    b. Alfa-broker
    Sebagai alfa-broker, prazosin menyebabkan vasodilatasi arteri dan vena sehingga jarang menimbulkan takikardi. Obat ini menurunkan tekanan darah dengan cepat setelah dosis pertama, sehingga harus hati-hati pada pemberian pertama. Untuk pengobatan hipertensi, alfa-broker dapat digunakan bersama obat antihipertensi lain.
    • Deksazosin
    • Indoramin
    • Prasozin Hidroklorida
    • Terazosin
    c. Penghambat enzim pengubah anglotensin (penghambat ACE)
    Pengambat ACE bekerja dengan cara menghambat pengubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. Obat-obat golongan ini efektif dan pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Obat-obat golongan ini terutama diindikasikan untuk hipertensi pada diabetes tergantung insulin dengan nefropati, dan mungkin untuk hipertensi pada semua pasien diabetes.
    • Kaptopril
    • Benazepril
    • Delapril
    • Enalapril maleat
    d. Antagonis reseptor angiotensin II
    Sifatnya mirip penghambat ACE, bedanya adalah obat-obat golongan ini tidak menghambat pemecahan bradikin dan kinin-kinin lainnya, sehingga tampaknya tidak menimbulkan batuk kering parsisten yang biasanya mengganggu terapi dengan penghambat ACE. Karena itu, obat-obat golongan ini merupakan alternatif yang berguna untuk pasien yang harus menghentikan penghambat ACE akibat batuk yang parsisten.
    • Losaktan kalium
    • Valsatran
    e. Obat-obat untuk feokromositoma
    Fenoksibanzamin adalah alfa-broker kuat dengan banyak efek samping. Obat ini digunakan bersama bata-bloker untuk pengobtan jangka pendek episode hipertensi berat pada feokromositoma.
    Fentolamin adalah alfa-broker kerja pendek yang kadang-kadang juga digunakan untuk diagnosis feokromositoma.
    • Fenoksibanzamin
    • Fentolamin
    f. Obat antihipertensi yang bekerja sentral.
    Kelompok ini termasuk metildopa, yang mempunyai keuntungan karena aman bagi pasien asma, gagal jantung, dan kehamilan. Efek sampingnya diperkecil jika dosis perharinya dipertahankan tetap dibawah 1 g.
    • Klobidin hidroklorida
    • Metildopa
    • Guanfasin
    Diuretika
    Diuretika golongan tiazid digunakan untuk mengurangi edema akibat gagal jantung dan dengan dosis yang lebih rendah, untuk menurunkan tekanan darah. Diuretika kuat digunakan untuk edema paru akibat gagal jantung kiri dan pada pasien dengan gagal jantung yang sudah lama dan kombinasi diuretika mungkin selektif untuk edema yang resisten terhadap pengobatan dengan satu diuretika, misalnya diuretika kuat dapat dikombinasi dengan diuretika hemat kalium
    a. Diuretika golongan tiazid
    Tiazid dan senyawa-senyawa terkaitnya merupakan diuretika dengan potensi sedang, yang bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi natrium pada bagian awal tubulus distal. Mula kerja diuretika golongan ini setelah pemberian peroral lebih kurang 1-2 jam, sedangkan masa kerjanya 12-24 jam. Lazimnya tiazid diberikan pada pagi hari agar diuretika tidak mengganggu tidur pasien.
    • Bendrofluazid
    • Klortalidon
    • Hidroklortiazid
    b. Diuretika kuat
    Diuretika kuat digunakan dalam pengobatan edema paru akibat gagl jantung kiri. Pemberian intravena mengurangi sesak nafas dan prabeban lebih cepat dari mula kerja diuresisnya. Diuretika ini juga digunakan pada pasien gagal jantung yang telah berlangsung lama.
    • Frusemid
    • Bumetanid
    c. Diuretika hemat kalium
    Amilorid dan triamteren merupakan diuretika yang lemah. Keduanya menyebabkan retensi kalium dan karenanya digunakan sebagai alternatif yang lebih efektif daripada memberikan suplemen kalium pada pangguna tiazid atau diuretika kuat. Suplemen kalium tidak boleh diberikan bersama diuretika hemat kalium. Juga penting untuk diingat bahwa pemberian diuretka hemat kalium pada seorang pasien yang menerima suatu penghambat ACE dapat menyebabkan hiperkalemia yang berat.
    • Amilorid hidroklorida
    • Antagonis aldosteron
    • Sprironolakton
    d. Diuretika merkuri
    Meskipun efektif, diuretika merkuri sekarang hampir tidak pernah digunakan karena efek nefrotoksisitasnya. Mersalil harus diberikan lewat injeksi intramuskuler. Penggunaan intravena dapat menyebabkan hipotensi berat dan kematian mendadak. Obat ini sudah absolete dan telah diganti dengan loop diuretic yang jauh lebih aman.
    • Mersalil
    e. Diuretika osmotik
    Diuretika golongan ini jarang digunakan pada gagal jantung karena mungkin meningkatkan volume darah secara akut.
    • Manitol
    f. Diuretika penghambat enzim karbonik anhidrase
    Diuretika penghambat enzim karbonik anhidrase (asetazolamid) merupakan diyretika yang lemah dan jarang digunakan berdasarkan efek diuretikanya. Obat ini digunakan untuk profilaksis mountain sickness tetapi tidak menggantikan aklimatisasi.
    • Asetazolamid
    • Dorzolamid
    g. Kombinasi diuretika
    Disamping penambahan satu golongan diuretika pada diuretika yang lain, kekhawatiran terjadinya hipokalemia atau ketidakpatuhan pasien meningkatkan penggunaan kombinasi dengan diuretika hemat kalium. Bila digunakan untuk hipertens, perhatian khusus harus dicurahkan pada dosis tiazidnya, dimana dosis yang lebih rendah lebih dianjurkan.
    PENGKAJIAN
    Periksa tanda-tanda vital dasar untuk menemukan hasil abnormal dan bandingkan dengan hasil pemeriksaan selanjutnya.
    Periksa elektrolit serum
    Periksa anggota gerak untuk menemukan edema pitting, laporkan hasilnya
    Periksa bunyi pernafasan untuk menemukan kelainan.Laporkan bila positif biosa menunjukkan adanya gagal jantung kongestif


    PERENCANAAN
    Edema tungkai akan menghilang dalam waktu 1 minggu.
    Nilai-nilai laboratorium normal.Penggantian kalium mungkin perlu
    INTERVENSI KEPERAWATAN
    Pantau TTV, terutama tekanan darah dan denyut jantung.Laporkan adanya peningkatan atau tidak
    Pantau berat klien
    Pantau haluaran urin
    Pantau hasil-hasil pemeriksaan laboratorium urin
    PENYULUHAN KEPADA KLIEN
    Beritahu klien untuk mempertahankan nutrisi yang baik dan kurangi garam dan tingkatkan makana yang kaya kalium
    Beritahu pada klien untuk memantau denyut jantung jika meminum diuretik
    Anjurkan klien diebetik yang memakai diuretik tiasid untuk mengukur gula darahmya
    Anjurkan klien untuk mengikuti peraturan pemakaian obat dengan baik
    Nasehati klien untuk bangun dari posisi duduk ke posisi berdiri secara perlahan-lahan untuk mencegah efek hipotensi ortostatik
    EVALUASI
    Evaluasi efektivitas diuiretik dengan mencatat apakah edema berkurang atau menghilang.Mengganti diuretik mungkin perlu dilakukan apabila edema atau payah jantung kongestif timbul
    Obat yang mempengaruhi sistem koagulasi darah
    Pembentukan suatu trombus berlangsung melalui tiga tahap, yaitu (1) pemaparan darah pada suatu permukaan trombogenik vaskuler yang rusak. (2) suatu rangkaian peristiwa yang terkait dengan trombosit. (3) pengaktifan mekanisme pembekuan dengan sutu peran penting bagi trombin dalam pembentukan fibrin. Trombin sendiri merupakan suatu perangsang agragasi dan adhesi patelet yang sangat kuat. Sekali terbentu, trombus mungkin dipecah oleh fibrinolisis-terangsang plasmin.
    a. Antikoagulan
    Dibagi menjadi 2 sub-kelompok, yaitu
    1) Antikoagulan parenteral, yang dibagi dalam sub-kelompok lagi, yaitu:
    a) Heparin
    Heparin memulai antikoagulasi dengan cepat, namun mempunyai masa kerja yang singkat. Sekarang sering kali diacu sebagai heparin standar atau tidak terfraksinasi, untuk membedakannya dengan heparin bobot molekul rendah yang memiliki masa kerja yang lebih panjang.
    • Heparin

    b) Heparin bobot molekul rendah
    Terdapat bukti bahwa heparin bobot molekul rendah ternyata selektif dan seaman heparin standar dalam pencegahan tromboembolisme vena. Namun, pada praktek ortopedi golongan heparin ini mungkin lebih selektif.
    • Anoksaparin
    • Heparinoid
    2) Antikoagulan oral
    Antikoagulan oral mengantagonisasi efek vitamin K, dan perlu paling tidak 48-72 jam untuk efek antikoagulannya berkembang sempurna. Jika efek yang segera diperlukan, heparin harus diberikan bersama. Efek samping utama semua antikoagulan oral adalah pendarahan
    • Natrium warfarin
    • Protamin sulfat
    b. Antiplatelet
    Antiplatelet (antitrombosit) bekerja dengan cara mengurangi agragasi platelet, sehingga dapat menghambat pembentukan trombus pada sirkulasi arteri, dimana trombi terbentuk melalui agragasi platelet dan antikoagulan menunjukkan efek yang kecil.
    • Asetosal
    • Dipiridamol
    c. Fibrinolitik
    Fibrinolitik yang bekerja sebagai trombolitik dengan cara mengaktifkan plasminogen utnuk membentuk plasmin, yang lebih lanjut mendegradasi fibrin dan dengan demikian memecah trombus. Termasuk dalam golongan obat ini diantaranya streptokinase, urokinase, alteplase, dan anistreplase.
    • Alteplase
    • Streptokinase
    • Urokinase
    d. Hemostatik dan antifibrinolitik
    Defisiensi faktor pembekuan darah dapat menyebabkan pendarahan. Pendarahan spontan timbul apabila aktivitas faktor pembekuan kurang dari 5% normal.
    • Fraksi faktor VIII, kering
    • Fraksi faktor IX, kering
    • Aprotinin
    • Etamsilat
    • Asam traneksamat
    Obat penurun lipid
    Obat-obat penurun lipid diindikasikan untuk pasien dengan penyakit jantung koroner atau dengan hiperlipidemia berat, yang tidak cukup terkendali dengan diet rendah lemak. Pengobatan juga harus dipertimbangkan bagi pasien dengan resiko tinggi terjadinya penyakit jantung koroner karena adanya berbagai faktor resiko (termasuk merokok, hipertensi, diabetes, dll).
    a. Resin penukar anion
    Kolestiramin dan kolestipol adalah resin penul\kar anion yang digunakan dalam penatalaksanaan hiperkolesterolemia. Obat-obat tersebut bekerja dengan cara mengikat asam empedu (metabolit kolesterol) di dalam lumen usus dan mencegah reabsorpsinya.
    • Kolestiramin
    • Kolestipol hidroklorida
    b. Kelompok klofibrat
    Klofibrat (turunan asam ariloksibutirat) dan beberapa analognya (bezafibral, siprofibral, finofibrat, gemfibrosil) dapat dianggap sebagai hipolipidemik berspektrum luas. Klofibrat dan beberapa analognya digunakan dalam pengobatan hiperlipidemia tipe II maupun IV. Efek utamanya berupa gangguan saluran cerna.
    • Bezafibrat
    • Fenofibrat
    • Gemfibrozil
    • Klofibrat
    c. Statin
    Statin menghambat secara kompetitif enzim HMG CoA reduktase, yakni enzim oada sintesis kolesterol, terutama dalam hati. Obat-obat ini lebih efektif dibanding resin penukar anion dalam menurunkan kolesterol – LDL tetapi kurang efektif dibanding kelompok klofibrat dalam menurunkan trigliserida dan meningkatkan kolesterol – HDL.
    • Atorvastatin
    • Fluvastatin
    • Pravastatin
    • Simvastatin
    • Lovastatin
    d. Kelompok asam nikotinat
    Asam nikotinat (niasin) merupakan vitamin larut air yang mampu menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol plasma. Mekanisme kerjanya melalui hambatan mobilisasi lemak serta hambatan sintesis VLDL dalam hati dan lebih lanjut kolesterol – LDL. Selain itu, asam nikotinat juga meningkatkan kolesterol – HDL.
    • Asam nikotinat
    e. Minyak ikan
    Sediaan minyak ikan yang kaya akan trigliserida laut omega-3, bermanfaat dalam pengobatan hipertrigliseridemia berat. Meskipun demikian, kadang-kadang minyak ikan dapat memperburuk hiperkolesterolemia.
    Obat-obat untuk syok dan hipotensi
    Syok merupakan sindrom kardiovaskuler akut yang rumit, terutama terkait dengan ketidakcukupan pasok dan konsumsi oksigen pada organ-organ yang penting bagi kehidupan (vital), yang pada umumnya disebabkan oleh peristiwa hipotensi. Hipovolemia, suatu penyebab hipotensi, dikaitkan dengan hilangnya darah karena cedera atau pendarahan, atau hilagnya cairan karena diare, muntah, luka bakar, atau yang lainnya.

    Hipotensi juga dikaitkan dengan syok septik. Meskipun demikian pasien dengan infark miokard yang berkembang menjadi syok kardiogenik, tidak selalu hipotensif. Tujuan terapi syok adalah menjamin aliran darah yang cukup untuk pasok oksigen yang memadai ke organ-organ vital.
    • Dopamin hidroklorida
    • Dobutamin
    • Isoprenalina hidroklorida
    • Norepinefrin bitatrat
    • Epinefrin
    Obat untuk gangguan sirkulasi darah (serebral, arteri, vena)
    a. Vasodilator perifer
    Kurangnya pasokan darah arteri di perifer dapat disebabkan oleh angioneuropati (kegagalan pengaturan sirkulasi akibat tidak sempurnanya pembuluh kecil bereaksi terhadap rangsang) atau angioorganopati (meliputi penyakit penyumbatan arteri, giitis, penyumbatan arteri karena emboli).

    Penyebab penyakit penyumbatan arteri terutama aterosklerosis dan tramboangitis obliterans.
    • Turunan asam nikotinat
    • Pentoksifilin
    • Sinarisin
    • Naftidrofuril oksalat
    • Isoksuprin

    b. Vasodilator serebral
    Obat-obat golongan ini dinyatakan memperbaiki fungsi mental. Beberapa telah dilaporkan memperbaiki kinerja uji psikologis, tetapi obat-obat tersebut secara klinis belum terbukti bermanfaat untuk demensia (pikun).
    • Co-dergokrin meksilat
    c. Obat gangguan darah vena
    Penyakit pembuluh vena yang sering terjadi adalah gejala verikosis (dilatasi pembuluh vena permukaan kaki dan akibat-akibat yang menyertainya (edema lokal, indurasi, atrofi, pigmentasi hebat, sianosis kulit, borok kaki, tromboflebitis) yang timbul akibat pengaruh mekanik dan hormonal pada jaringan ikat lemah.
    1) Senyawa tonik vena
    • Dihidroergotamin
    • Glikosida triterpen
    2) Senyawa sklerosan
    • Garam natrium asam lemak dari minyak ikan
    • Etanolamin oleat
    • Natrium tetradesil sulfat

    Friday, April 23, 2010

    Pengantar Farmakologi Umum

    Definisi
    Farmakologi berasal dari Kata “Farmakon” Yang berarti : “obat” dalam arti sempit dan dlm makna luas adalah : “Semua zat selain makanan yg dapat mengakibatkan perubahan susunan atau fungsi jaringan tubuh”.

    Logos yaitu : ilmu
    Jadi Farmakologi ialah :Ilmu yang mempelajari cara kerja obat didalam tubuh.

    Obat ialah : Suatu substansi yang dapat mempengaruhi fungsi normal tubuh pada tingkat sel.
    Farmakodinamik ialah : ilmu yang mempelajari cara kerja obat, efek obat thd faal tubuh dan perubahan biokimia tubuh.
    Farmakokinetik ialah : ilmu yang mempelajari cara pemberian obat, perubahan yg dialami obat didlm tubuh dan cara obat dikeluarkan dari tubuh (ekskresi).

    Kemoterapi ialah : pengobatan dgn tujuan mematikan bakteri, parasit atau sel ganas (kanker).
    Toksikologi ialah : ilmu yang mempelajari efek merugikan dari suatu farmakon (obat dan zat-zat yg digolongkan sbg racun).
    Dosis ialah : takaran yang diberikan pada penderita.
    Habituasi atau ketagihan adalah : kejadian pemakaian obat secara menahun yg menyebabkan gangguan emosi bl pemberian obat itu dihentikan. Contoh :Merokok dan minum kopi
    Adiksi ialah ; kejadian pemberian obat yg menyebabkan toleransi dan penghentiannya menyebabkan timbulnya sindrom gejala putus obat Misal : morfin
    Toleransi obat : resistensi yg terjadi sbg akibat pemakaian yg menahun. Untuk memperoleh efek yg sm dibutuhkan dosis yg lbh tinggi. Contoh : barbiturat.
    Prinsip lima benar terapi pemberian obat
    Pasien yang benar
    Obat yang benar
    Dosis yang benar
    Cara pemberian yang benar
    Waktu yang benar

    Pasien yang benar
    Sebelum obat diberikan identitas klien harus diperiksa ( gelang / papan identitas di TT) / ditanyakan.bila pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dpt dipakai misal ; Klien mengangguk
    Obat yang benar
    Sebelum memberi obat, label / nama obat diperiksa dulu sampai 3x
    Perawat harus tahu untuk apa obat itu diberikan
    Dosis yang benar
    Sblm obat diberikan, perawat hrs memeriksa dosisnya. Jika ragu konsultasi dgn apoteker atau penulis resep sblm dilanjutkan.

    Cara pemberian yang benar
    Obat dpt diberikan dgn cara yg berbeda, faktor yg menentukan cara pemberian obat ditentukan oleh :
    Keadaan umum pasien
    Kecepatan respon yg diinginkan
    Sifat kimiawi dan fisik obat
    Waktu yang benar
    Sangat penting, khususnya obat yg efektivitasnya tergantung untuk mencapai / mempertahankan kadar darah yg memadai,obat itu hrs diberikan tepat waktu. Hal ini banyak berlaku pada obat antibiotik

    Cara pemberian obat
    Oral
    Cara pemberian obat lewat mulut,paling banyak dipakai karena ekonomis,aman dan nyaman
    Obat jg dpt diabsorbsi melalui rongga mulut (sub lingual/bukal) misal tablet gliserin trinitrat.
    Bentuk obat oral:
    Tablet : dpt mengandung obat murni atau diencerkan dgn substansi inert agar mencapai berat sesuai.
    Kapsul : mengandung obat berupa bubuk, butiran bersalut / cairan dlm kapsul lunak
    Lozenges (Obat isap)
    Obat padat ini akan larut secara berangsur dlm mulut. Berguna bila diperlukan kerja kerja setempat dimulut atau ditenggorokan.
    Sirup : larutan gula ‘pekat” dlm air yg telah ditambahkan obat



    2. Parenteral ( tdk melalui saluaran pencernaan )
    3. Topikal
    Bentuk obat ini dipakai untuk permukaan luar badan dan berfungsi melindungi atau sebagai vehikel untuk menyampaikan obat.bentuk obat topikal bisa salep dan krim
    Rektal
    Cara pemberian obat melalui rektum
    Pemberian rektal mungkin dilakukan untuk memperoleh efek lokal sprt pada konstipasi atau hemoroid
    Bentuk obat supositoria, obat dlm bentuk mirip peluru dan akan mencair pada suhu badan
    Inhalasi
    Pemberian obat melalui saluran pernafasan (dgn cara dihirup)
    Pada klien asma : sprei beklometason atau dlm keadaan darurat misal terapi oksigen

    Faktor - faktor yang mempengaruhi efek obat yg diberikan
    Distribusi
    Distribusi obat tdk merata dan tertimbun pada organ tertentu dlm jumlah besar
    Penundaan efek obat
    Karena obat memerlukan biotransformasi menjadi zat aktiv atau efek obat tertunda karena terikat pd protein dan lemak
    Dosis
    Dosis anak atau dewasa tentu berbeda, bila hal ini terjadi akan menimbulkan efek yg tdk diinginkan misal : obat kloramfenikol akan sgt beracun bl diberikan pd anak-anak
    Efek obat yg dipengaruhi oleh umur, berat badan dan jenis kelamin

    Waktu pemberian
    Waktu jg mempengaruhi efek terutama obat yg ditelan, obat yg diminum sewaktu lambung kosong akan lebih cepat diserap dr pd obat diminum setelah makan. Selain itu obat yg merangsang mukosa lambung dpt diberikan dlm dosis lebih besar bila diberikan setelah makan
    Kecepatan ekskresi obat
    Kecepatan ekskresi obat hrs diperhatikan terutama pd penderita penyakit ginjal karena obat akan lbh lama tinggal didalam tubuh mengakibatkan terjadinya keracunan
    Cara pemberian obat dpt mempengaruhi efek
    Hipersensitivitas atau alergi berupa : gatal, ruam kulit, serangan asma, muntah, diare dan syock anafilaktik
    Kombinasi obat dpt memberi efek sinergistik atau antagonistik

    Cara Penyimpanan Obat
    Tiga faktor utama yg harus diperhatikan dlm penyimpanan obat :
    Suhu
    Suhu adalah satu faktor terpenting, karena kebanyakan obat itu bersifat termo – labil (rusak atau diubah oleh panas). Untuk itu penyimpanan obat:
    Ditempat sejuk : <15 drjt celcius (misalnya:insulin tdk blh beku ) dlm lemari es
    Suhu antara 2-10 drjt C (misalnya: vaksin typoid)
    2. Letak
    Obat itu bersifat toksik karena itu tempat penyimpanan hrs terang, letak setinggi mata, bukan tempat umum. Lemari obat harus terkunci.
    Kedaluarsa
    Kurangi kedaluarsa dgn cara rotasi stok artinya obat baru diletakkan dibelakang. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan warna (dari bening jd keruh) dan tablet menjadi basah