Showing posts with label Keperawatan Medikal Bedah. Show all posts
Showing posts with label Keperawatan Medikal Bedah. Show all posts

Tuesday, October 12, 2010

FUNGSI HATI

FUNGSI HATI

1) Bagaimana hati melakukan fungsi detoksifikasi(mekanisme apa yang terlibat)?

Jawab:Hati mendetoksifikasi obat-obatan dalam bahan kimia yang berpotensi berbahaya melalui proses oksidasi,reduksi,hidrolisis atau konjugasi sehingga bahan tersebut menjadi tidak aktif.Secara fisiologis,konjugasi dengan asam glukuronat,misalkan menyebabkan zat tersebut menjadi larut dalam air sehingga dapat diekskresikan dalam urin.

2) Apa yang dimaksud hepatitis alkoholik dan apakah memiliki makna klinis dalam hubungannya dengan sirosis hati?

Jawab:Hepatitis alkoholik merupakan suatu lesi yang ditandai dengan nekrosis hepatoseluler dan serbukan sel radang,kondisi inio disebabkan oleh konsumsi alcohol dan diyakini merupakan lesi yang penting pada perkembangan sirosis laennec.

!--more-->

3) Apakah peranan hati dalam metabolisme karbohidrat,lemak dan protein?

Jawab:Hati merupakan laboraturium kimia untuk metabolisme karbohidrat,lemak,dan protein dan hanya peran ini saja membuat hati menjadi organ yang penting bagi kehidupan:Hati berperan utama dalam regulasi glukosa darah,lipid serum,dan factor-faktor koagulasi.

4) Apakah yang dimaksud dengan Apraksia Konstruksional dan apakah makna klinisnya?

Jawab:Apraksia Konstruksional adalah ketidakmampuan untuk membuat diagram sederhana atau menulis secara jelas dan mudah dibaca tanpa disertai paralysis atau kelemahan motorik,memburuknya kemampuan untuk membuat konstruksi yang membutuhkan keterampilan dan bertujuan atau untuk menulis tersebut mencerminkan progresi ensefalopati dan catatan medis serial dapat dibuat pada medis pasien.

5) Sebutkan tindakan yang mungkin dapat membantu mencegah penyebaran hepatitis virus dalam masyarakat,di rumah,dan unit klinik?

Jawab : - komunitas : suplai air dan pembuangan limbah yang aman dan terjaga, pengamatan semua sumur dan tangki septic, pengawasan restoran, pengawasan air pada kolam renang umum dan pantai.

- rumah :kebiasaan kebersihan umum yang baik. Mencuci tangan, menggunakan gelas minum dan peralatan makan sendiri-sendiri, mencuci dan sterilisasi piring secara memadai.

- Unit klinik : penggunaan syringe, jarum suntik, dan kateter sekali pakai, skrining antigen hepatitis B pada darah, pembuangan urine dan feses dari pasien terinfeksi secara ber4hati-hait, mencuci tangan, menghindari fungsi jarum, memisahkan pasien terinfeksi dalam ruangan tersendiri dengan fasilitas kamar mandi yang terpisah, peralatan makan sekali pakai, serta pekerja yang merawat pasien menggunakan pakaian dan sarung tangan.

6) Apakah tujuan dari tes enzimatik hati?

ALP:

-Mengetahui penyakit hepatobilier:kolestasis/obstuksi,tumor,batu,atau abses

-Penyakit tulang dengan aktivitas osteoblastik atau responterapi Vitamin D pada riketsia

-Proses keganasan (metastasis ke hati)

GGT:

-Untuk mengetahui penyakit hepatobilier:kolestasis,ikterus obstuktif pada anak.

-Membedakan penyakit tulang dan hati jika ALP meningkat

-Memantau konsumsi alkohol

-Mendeteksi prose keganasan(metastasis ke hati)

AST/GOT:

-Diagnosis dan evaluasi penyakit hati dan jantung

-Memantau efek obat(Hepatotoksik dan nefrototoksik)

ALT/GPT

-Diagnosis dan evaluasi penyakit hati:enzim ini merupakan indikator kerusakan sel hati.

-Memantau efek obat(Hepatotoksik)

-Membedakan ikterus hemolitik dan ikterus karena penyakit hati.

CHE

-Mengetahui adanya penyakit hati.

-Mengetahui adanya intoksifikasi senyawa organofosfat

ELIMINASI URINE

DEFINISI

- Eliminasi merupakan kebutuhan dalam manusia yang esensial dan berperan dalam menentukan kelangsungan hidup manusia. Eliminasi dibutuhkan untuk mempertahankan homeostasis melalui pembuangan sisa-sisa metabolisme. Secara garis besar, sisa metabolisme tersebut terbagi ke dalam dua jenis yaitu sampah yang berasal dari saluran cerna yang dibuang sebagai feces (nondigestible waste) serta sampah metabolisme yang dibuang baik bersama feses ataupun melalui saluran lain seperti urine, CO2, nitrogen, dan H2O.

- Gangguan eliminasi urinarius adalah suatu keadan dimana seorang individu mengalami gangguan dalam pola berkemih ( fundamental of nursing hal 614, 2001 )

2. ETIOLOGI

Terjadi g3 eliminasi dkarenakan adanya retensi Na & air, sehingga menyebabkan g3 berkemih spt:

a. Retensi urine adl ketidak mampuan mengeluarkan urine.

b. Inkontinensia urine adl ketidak mampuan mengendalikan pengeluaran urine

- Inkontinensia Fungsional

- Inkontinensia Reflek

- Inkontinensia Stres

- Inkontinensia Total

- Inkontinensia Dorongan

c. Hematuria adl kencing darah.

d. Polyuria adl ekresi urine dlm jml banyak

e. Oliguria adl keadaan berkurangnya jml urine yg dhasilkan 9 ml.

f. Anuria adl keadan terhntinya prod. Urine / berkurangnya vol urine hg suatu tahap yg tdk memadai dlm ekresi limbah yg normal.

g. Dysuria adl berkemih yg sering

h. Frekwnsi adl berkmih yg sering

>Penjelasan dari yang diatasi

a. Retensi urine

Akumulasi urine yang nyata didalam kandung kemih akibat ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih, merengangkan dindingnya sehingga timbul perasaan tegang, tidak nyeri tekan pada stympisis pubis, gelisah dan terjadi datoresis (berkeringat)

b.Inkontinensia

Kehilangan kontrol berkemih, inkontinensia urine dapat bersifat sementara atau menetap. Disebabkan karena tidak dapat mengontrol sphingter uretra eksterna

3. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

1. Perkembangan dan pertumbuhan

Bayi dan anak-anak mengekskresikan urine dalam jumlah yang lebih besar dibanding dengan ukuran tubuh mereka. Anak berusia 6 bulan dengan berat badan 6-8 kg mengekskresikan urine 400-500 ml/ hari.

2. Sosial koltural

3. Faktor psikologis

4. Kebiasaan pribadi

5. Tonus otot

6. Status volume

7. Kondisi penyakit

8. Prosedur bedah

9. Obat-obatan

10. Pmeriksaan diagnostik

4. Karekteristik urine

Scara normal urin terdri atas:

Ø 96% air

Ø 4% zat padat

Warna urine

Ø Urine normal:berwarna kuning muda

Ø warna yg gelap:biasanya merupkan urine yg lbih pekat

Bau

Ø Normal:urine berbau aromatik yg samar2

Ø Urine keruh + bau amoniak.

PH urine

Ø N kurang lebih 6(agak asam)/ 4,5 – 7,5

BJ urine:menunjukkan darajat keasaman hidrasi

Ø N:1,005 – 1,025

E.Patofisiologi

Proses imunologik kuman strep nefriotugen



Komplek Ag – AG mempunyai aglutimin

Terbentuk



Molekul pd membran menimbulkan antibodi

Basalis Glomerolis



Ag – ab mengendap

di glom



Merusak glom



Gangguan dlm reproduksi

Gangguan eliminasi urine

5. MANIFESTASI KLINIS GNA

Manifestasi klinis pada gangguan eliminasi yang berhubungan dengan penyakit adalah sebagai berikut :

>Hematuria

>Edema ringan pada mata / seluruh tubuh

>Edema berat mengakibatkn oliguria dan payah jantung

>Hipertensi 60 – 70%

>Gangguan GIT ( muntah dan diare )

>Oliguria

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG GNA

>LED

>Tes HB

>Pemeriksaan urine:

jumlah urine menurun,

BJ urine meningkat,

gross hematuria, urium dan

kreatinin darah meningkat

7. PENATALAKSANAAN MEDIS

Penatalaksanaan medis pada penderita dgn diberi diet TKRP RG (1 gr per hari ) makanan lunak, menjalani betres total, HT àIntake cairan di batasi, bila terjadi anuria 5 sampai 7 hri à dgn Hemodialisis, Dialisis Peritoneal.

û Evaluasi yang di inginkan :

- Kebutuhan cairan dan elektrolit klien terpenuhi.

- Kebutuhan nutrisi terpenuhi.

- Tidak terjadi iritasi kulit pada kulit disekitar genital

- Kecemasan keluarga hilang.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA GANGGUAN POLA ELIMINASI URINE

1. Pengkajian

a. Nama : Untuk membeda-bedakan masing-masing pasien.

Umur : Sebagai pertimbangan cara pendekatan yang akan digunakan.

Jenis kelamin : Untuk membedakan, dan menentukan jenis Kelamin Klien.

Pekerjaan : Untuk mengetahui sumber penghasilan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Alamat : Untuk mengetahui asal pasien / tempat tinggal (berhubungan erat dengan lingkungan dan sanitasi).

Suku bangsa : Untuk mengetahui adat yang digunakan Klien.

Pendidikan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan Klien.

b. Keluhan Utama

Keluhan utama dikaji untuk mengetahui alasan mengapa klien sampai dibawa ke Rumah sakit. Pada gangguan eliminasi urinne biasanya klien tidak bisa BAK atau BAK yang tidak terkontrol

c. Riwayat Penyakit Sekarang

Klien datang dengan keluhan sulit berkemih, kalau berkemih harus mengejan dengan kuat, walau minum banyak tapi klien BAK tetap sedikit.

d. Riwayat Penyakit Masa Lalu

Riwayat Penyakit masa lalu dikaji untuk mengetahui apakah klien pernah mempunyai penyakit yang sama atau apakah klien pernah mempunyai riwayat alergi, gangguan absorbsi dan pernah menderita riwayat penyakit akibat gizi buruk dan Higiene Sanitasi yang buruk.

e. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat Penyakit Keluarga dikaji untuk mengetahui apakah ada keluarga yang pernah mempunyai Penyakit yang sama atau Penyakit yang menular/menurun.

f. Riwayat Psikososial dan spiritual

Klien dengan masalah ini biasanya mengalami konsep diri, klien merasa tidak percaya diri dan malu pada penyakitnya, klien dalam masalah ini biasanya kesulitan dalam beribadah

g. Pola Kebiasaan Sehari-hari

Pola aktifitas sehari-hari perlu dikaji diantaranya :

- Makan : Makanan yang dikonsumsi individu mempengaruhi eliminasi, intolerensi pada jenis makanan tertentu dapat mengakibatkan diare.

- Minum : - Asupan minuman/cairan yang menurun dapat mempengaruhi pola eliminasi .

- Eliminasi : pasien mengalami gangguan dalam berkemih , pasien yang mengalami retensi urine mengaku tidak bisa BAK, da pasien yang mengalami inkontinensia mengeluh tidak dapat mengontrol pola berkemihnya

- Tidur : Pola istirahat tidur ikut terganggu akibat dari blas penuh karena keinginan untuk berkemih yang terus menerus.

- Aktifitas Lain : Kurangnya mobilisasi dapat mengakibatkan klien mengalami gangguan pola berkemih

.

h. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum

è Kesadaran

Dikaji untuk mengetahui keadaan umum klien pada/menurut GCS (Goslow Coma Skala). Respon Mootorik = 6

Verbal = 5

Mata = 4

15 compos mentis

è Tanda-tanda Vital

Tensi (tekanan darah) = 120/80 (normal)

Nadi = 100-120 x menit (anak-anak normal).

Suhu = 36 – 370 c (normal).

Respiration RUB = 23 x /menit (normal)

à Status gizi : BB menurun jadi status gizi menurun

2. Pemeriksaan cepalo caudal

Kepala

Pada kasus gangguan pola eliminasi urine biasanya tidak mengalami gangguan , kecuali pada kasus – kaus tertentu seperti GNA., yang bisa mengalami edema palpebra

Hidung dan Telinga

ü Pada gangguan eliminasi urine biasanya dari pemeriksaan.

Inspeksi : Bentuk hidung simetris, warna sama dengan daerah sekitarnya.

Palpasi : Biasanya tidak ada nyeri tekan, tidak ada polip

ü Pada Telinga

Inspeksi : Bentuk simetris, warna sama dengan daerah sekitarnya, tidak ada tanda-tanda infeksi, tidak ada pendarahan.

Palpasi : Biasanya tidak ada nyeri tekan, tidak ada polip.

Mulut dan Lidah

Biasanya pada gangguan eliminasi Urine Mukosa mulut terlihat kering dan lidah tidak kotor.

Leher dan Tenggorokan

Pada leher dan tenggorokan tidak ada pembesaran getah bening maupun tyroid.

Pada Dada / Thorax

ü Pemeriksaan Paru

Inpeksi : Yang dikaji meliputi bentuk dada yaitu bentuk dada corong (funnel chest), bentuk dada tong (Barrel chest), bentuk dada burung (pigeon chest) selain itu yang dikaji yaitu Pernafasan Klien.

Palpasi : Yang dikaji yaitu terdapatnya nyeri tekan, peningkatan/ penurunan Fokal Fremitus serta ekspansi Paru.

Perkusi : Yang dikaji letak/batas paru (suara, resonan, tympani, redup).

Batas Paru :

Kanan

Kiri

Pada ICS 1-2 resonan

Resonan pada ICS 1-2 dan 6

Pada ICS 3-4 redup

karena ada hepar

Pada ICS 3-5

karena ada jantung

Pada ICS 5-6 tympani

Pada ICS 7 tympani

Auskultasi : Yang dikaji suara tambahan paru.

Misalnya : weeling, rales, ranchi, pleura fraction Rub.

ü Pemeriksaan Jantung

Inpeksi : Yang dikaji ictus cordis terlihat atau tidak.

Palpasi : Yang dikaji teraba dan kekuatan uctus cordis

Ictus cordis terletak pada ICS 5 mid claucula line sinistra.

Perkusi : Yang dikaji batas-batas Jantung normal

Batas Jantung atas pada ICS 3

Batas Jantung atas pada ICS 5

Batas Jantung kanan pada linea sternalis sinistra.

Batas Jantung kiri pada linia aksila anterior sinistra.

Auskultasi : - Yang dikaji suara tambahan Jantung misal : murmur BJ III dan IV.

- Bunyi jantung I dan II yaitu sistole dan diastole terdengar pada ICS.

ü Pemeriksaan Abdomen

- Inspeksi : Yang dikaji ada tidaknya striae, ada tidaknya lesid kebersihan.

- Auskultasi :

8

8

7

7

Termasuk normoperistaltik.

- Perkusi : Pada lambung terdengar Hipertympani.

- Palpasi : Dikaji untuk mengetahui Pembesaran hati, ginjal, lien dan bledder.

ü Anus dan Genetalia

Masanya pada gangguan eliminasi Alvi anus dan genetalia tidak mengalami mengalami sedikit sakit karena proses mengejan.

ü Ekstrenitas Kuku

- Bentuk kuku

- Kuku tidak sionosis, warna kuku putih kemerahan, tidak ada odema ekstrinitas, terpasang infus pada tangan disebelah kiri.

ü Tonus Otot

8

8

7

7

Kekuatan otot penuh.

ü Pemeriksaan Neurologis

1. Olfaktori

Dikaji apakah klien mampu mengidentifikasi bau/aroma benda tertentu.

2. Optik

Dikaji apakah klien mampu melihat huruf pada kartu snelen pada jarak 6 m.

3. Okulamator

Dikaji apakah pupil peka terhadap cahaya dan mampu beradaptasi dengan baik.

4. Troklear

Dikaji untuk mengetahui apakah bola mata mampu mampu bergerak keatas dan kebawah.

5. Trigeminal

- Dikaji apakah reflek kornea cepat pada sentuhan kapas.

- Dikaji apakah terdapat nyeri pada wajah.

6. Abdusen

Dikaji apakah bola mata mampu bergerak kesamping kiri, kanan atas dan bawah.

7. Fasial

- Dikaji apakah klien mampu untuk tersenyum, mengerutkan dahi, menaikkan alis.

- Dikaji apakah klien mampu merasakan asin, manis, asem dan pahit.

8. Auditori (Pendengaran)

Dikaji apalkah klien mampu mendengarkan kata-kata dengan baik.

9. Glosofaringeal (Pengecapan, kemampuan menelan, gerak lidah)

- Dikaji apakah klien mampu merasakan asin, manis, asam pada pangkal lidahnya.

- Dikaji apakah reflek GAG baik.

- Dikaji apakah klien mampu menggerakkan lidahnya.

10. Vagus

- Dikaji apakah pada saat bersuara “ah” terdapat gerakan malatum dan faringeal.

- Dikaji apakah timbul GAG.

- Dikaji apakah klien dapat bersuara keras.

11. Aksesori

- Dikaji apakah klien dapat mengangkat bahu dan memalingkan wajah kesisi yang ditahan.

12. Hipoglosial

- Dikaji apakah klien dapat menggerakkan lidahnya kesamping dan keatas kebawah.

Ø Pemeriksaan penunjang

Untuk mengetahui kelainan-kelainan yang terjadi melalui pemeriksaan laboratorium yang lebih adekuat.

Ø Penatalaksanaan

Ø Harapan klien dan keluarga

Ø Genogram

5. Diagnosa Keperawatan

Menurut ANA (American Nursing Asosiation) diagnosa merupakan respon individu pada masalah kesehatan yang aktual dan potensial (Marilynne. Doenges : 2002).

Diagnosa Keperawatan :

>Gangguan Eliminasi Urine,:

a.Penurunan kapasitas ?iritasi kandung kemih

b.Penurunan Iisyarat kandung kemih

c.Kelemahan otot dasar

d.Ketidak mampun untuk menakses kamar mandi saat diperlukan

e.Penurunan perhatianpada isyarat kandung kemih

*INTERVENSI

1.Pertahankan Hidrasi yg optimal

a. Intake cairan 2-3 L/ hari

b. Beri jarak cairan tiap 2 jam

c. Perbanyak masukan cairan

2.Tingkat berkemih

Pastikan privasi da rasa nyama, bantu klien menggunakan bedpan

3.Tingkat integritas kulit

a. Identifikasikan klien yang berisiko mengalami ulkus

b. Cuci area, bilas dan keringkan setelah BAK

4.Kaji pola berkemih

a. Waktu dan jumlah cairan

b. Tipe cairan

c. Jumlah retensi

d.Jumlah berkemih

5.Jadwalkan program Kateterisasi Intrmitten pada klien dan keluarga untuk penatalaksanaan jangka panjang

a. Jelaskan alasan kateterisasi

b. Jelaskan pentingnya pengosongan kandung kemih

*Retnsi urineb/d okstruksi atau disfungsi neuromuskular

1. Kaji diatensi kandung kemih

2. Tindakan pengosongan kandung kemih

a. Manufer vabsova

-kontraksikan otot abdomen mengejan, tahan nafas sambil meregangkan

-tahan regangan sampai aliran urine berhenti, tunggu 1 menit dan regangkan kmbali

b. Ajarkan manuf credes

-tempatkan kedua tangan diarea umbilikus

-tekan dengan kuat kearah bawah, kearah pelvis

-ulangi 6-7 x sampai urine tidak keluar lagi

c. Ajarkan manufer regangan anal

-duduk pada toilet, bungkuk kedepan pada ke-2 paha

-tempatkan 1 tangan dengan sarung tangan dibelakang bokong

-masukan 1-2 jari yang dilumasi kedalam urine sampai sphingter

-pisahkan bagian jari/ tarik kearah posterior

-perlahan pegang sphingter anus dan tahan mengejan dan berkemih

-ambil nafas dalam tahan waktu mengejan

3. Jika volume residu > 100cc, atau tidak berhasil progamkan kateterisasi intermiten.

4. Catat urine tiap jam

5. Bantu pasien teknik relaksasi

6. Pantau

-TTV

-Masukan cairan untuk cegah hidrasi

7. Kolaborasi dengan tim medis

-Pemberian analgesik

-Pemberian kolinemik

-Pemberian infus

Thursday, October 7, 2010

ASKEP KANKER

  1. pengertian

Kanker adalah penyakit yang menyerang proses dasar kehidupan sel, mengubah genom sel (komplemen genetik total sel) dan menyebabkan penyebaran liar dan pertumbuhan sel-sel.



Kanker adalah istilah umum untuk petumbuhan sel tidak normal(yaitu, tumbuh sangat cepat, tidak terkontrol, dan tidak berirama) yang dapat menyusup ke jaringan tubuh normal sehingga mempengaruhi fungsi tubuh. Kanker bukan merupakan penyakit menular. (mengenal seluk beluk kaker.2008)

Kanker merupakan penyakit atau kelainanpada tubuh sebagai akibat dari sel – sel tubuh yang tumbuh dan berkembang abnormal, di luar batas dan sangat liar.(kanker,pengenalan, pencegahan dan pengobatannya, 2007)

  1. Jenis – jenis kanker

Beberapa jenis kanker yang telah dikenal sampai saat ini :

1) Karsinoma

Merupakan jenis kanker yang berasal dari sel yang melapisi permukaan tubuh atau permukaan saluran tubuh, misalnya jaringan epitel seperti sel kulit, testis, ovarium, kelenjar mukus, sel melanin, payudara, leher rahim, kolon, rektum, lambung, pankreas, dan esofagus.

2) Limfoma

Merupakan kanker yang berasal dari jaringan yang membentuk darah, misalnya jaringan limfe, lakteal, limfa, berbagai kelenjar limfe, timus dan sumsum tulang. Limfoma spesifik antara lain adalah penyakit hodgkin (kanker kelenjar limfe dan limfa)

3) Leukimia

Leukimia tidak membentuk massa tumor, tetapi memnuhi pembuluh darah dan mengganggu fungsi sel darah normal.

4) Sarkoma

Merupakan kanker jaringan penunjang yang berada di bawah permukaan tubuh seperti jaringan ikat, termasuk sel – sel yang ditemukan diotot dan tulang.

5) Glioma

Merupakan kanker susunan saraf, misalnya sel – sel glia (jaringan penunjang) disusunan saraf pusat

6) Karsinoma insitu

Ini adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sel epitel abnormal yang masih terbatas di daerah tertentu sehingga masih dianggap lesi prainvasif (kalian/luka yang belum menyebur). (kanker,pengenalan, pencegahan dan pengobatannya, 2007)

  1. Lokasi kanker

1) Kanker kolorektal

Tanda dan gejala kanker kolon pada lansia dapat meliputi perdarahan rektal, darah merah atau hitam dalam feces, perubahan kebiasaan BAB (konstipasi atau diare, feses yang mengecil). Tumor dalam kolon kanan dapat menjadi besar dan dapat menyebabkan nyeri tumpul yang samar – samar dan rasa tidak nyaman pada abdomen. Tumor dalam kolon kiri cenderung lebih kecil dan lebih berinfiltrasi, dengan perdarahan dan kemungkinan obstruksi usus.

2) Kanker paru

Resiko kanker paru 10 kali lebih tinggi pada perokok dari pada orang yang tidak merokok. Tingginya mortalitas akibat kanker paru sebagian disebabkan karena diagnosis yang terlambat, biologis tumor yang agresif, seringnya metastasis ke otak dan organ – organ vital yang lain, dan tidak efektifnya pengobatan konvensional. Tidak seperti kanker payudara, deteksi dini kanker paru tidak menjamin kesempatan yang baik untuk penyembuhan. Gejala batuk yang menetap, batu dengan sputum berdarah, atau kesulitan bernapas dapat mengindikasikan kanker paru. Keletihan dan kehilangan berat badan secara tiba – tiba sering merupakan gejala dari penyakit yang lebih lanjut.

3) Kanker payudara

Selain adanya massa, tanda – tanda kanker yang lain adalah retraksi kulit atau adanya lubang kecil pada kulit dan adanya perubahan kontur payudara dari yang biasanya. Sekresi serosanguinosa dari puting susu (jarang) pada wanita yang berusia lebih dari 50 tahun sering dikaitkan dengan kanker payudara. Pemeriksaan tambahan yang perlu dilakukan jika ditemukan benjolan atau jika mamogram mecurigakan atau kedua – duanya dapat meliputi aspirasi cairan dari kista, ultrasonografipada area tersebut, dan biopsi lesi.

4) Kanker ginekologik

Kanker ovarium sebagai kanker ginekologi yang paling sering meningkat dengan bertambahnya usia. Faktor resiko yang berhubungan dengan kanker ini termasuk riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan infertilitas. Pembesaran pinggul dan rasa tidak nyaman pada abdomen adalah gejala yang mungkin terjadi pada kanker ovarium.

5) Kanker prostat

Kanker prostat adalah penyebab kedua kanker pada pria lansia dan merupakan penyebab ketiga kematian akibat kanker pada pria yang berusia 65 tahun atau lebih. Gejala – gejala tidak terjadi sampai kanker telah menyerang daerah sekitarnya atau telah menyebar dan pada umumnya termasuk kesulitan dalam berkemih, hematuria, dan nyeri punggung atau tulang,

6) Kanker kulit

Pemeriksaan kulit seseorang secara mandiri dapat berguna untuk deteksi dini lesi kulit yang mencurigakan yang mungkin merupakan kanker atau premalignan. Adanya perubahan pada kulit dan tahi lalat harus dikaji. Kaker kulit yang paling serius melanoma maligna, lebih mematikan pada lansia dan telah meningkat secara dramatis pada orang yang berusia 65 tahun dan lebih dalam waktu 20 tahun terakir ini.

7) Kanker gastrointerstinal

Berbagai macam tumor GI adalah penyebab morbiditas dan mortalitas yang penting pada populasi lansia.

a) Kanker lambung

Gejala- gejalanya biasanya terjadi setelah penyakit berada pada tahap lanjut dan termasuk nyeri epigastrik, penurunan berat badan , rasa penuh pada lambung setelah makan sejumlah kecil makanan dan hematemesis. Intervensi pembedahan pada umumnya merupakan satu – satunya kemungkinan untuk penyembuhan kanker lambung.

b) Kanker pancreas

Penggunaan tembakau dan pankreatitis kronis adalah faktor resiko yang penting. Penapisan rutin tidak dianjurkan dan gejala – gejala mungkin tidak spesifik. Pembedahan mungkin dapat menyembuhkan, tetapi kemoterapi dan radiasi lebih sering diguakan untuk upaya paliatif.

c) Kanker esophagus

Kesulitan menelan dan nyeri epigastrik adalah gejala potensial dari kanker esophagus. Kanker yang berhubungan dengan tembakau ini lebih sering terjadi pada mereka yang berusia 60-an dan 70-an. Intervensi pembedahan mungkin dapat menyembuhkan tetapi sebagian besar pasien mendapatkan kemoterapi atau terapi radiasi untuk upaya paliatif.

8) Kanker kandung kemih

Hematuria, sering berkemih, dan kesulitan dalam berkemih yang merupakan gejala umum infeksi kandung kemih, juga dapat menjadi gejala – gejala kanker kandung kemih. Pasien yang bergejala memerlukan suatu pemeriksaan termasuk pemeriksaan sistoskopi kandung kemih, termasuk biopsy. Penggunaan temabakau juga merupakan faktor resiko untuk kanker ini.

9) Kanker kepala dan leher

Kanker ini sering terjadi pada lansia terutama pada pria lansia. Konsumsi alkohol dan penggunaan tembakau merupakan faktor resiko yang penting. Pengkajian rongga mulut sangat penting. Kesulitan menelan, suara serak, massa pada leher, atau terjadinya lesi baru dalam daerah mulut harus dikaji lebih lanjut. Pembedahan dan terapi radiasi mungkin menyembuhkan tetapi dapat mengakibatkan morbiditas dan distsres psikologis yang signifikan. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)

  1. Gejal umum, komplikasi, diagnosis, dan stadium kanker

Gejala umum kanker biasanya tergantung pada jenis, tempat dan stadium kanker. Dari sini kemudian, gejala umum kanker adalah sebgai berikut :

1) Pembengkakan pada organ tubuh yang terkena ( misal ada benjolan di payudara, diperut, dll)

2) Terjadi perubahan warna (misal perubahan warna tahi lalat)

3) Demam kronis

4) Terjadinya batuk kronis (terutama kanker paru) atau perubahan suara (pada kanker leher).

5) Terjadinya perubahan pada sistem pencernaan/ kandung kemih (misal perubahan pola BAB, BAB berdarah,dsb)

6) Penurunan nafsu makan dan berat badan

7) Keluarnya cairan atau darah tidak normal (misal keluar cairan abnormal dari puting payudara).

Sedangkan dilihat dari penyebabnya, komplikasi akibat kanker dibagi menjadi 3 yaitu :

1) Akibat langsung kanker (misalnya, sumbatan saluran cerna pada kanker usus, patah tulah pada kanker tulang, dst)

2) Akibat tidak langsung (misalnya, demam, penuruna berat badan, anemia, penurunan kekebalan tubuh, dsb)

3) Akibat pengobatan (misalnya, pembengkakan akiba sumbatan kelenjar getah bening pada radiasi kanker payudara, gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah, kebotakan pada kemoterapi)

Sedangkan diagnosa umum untuk kanker ini didasarkan pada hal – hal sebagai berikut :

1) Gejala yang dirasakan pasien

2) Temuan pada pemeriksaan fisik

3) Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap petanda tumor

4) Pemeriksaan radiology: roentgen, CT-Scan, MRI, USG

5) Diagnosis pasti adalah melalui pemeriksaan patologi anatomi.

Sedangkan penentuan stadium kanker biasanya diklasifikasikan dulu menurut sistem TNM ( tumor, node, metastase) sebagai berikut :

1) Tumor : besar atau luas tumor asal (Tis = tumor belum menyebar ke jaringan sekitar; T1-4 =ukuran tumor)

2) Node: penyebaran kanker ke kelenjar getah bening ( N0=tidak menyebar ke kelenjar getah bening; N1-3= derajat penyebaran)

3) Metastase: ada atau tidaknya penyebaran ke organ jauh (M0=tidak ada/M1=ada)

Tujuan klasifikasi TNM adalah untuk perencanaan pengobatan, menentukan prognosis, evaluasi hasil pengobatan, dan juga untuk pertukaran informasi antar pusat pengobatan kanker.

Sehingga terdapat stadium kanker I,II,III,IV, stadium I dan II di sebut juga stadium dini, sedangkan stadium III,IV disebut juga lokal lanjut atau stadium IV disebut juga stadium lanjut atau telah bermetastase.(mengenal seluk beluk kanker,2008)

  1. faktor resiko

1) riwayat keluarga

orang – orang dewasa dengan riwayat kanker keluarga yang kuat harus dipantau secara hati – hati melalui program penapisan. Penemuan baru – baru ini mengungkapkan gen – gen yang terkait dengan kanker payudara dan kanker lainnya memiliki implikasi yang penting untuk penapisan dan penanganan kanker. Namun jenis – jenis tumor dengan predis posisi genetic seperti kanker payudara dan kanker kolon sering terjadi pada orang dewasa muda. Sebagian besar kanker payudara dan kolon terjadi pada orang – orang tanpa adanya kaitan genetic yang diketahui.

2) merokok dan penggunaan tembakau

merokok dihubungkan dengan satu pertiga kematian akibat kanker terutama kanker paru, kepala dan leher, kendung kemih, ginjal, esophagus, pancreas, dan serviks. Pada saat ini, merokok dihubungkan dengan 45% dari senua kemtian akibat kanker pada pria dan 21,5 % kematian akibat kanker pada wanita.

3) diet, berat badan dan latihan

diet dikaitkan dengan satu pertiga dai seluruh kematian akibat kanker. Diet makanan seumur hidup yang tinggi lemak hewani dan rendah serat telah dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker kolon, payudara dan prostat. Makanan yang tinggi nitrat telah dikaitkan dengan peningkatana resiko kanker kolon dan lambung. Obesitas dan diet tinggi lemak dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker payudara dan kolon. Kurangnya olahraga juga dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker kolon. Penggunaan alkohol berat dihubungkan dengan kanker pada daerah kepala dan leher dan kanker hepar.

4) pajanan sinar matahari

kanker kulit yang paling mematikan, melanoma maligna meningkat dengan kecepatan terbesar dari semua kanker. Pencegahan primer meliputi meminimalkan pajanan terhadap sinar ultraviolet dengan menggunakan tabir surya, memakai pakaian yang dapat melindungi, dan membatasi aktivitas diluar rumah sampai waktu – waktu matahari tidak berada di puncak.

5) bahaya – bahaya lingkungan

pajanan sebelumnya terhadap karsinogen – karsinogen di tempat kerja seperti asbestos sangat penting di kaji pada lansia. Bahan kimia dan zat – zat lain di tempat kerja yang telah dikaitkan denga peningkatan insidensi kanker termasuk kromium dan asbestos. Untuk banyak karsinogen ini pajanan yang dikombinasikan dengan merokok secara signifikan telah meningkatkan resiko kanker.

6) pengeruh hormonal

resiko kanker payudara meningkat secara dramatis dengan penuaan. Menapouse setelah usia 55 tahun dikaitkan dengan dua kali resiko kanker payudara dibandingkan dengan menapouse sebelum usia 45 tahun. Penggunaan kontrasepsi oral secara kurang meyakinkan telah dikaitkan dengan peningktan resiko kanker payudara, tetapi penggunaannya telah menunjukkan dapat mengurangi resiko kanker endometrium.

7) riwayat kanker

adanya riwayat kanker pada seseorang telah menempatkan orang tersebut pada resiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya jenis – jenis kanker primer lain. Perilaku pencegahan sangat penting bagi jutaan orang amerika yang saat ini hidup dengan suatu riwayat kanker.

8) masalah pengobatan dan penanganan lain.

Kanker dapat dihubungkan dengan adanya atau kadang – kadang penanganan kondisi – kondisi medis yang lain. Resiko kanker lambung contohnya meningkat dengan adanya penyakit lambung yang lain seperti gastritis, aklorhidria, dan ulkus lambung. Diabetes dan hipertensi telah dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker endometrium. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)

  1. Penaganan kanker

1) Kemoterapi

Penggunaan obat anti kanker yang bertujuan mematikan sel kanker

Indikasi dan prinsip :

a) Sebanyak mungkin mematikan sel kanker seminimal mungkin mengganggu sel normal

b) Dapat digunakan untuk : pengobatan, pengendalian, paliatif

c) Jangan diberikan jika bahaya/komplikasinya lebih besar dari manfaatnya

d) Obat kemotherapi umumnya sangat toksik, teliti/cermat evaluasi kondisi pasien

Kompilaksinya :

1) Efek samping :

· nausea, vomiting

· alopecia

· rasa (pengecap) menurun

· mucositis

2) Toksik :

· hematologik : depresi sumsum tulang, anemia

· ginjal, hepar.(http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/)

2) Radiotherapy

a) Menggunakan X-ray atau radiopharmaceuticals (radionuclides).(http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/)

b) Terapi radiaisi eksternal yaitu pengobatan noninvasive dan mungkin lebih sering disarankan untuk lansia lemah yang tidak mampu menjalani pembedahan. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)

3) Pembedahan

Pembedahan dapat digunakan sebagai upaya kuratif atau digunakan untuk meingkatkan kualitas hidup. Pembedahan kurang menimbulkan debilitasi dari pada kemoterapi atau terapi radiasi untuk pasien yang cukup sehat utnuk menjalani anastesi dan hanya merupakan satu – satunya terapi untuk banyak lansia dengan kanker. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)

4) Immunoterapi

Immunoterapi yang disebut juga terapi biologis merupakan jenis pengobatan kanker yang relative baru. Sekalipun demikian diperkirakan akan segera maju pesat dan menjadi andalan para dokter dalam upaya penyembuhan kanker secara total.

Tidak beda dengan imunisasi pada umumnya, immunoterapi bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh guna melawan sel –sel kanker. Ada tiga macam immunoterapi, yaitu aktif (vaksin kanker), pasif, dan terapi adjuvant.

5) Terapi gen

Terapi gen dilakukan dengan beberapa cara:1) mengganti gen yang rusak atau hilang, 2) menghentikan kerja gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan sel kanker , 3) menambahkan gen yang membuat sel kanker lebih mudah dideteksi dan di hancurkan oleh system kekebalan tubuh, kemoterapi, maupun radioterapi, 4) menghentikan kerja gen yang memicu pembuatan pembuluh darah baru di jaringan kanker sehingga sel – sel kankernya mati.

  1. peran perawat

Promotif sampai dengan rehabilitatif

1) Memberi dukungan klien terhadap prosedur diagnostic

2) Mengenali kebutuhan psiko sosial dan spiritual

3) Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi klien

4) Memberi bantuan bagi klien yang mendapat pengobatan anti kanker/terhadap keganasan

5) Membantu klien fase penyembuhan/rehabiltasi

6) Membantu klien untuk tindak lanjut pengobatan

7) Berpartisipasi dalam koleksi data penelitian/registrasi kanker. (http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/)

  1. asuhan keperawatan

1) identitas

kanker sering didiagnosis pada orang – orang yang berusia 65 tahun atau lebih. Kejadian kanker sering di derita pada wanita di bandingkan pria.

2) keluhan utama

keluhan biasanya disesuaikan dengan jenis dan lokasi kanker yang dialami oleh klien.

3) riwayat penyakit sekarang

gejala kanker yang dialami klien pada umumnya adalah sebagai berikut :Demam kronis,Terjadinya batuk kronis (terutama kanker paru) atau perubahan suara (pada kanker leher).Terjadinya perubahan pada sistem pencernaan/ kandung kemih, Penurunan nafsu makan dan berat badan, Keluarnya cairan atau darah tidak normal.

4) riwayat penyakit dahulu

untuk mengetahui apakah klien pernah menderita kanker sebelumnya atau pernah melakukan program terapi / pengobatan kanker

5) riwayat penyakit keluarga

untuk mengetahui apakah dalam keluarganyaada yang menderita kanker seperti yang dialami klien saat ini. Karena bila ada keluarga ada yang menderita kanker, resiko tinggi untuk keturunannya.

6) pemeriksaan fisik

a) sistem integument

· Perhatikan : nyeri, bengkak, flebitis, ulkus

· Inspeksi kemerahan & gatal, eritema

· Perhatikan pigmentasi kulit

· Kondisi gusi, gigi, mukosa & lidah

b) system gastrointerstinal

· Kaji frekwensi, mulai, durasi, berat ringannya mual & muntah setelah pemberian kemotherapi

· Observasi perubahan keseimbangan cairan & elektrolit

· Kaji diare & konstipasi

· Kaji anoreksia

· Kaji : jaundice, nyeri abdomen kuadran atas kanan

c) system hematopoetik

1. Kaji Netropenia

· Kaji tanda infeksi

· Auskultasi paru

· Perhatikan batuk produktif & nafas dispnoe

· Kaji suhu

2. Kaji Trombositopenia : <>

3. Kaji Anemia

· Warna kulit, capilarry refill

· Dispnoe, lemah, palpitasi, vertigo

d) Sistem Respiratorik & Kardiovaskular

· Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe, kering, batuk non produktif - terutama bleomisin

· Kaji tanda CHF

· Lakukan pemeriksaan EKG

e) Sistem Neuromuskular

· Perhatikan adanya perubahan aktifitas motorik

· Perhatikan adanya parestesia

· Evaluasi refleks

· Kaji ataksia, lemah, menyeret kaki

· Kaji gangguan pendengaran

· Diskusikan ADL

f) Sistem Genitourinari

· Kaji frekwensi BAK

· Perhatikan bau, warna, kekeruhan urine

· Kaji : hematuria, oliguria, anuria

· Monitor BUN, kreatinin

7) Diagnosa keperawatan

a) Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.

b) Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri

c) Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake

d) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasive

e) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia

f) Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga

8) Rencana asuhan keperawatan

a) Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.

· Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 2×24 jam nyeri berkurang

· Kriteria hasil :

Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas. Melaporkan nyeri yang dialaminya. Mengikuti program pengobatan. Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin.

· Intervensi :

1) Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas

Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan

2) Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya

Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah menyebabkan komplikasi.

3) Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV

Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri.

4) Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik.

Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan ansietas.

5) Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.

Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri.

6) Diskusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien

Agar terapi yang diberikan tepat sasaran

7) Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narkotik dll

Untuk mengatasi nyeri.

b) Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri

· Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 2×24 jam kebutuhan nutrisi terpenuhi

· Kriteria hasil:

Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi. Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat. Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya.

· Intervensi :

1) Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya.

Memberikan informasi tentang status gizi klien.

2) Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan.

Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.

3) Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis.

Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk.

4) Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.

Kalori merupakan sumber energi.

5) Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas.

Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas.

6) Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga

Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri.

7) Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.

Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan

8) Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.

Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien).

9) Amati studi laboratorium seperti total limposit, serum transferin dan albumin

Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien.

10) Berikan pengobatan sesuai indikasiPhenotiazine,antidopaminergic, corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E dan B6, antacid

Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan meningkatkan status kesehatan klien.

11) Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus.

Mempermudah intake makanan dan minuman dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan.

c) Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake

· Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 1×24 jam kebutuhan cairan terpenuhi.

· Kriteria hasil:

Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal,- membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal, urine output normal.

· Intervensi :

1) Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak normal seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.

Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat menyebabkan hipovolemia.

2) Timbang berat badan jika diperlukan.

Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada ketidakseimbangan cairan.

3) Monitor vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil.

Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi dan suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi.

4) Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada klien.

Dengan mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya hipovolemia.

5) Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu.

Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.

6) Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan pethekie

Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan.

7) Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah.

Mencegah terjadinya perdarahan.

8) Kolaboratif berikan cairan IV bila diperlukan.

Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.

9) Berikan therapy antiemetik.

Mencegah/menghilangkan mual muntah.

d) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasive

· Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam resiko infeksi berkurang

· Kriteria hasil :

Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan infeksi. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung normal

· Intervensi :

1) Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan melakukan hal yang sama.

Mencegah terjadinya infeksi silang.

2) Jaga personal hygine klien dengan baik.

Menurunkan/mengurangi adanya organisme hidup.

3) Monitor temperatur.

Peningkatan suhu merupakan tanda terjadinya infeksi

4) Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi

Mencegah/mengurangi terjadinya resiko infeksi

5) Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik prosedur.

Mencegah terjadinya infeksi.

6) Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets

Segera dapat diketahui apabila terjadi infeksi

7) Berikan antibiotik bila diindikasikan

Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme penyebab infeksi.

e) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia

· Tujuan : sdetelah dilakukan tiindakan keperawatan selama 1×24 jam resiko kerusakan integritas kulit berkurang

· Kriteria hasil :

Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik. Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan.

· Intervensi :

1) Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka.

Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit.

2) Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.

Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.

3) Ubah posisi klien secara teratur.

Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.

4) Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter.

Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif

f) Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga

· Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam cemas yang dirasakan klien berkurang

· Kriteria hasil :

Klien dapat mengurangi rasa cemasnya. Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif. Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.

· Intervensi :

1) Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.

Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi

2) Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.

Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya.

3) Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.

Dapat menurunkan kecemasan klien

4) Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan.

Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya.

5) Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll.

Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan.

6) Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.

Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga.

7) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.

Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat.

8) Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.

Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar ditolong.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC

Junaidi, iskandar.2007. Kanker, Pengenalan,Pencegahan, dan Pengobatannya.Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer

Diananda, rama.2008. Mengenal Seluk Beluk Kanker. Jogjakarta : Katahati

Stanley, mickey. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC

www.medicastore.com/kanker kandung kemih

http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/