Showing posts with label Ilmu Jiwa. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Jiwa. Show all posts

Friday, June 4, 2010

RESPONS EMOSIONAL



Kelompok Keilmuan Keperawatan Jiwa
Fakultas Ilmu Keperawatan-Universitas Indonesia

ALAM PERASAAN
Suatu keadaan emosional yang berkepanjangan dan yang mempengaruhi seluruh kepribadian serta fungsi kehidupan

Gangguan alam perasaan
Merupakan suatu kelompok gangguan emosi yang disertai gejala mania dan depresi

Rentang Respons Emosional
Responsif terbuka dan sadar akan perasaan Reaksi kehilangan yang wajar menghadapi realita, mengalami proses kehilangan. tidak berlangsung lama Supresi menyangkal, menekan, menginternalisasi semua aspek perasaan terhadap lingkungan Reaksi kehilangan yang memanjang penyangkalan yang menetap dan memanjang, terjadi beberapa tahun

Mania/Depresi respon emosional yang berat, terlihat dari intensitas dan pengaruhnya pada fisik dan fungsi sosial

Depresi
Respons emosi yang maladaptif
Ditandai :
Perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan

MANIA
Respons emosi yang maladaptif
Di tandai :
peningkatan, perluasan alam perasaan atau keadaan alam perasaan yang mudah tersinggung dan terangsang

Asuhan Keperawatan Klien dengan Mania dan Depresi


Pengkajian
- Identifikasi faktor predisposisi, presipitasi, perubahan perilaku serta mekanisme koping yang digunakan klien

Faktor Predisposisi
Genetik

  1. Teori Agresi berbalik pada diri sendiri
  2. Teori kepribadian
  3. Teori kognitif
  4. Model belajar ketidakberdayaan
  5. Model perilaku
  6. Model biologis
Faktor Presipitasi
Faktor Biologis
Disebabkan obat-obat/berbagai penyakit fisik

● Faktor Psikologis
Kehilangan kasih sayang
Kehilangan cinta, seseorang dan harga diri

● Faktor Sosial Budaya
- Kehilangan peran, perceraian, kehilangan
pekerjaan

PERILAKU DAN MEKANISME KOPING
Perilaku mania:
perbedaan intensitas psikofisiologikal yang tinggi
Mekanisme koping yang digunakan : denial dan supresi untuk menghindari tekanan

Perilaku Depresi:
kelambatan dan kesedihan yang menonjol dan dapat terjadi agitasi
Mekanisme koping yang digunakan : represi, supresi, denial, disosiasi
Perilaku yang Berhubungan dengan Mania

Afektif
Gembira yang berlebihan (Euphoria), harga diri
Meningkat, tidak tahan kritik

Kognitif
Ambisi, mudah terpengaruh, mudah beralih
perhatian, waham kebesaran, ilusi, flight of ideas,
gangguan penilaian

Perilaku yang Berhubungan dengan Mania
Fisik
Dehidrasi, nutrisi yang tidak adekuat,
berkurangnya kebutuhan tidur/istirahat, berat
badan menurun

Tingkah laku Agresif, hiperaktif, aktifitas motorik meningkat,
kurang bertanggung jawab, royal, iritable atau
suka berdebat, perawatan diri kurang, tingkah
laku seksual yang berlebihan, bicara bertele-tele

Afektif
Sedih, cemas, apatis, murung, kebencian, kekesalan, marah,
perasaan ditolak, perasaan bersalah, merasa tak berdaya,
putus asa, merasa sendirian, merasa rendah diri, merasa tak
berharga

Kognitif
Ambivalensi, bingung, ragu-ragu, tidak mampu konsentrasi,
hilang perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, pikiran
merusak diri, rasa tidak menentu, pesimis

Fisik
Sakit perut, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan, konstipasi, Lemah, lesu, nyeri kepala, pusing, insomnia, nyeri dada, perubahan berat badan, gangguan selera makan, impoten, tidak berespons terhadap seksual

Perilaku yang Berhubungan dengan Depresi
Tingkah laku Agresif, agitasi, tidak toleran, gangguan
tingkat aktivitas, kemunduran psikomotor,
menarik diri, isolasi sosial, iritable (mudah
marah, menangis, tersinggung, berkesan
menyedihkan, kurang spontan, gangguan
kebersihan

Masalah Keperawatan
Berduka disfungsional
Ketidakberdayaan
Risiko cedera
Gangguan pola tidur
Perubahan nutrisi
Defisit perawatan diri
Ansietas

Perencanaan
Tujuan Keperawatan
Tujuan Umum :
Mengajarkan klien untuk berespon emosional yang adaptif dan meningkatkan rasa puas serta senang yang dapat diterima lingkungan

Tindakan Keperawatan
Lingkungan
Hubungan perawat klien
Afektif
Kognitif
Perilaku
Sosial
Fisiologis

Afektif
Kesadaran dan kontrol diri perawat merupakan SYARAT UTAMA
Yakin klien akan lebih baik
Sikap perawat menerima klien: hangat, sederhana, AKAN mengekspresikan pengharapan pada klien

Intervensi afektif: menerima dan menenangkan klien, BUKAN menggembirakan/mengatakan klien tidak perlu khawatir
Dorong klien ekspresikan pengalaman yang menyakitkan & menyedihkan secara verbal (untuk kurangi intensitas masalah yang dihadapi)

Hubungan perawat klien
Hubungan saling percaya terapeutik dibina dan ditingkatkan
Bekerja dengan klien depresi perawat harus: hangat, menerima, diam aktif, jujur, empati, bicara lambat, sederhana, beri waktu pada klien untuk berpikir dan menjawab
Membuat batasan konstruktif (untuk kontrol perilaku klien): kontrol dari lingkungan (perawat, dokter, klien) yg konsisten akan mempercepat kesadara klien untuk kontrol perilakunya.

Kognitif
Meningkatkan kontrol diri klien terhadap tujuan dan perilaku, meningkatkan harga diri dan membantu klien memodifikasi harapan yang negatif

Cara mengubah pikiran negatif:
● Identifikasi ide, pikiran yang negatif
●Identifikasi aspek positif klien (kemampuan, keberhasilan)
● Dorong klien nilai kembali persepsi, logika, rasional
● Bantu mengubah persepsi yang salah/negatif ke positif, tidak realistis menjadi realitis
● Sertakan klien pada aktifitas-aktivitas. Beri pujian dan penguatan atas keberhasilan yang dicapai.

Perilaku Tujuan :
Mengaktifkan klien pada tujuan realistik (memberi
tanggung jawab secara bertahap dalam kegiatan
di ruangan).

Klien depresi berat disertai penurunan motivasi
perlu dibuat kegiatan yang terstruktur.
Beri penguatan pd kegiatan yang berhasil.

Sosial
Tujuan
Meningkatkan hubungan sosial, dengan cara:
Kaji kemampuan, dukungan dan minat klien
Observasi dan kaji sumber dukungan
Bimbing melakukan hubungan interpersonal, role model, role play
Beri umpan balik dan penguatan hubungan interpersonal yang positif
Dorong untuk mulai hubungan sosial yang lebih luas

Lingkungan
Mencegah terjadinya kecelakaan.
Klien dengan daya nilai rendah, hiperaktif, tindakan resiko tinggi, ditempatkan di lingkungan yang aman (lantai dasar, perabotan dasar, kurangi rangsang dan suasana yang tenang).
Mencegah tendensi bunuh diri (akibat tidak berdaya, tidak berharga, keputus asaan)

Kewaspadaan Perawat
Berikan prioritas yang paling utama pada potensi bunuh diri
Bunuh diri terjadi saat klien keluar dari fase depresi, klien punya energi dan kesempatan bunuh diri
Klien mania akut juga dapat mengancam kehidupannya.

TINDAKAN KEPERAWATAN
Observasi dan monitor
Terapi keperawatan
Pendidikan kesehatan
Tindakan kolaborasi

Thursday, June 3, 2010

WAHAM



Definisi Waham

  • Kepercayaan yang salah terhadap obyek dan tidak konsisten dengan latar belakang intelektual dan budaya (Rawlin, 1993)
  • Suatu sistem kepercayaan yang tidak dapat divalidasi/dipertemukan dengan realitas (Haber, 1982)
  • Keyakinan yang salah yang tidak dapat diubah dengan alasan logis/kejadian nyata (Cook dan Fontaine, 1987)

Jenis-jenis waham
Waham Agama
Keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan, diungkapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan

Waham Kebesaran
Klien yakin bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.

Waham Nihilistik
Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.

Waham Sisip Pikir
Klien yakin bahwa ada ide pikiran orang lain yang disisipkan kedalam pikirannya, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.

Waham Siar Pikir
Klien yakin orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan walaupun tidak dinyatakannya kepada orang tersebut, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.

Waham Kontrol Pikir
Klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.

Proses Terjadinya Waham

  1. Perasaan diancam oleh lingkungan, cemas, merasa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi
  2. Mencoba mengingkari ancaman dari persepsi diri atau objek realitas dengan menyalahartikan kesan terhadap kejadian
  3. Individu memproyeksikan pikiran dan perasaan internal pada lingkungan sehingga perasaan, pikiran, dan keinginan negatif/tidak dapat diterima menjadi bagian eksternal
  4. Individu mencoba memberi pembenaran/rasional/alasan interpretasi personal tentang realita pada diri sendiri atau orang lain

Prinsip Tindakan Keperawatan Pada Waham
  • Tetapkan hubungan saling percaya
  • Identifikasi isi dan jenis waham
  • Kaji intensitas, frekuensi, dan lamanya waham
  • Identifikasi stresor waham
  • Identifikasi stresor terbesar yang dialami baru-baru ini
  • Hubungkan onset waham dan onset stres

Jika klien bertanya apakah anda percaya waham tersebut, katakan bahwa itu merupakan pengalaman klien.
Contoh:
  • Saya mengerti anda merasa sebagai…, tapi sukar bagi saya untuk mempercayainya karena….
  • Penuhi kebutuhan yang dipenuhi oleh waham
  • Identifikasi kebutuhan emosional yang dipenuhi oleh waham
  • Sekali waham dimengerti, hindari dan jangan mendukung pembicaraan berulang tentang waham

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN PERUBAHAN PROSES PIKIR WAHAM
  • Bina hubungan saling percaya
  • Bantu klien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
  • Bantu klien mengidentifikasi kebutuhan yang tidak dipenuhi
  • Bantu klien berhubungan dengan realita
  • Libatkan keluarga
  • Ajar klien memanfaatkan obat dengan benar

GANGGUAN ORIENTASI REALITAS/RESPONS NEUROBIOLOGIK


DEFINISI □ Ketidakmampuan klien menilai dan berespon terhadap realitas
□ Ketidakmampuan membedakan rangsangan internal dan eksternal
□ Ketidakmampuan membedakan lamunan dan kenyataan

muncul perilaku yang sukar dimengerti dan mungkin menakutkan

PENYEBAB Gangguan fungsi otak:
▪ Fungsi kognitif/proses pikir
▪ Fungsi persepsi
▪ Fungsi emosi
▪Fungsi motorik
▪ Fungsi sosial


Muncul respons neurologik yang maladaptif

PROSES INFORMASI Masuk informasi Proses di otak Respons Perilaku
Respon Adaptur Respons Maladaptif
Pikiran logis - Kadang-kadang proses pikir terganggu - Gangguan proses pikir/waham
Persepsi akurat - Ilusi - Halusinasi
Emosi konsisten dengan – Emosi berlebihan/kurang - Tidak mampu pengalaman mengalami emosi
Perilaku cocok - Perilaku yang tidak biasa - Perilaku tidak terorganisisir
Hubungan sosial positif - Menarik diri - Isolasi sosial

Rentang Respons Neurobiologi (dikutip dari Stuart dan Laraia, 2005)



RENTANG RESPONS
□ Proses informasi merupakan proses masuknya informasi yang akurat, penyimpanan informasi dan pemakaian kembali informasi tersebut

Penyebab gangguan proses informasi Jumlah dan akurasi informasi
Disfungsi anatomi dan neurofisiologi otak
Reseptor penerima stimulus
Talamus
Lobus frontal
Ganglia basal
Ketidakseimbangan neurotransmiter dan neuromodulator
Pengalaman belajar yang lalu (termasuk pengalaman emosional)

PENGKAJIAN □ Faktor predisposisi
□ Faktor Presipitasi
□ Sumber koping
□Respons koping

  • Fungsi kognitif/proses pikir
  • Fungsi persepsi
  • Fungsi emosi
  • Fungsi motorik
  • Fungsi sosial
FAKTOR PREDISPOSISI
Biologis Gangguan perkembangan otak frontal dan temporal
  • Lesi pada korteks frontal, temporal, dan limbik
  • Gangguan tumbang pada prenatal, perinatal, neonatal, dan anak-anak
  • Kembar 1 telur lebih berisiko dari kembar 2 telur
2. Psikologis Ibu/pengasuh yang cemas/overprotektif, dingin, tidak sensitif
Hubungan dengan ayah yang tidak dekat/perhatian yang berlebihan
Konflik pernikahan
Komunikasi “double bind”
Koping dalam menghadapi stres tidak konstruktif atau tidak adaptif
Gangguan identitas
Ketidakmampuan menggapai cinta

3. Sosial budaya Kemiskinan
Ketidakharmonisan sosial budaya
Hidup terisolasi
Stres yang menumpuk
Tinggal di ibu kota

FAKTOR PRESIPITASI □ Sumber : biologis, psikologis, sosial budaya
□ Asal (original) : diri klien atau lingkungan eksternal
□Waktu : lama dan frekuensi stimulus
□ Jumlah : stimulus yang dialami

Faktor presipitasi umum □ Kondisi kesehatan
□ Kondisi lingkungan
□ Sikap dan perilaku klien

SUMBER KOPING Klien
Identifikasi koping, kekuatan dan kemampuan yang masih dimiliki klien
2. Sumber daya dan dukungan sosial
Pengetahuan keluarga
Finansial keluarga
Waktu dan tenaga keluarga yang tersedia
Kemampuan keluarga memberikan asuhan

Sunday, May 23, 2010

LOSS GRIEVING

LOSS / KEHILANGAN



situasi aktual atau potensial dimana sso / obyek yang dihargai tidak dpt dicapai atau diganti shg dirasakan tdk berharga spt semula
Pengalaman individu yang dasar : terjadi kapan saja
Bisa terjadi scr tiba2 atau berangsur-angsur : pengalaman traumatik
Kehilangan pengaruh pada perkembangan individu : part of being matur


Sumber-sumber kehilangan Salah satu aspek “diri”
Bagian tubuh
Fungsi/fisiologis organ
“Kelengkapan” psikologis
Hasil tumbuh kembang
Obyek eksternal
Benda mati, benda hidup : hewan, tumbuhan
Lingkungan yang biasa dikenal
Lingkungan fisik ( termasuk orang )
Orang yg dicintai
Menetap atau sementara

Dalam menghadapi kehilangan, individu dipengaruhi : Tahap perkembangan
Kekuatan dalam dirinya
Support system

Tahap – Tahap Proses Kehilangan
Menurut Lambert and Lambert (1985) ada 3 fase :
Repudiation ( penolakan )
Recognition ( pengenalan )
Reconciliation (pemulihan/reorganisasi )

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Kehilangan Pengalaman yang lalu dengan kehilangan
Pentingnya arti kehilangan dan gangguan yang bersangkutan
Kebudayaan
Ekonomi
Dukungan keluarga

Bentuk – bentuk Kehilangan Kehilangan orang yang berarti
Kehilangan kesejahteraan
Kehilangan milik pribadi

Sifat Kehilangan : Tiba – tiba (tidak dapat diramalkan )
Berangsur – angsur
(dapat diramalkan)

Type Kehilangan Actual Loss ( fisik )
Kehilangan yang dapat dikenal/diidentifikasi oleh orang lain, sama dengan individu yang mengalami kehilangan.Ex: kematian, kehilangan bag. Tubuh & perubahan kesehatan fisik

Perceived Loss (psikologis) Perasaan individual, tetapi menyangkut hal – hal yang tidak dapat diraba/dinyatakan secara jelas. Ex : martabat, kekuatan, mimpi, rencana & keamanan seseorang, dll

Anticipatory Loss Perasaan kehilangan terjadi sebelum kehilangan terjadi
Individu memperlihatkan perilaku kehilangan dan berduka untuk suatu kehilangan yang akan berlangsung
Sering tampak pada keluarga dengan klien (anggota) menderita sakit terminal

GRIEVING (BERDUKA) Grieving merupakan respon individu/reaksi emosi thd kehilangan dan biasanya akibat perpisahan. Dimanifestasikan dlm perilaku, perasaan & pikiran, seperti:kehilangan hak, kehilangan hak hidup, menuju kematian
Breavement adalah keadaan berduka yang ditunjukkan selama individu melewati reaksi berduka, seperti mengabaikan keadaan kesehatan secara ekstrem

Mourning (berkabung) : periode penerimaan thd kehilangan & berduka yg tjd selama individu dlm masa kehilangan. Sering dipengaruhi oleh kebud. Dan kebiasaan

Proses Keperawatan
Pengkajian
Pengumpulan data
Tahap pengingkaran
Tidak percaya diri
Shock
Mengingkar kenyataan akan kehilangan
Selalu membantah dengan perkataan tidak
Diam terpaku
Bingung, gelisah
Lemah, letih, pernafasan dan nadi cepat, berdebar- debar
Nyeri tubuh, mual

2. Tahap marah
Klien marah – marah, nada bicara kasar, suara tinggi, iritabel/sensitif
3. Tahap tawar – menawar
Sering mengungkapkan kata – kata kalau, andai
Sering berjanji pada Tuhan
Mempunyai kesan mengulur – ulur waktu
Merasa bersalah terus – menerus
Kemarahan mereda


4. Tahap Depresi
Klien tidak banyak bicara
Sering menangis dan sedih karena akan kehilangan nyawa
Putus asa

5. Tahap Penerimaan
Tenang, damai
Mulai ada perhatian terhadap obyek baru
Berpartisipasi aktif
Tidak mau banyak bicara, karena merasa sudah terungkapkan semua ganjalan hatinya
Siap menerima maut

Diagnosa Keperawatan
Disfunctional Grieving : (Pathologi Grieving)
Individu tdk dpt mengekspresikan rasa berdukanya scr normal

Impaired Adjusment
Individu tdk dpt menyesuaikan diri thd perub. status kesh

Sosial Isolation
Individu menarik diri dari lingk. / trauma yg dialaminya

Intervensi


Fase Pengingkaran
Memberi kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya
Mewujudkan sikap menerima, ikhlas dan mendorong klien untuk berbagai rasa
Memberi jawaban yang jujur terhadap pertanyaan klien ttg sakit, pengobatan & kematian
Fase Marah
Mendorong klien untuk mengungkapkan rasa marah secara verbal dan nonverbal secara konstruktif

Fase Tawar – Menawar
Membantu klien mengidenifikasi rasa bersalah dan perasaan takutnya
Fase Depresi
Mengidentifikasi tingkat depresi dan resiko bunuh diri klien
Membantu klien menerima kehilangan yang tidak bisa dijelaskan
Fase Menerima
Membantu klien menerima kehilangan yang tidak bisa dijelaskan

Evaluasi


Tahap Pengingkaran
Klien berhasil mengungkapkan perasaannya yang menganjal
Klien dapat melakukan aktifitas yang diperlukan
Klien tenang
Tahap Marah
Klien dapat mengungkapkan rasa marah baik verbal maupun non verbal

Tahap Tawar – Menawar
Klien dapat mengungkapkan rasa takut dan bersalahnya
Klien dapat menerima kenyataan
Klien merasa takut
Tahap Depresi
Klien pasrah diri pada Tuhan
Klien melakukan ibadah dengan baik

Tahap Menerima
Klien siap menerima maut yang akan
menimpanya

Wednesday, May 19, 2010

ASKEP PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI

HALUSINASI



A. Pengertian

Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) pasca indera tanpa adanyarangsangan dari luar yang dapat meliputi semua system penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik.

Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadang-kadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.

Menurut May Durant Thomas (1991) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lingkungan. Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa ditemukan 85% pasien dengan kasus halusinasi. Sehingga penulis merasa tertarik untuk menulis kasus tersebut dengan pemberian Asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.

B. Klasifikasi
Klasifikasi halusinasi sebagai berikut :

a. Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya.
b. Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada.
c. Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada sumbernya.
d. Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya.
e. Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaab ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik.

C. Etiologi
Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan , biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.

D. Psikopatologi
Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak teori yang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor psikologik, fisiologik dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa dalam keadaan terjaga yang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang yang datang dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh. Input ini akan menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar.Bila input ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada keadaan normal atau patologis, maka materi-materi yang ada dalam unconsicisus atau preconscious bisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi.

Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke unconsicious dan kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya menilai realitas maka keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksterna.

E. Tanda dan Gejala
Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering di dapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau bicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang di alaminya (apa yang di lihat, di dengar atau di rasakan).

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :

a. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan.

Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.

b. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.

c. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada.
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.

d. Memberi aktivitas pada pasien
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.

e. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.

F. Pengkajian
Pada tahap ini perawat menggali faktor-faktor yang ada dibawah ini yaitu :

a. Faktor predisposisi.
Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh baik dari pasien maupun keluarganya, mengenai factor perkembangan sosial kultural, biokimia, psikologis dan genetik yaitu factor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.

Faktor Perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stress dan kecemasan.

Faktor Sosiokultural
Berbagai faktor dimasyarakat dapat menyebabkan seorang merasa disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien di besarkan.

Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dengan adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP).

Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realitas.

Faktor genetik
Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.

b. Faktor Presipitasi
Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman / tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada dilingkungan juga suasana sepi / isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.

c. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, prilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock, 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari dimensi yaitu :

1. Dimensi Fisik

Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapi rangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.

2. Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.

3. Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua prilaku klien.

4. Dimensi Sosial
Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem control oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.

5. Dimensi Spiritual
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Pada individu tersebut cenderung menyendiri hingga proses diatas tidak terjadi, individu tidak sadar dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya individu kehilangan kontrol kehidupan dirinya.

d. Sumber Koping
Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu dapat mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping dilingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya, dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil.

f. Mekanisme Koping
Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri

G. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul
a. Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan
dengan halusinasi.
b. Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri
c. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

H. Intervensi
a. Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan
dengan halusinasi
Tujuan : Tidak terjadi perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain.
Kriteria Hasil :
1. Pasien dapat mengungkapkan perasaannya dalam keadaan saat ini secara verbal.
2. Pasien dapat menyebutkan tindakan yang biasa dilakukan saat halusinasi, cara memutuskan halusinasi dan melaksanakan cara yang efektif bagi pasien untuk digunakan
3. Pasien dapat menggunakan keluarga pasien untuk mengontrol halusinasi dengan cara sering berinteraksi dengan keluarga.

Intervensi :
a. Bina Hubungan saling percaya
b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya.
c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati
d. Adakan kontak secara singkat tetapi sering secara bertahap (waktu disesuaikan dengan kondisi klien).
e. Observasi tingkah laku : verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasi.
f. Jelaskan pada klien tanda-tanda halusinasi dengan menggambarkan
tingkah laku halusinasi.
g. Identifikasi bersama klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi, isi, waktu, frekuensi.
h. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya saat
alami halusinasi.
g. Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan bila sedang
mengalami halusinasi.
h. Diskusikan cara-cara memutuskan halusinasi
i. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan cara memutuskan halusinasi yang sesuai dengan klien.
j. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok
k. Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga ketika mengalami
halusinasi.
l. Diskusikan dengan klien tentang manfaat obat untuk mengontrol
halusinasi.
m. Bantu klien menggunakan obat secara benar.

b. Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri
Tujuan : Klien mampu mengontrol halusinasinya
Kriteria Hasil :
1. Pasien dapat dan mau berjabat tangan.
2. Pasien mau menyebutkan nama, mau memanggil nama perawat dan mau duduk bersama.
3. Pasien dapat menyebutkan penyebab klien menarik diri.
4. Pasien mau berhubungan dengan orang lain.
5. Setelah dilakukan kunjungan rumah klien dapat berhubungan secara bertahap dengan keluarga

Intervensi :
a. Bina hubungan saling percaya.
b. Buat kontrak dengan klien.
c. Lakukan perkenalan.
d. Panggil nama kesukaan.
e. Ajak pasien bercakap-cakap dengan ramah.
f. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
serta beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaan penyebab pasien tidak mau bergaul/menarik diri.
g. Jelaskan pada klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta yang mungkin jadi penyebab.
h. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan.
i. Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan.
j. Perlahan-lahan serta pasien dalam kegiatan ruangan dengan melalui
tahap-tahap yang ditentukan.
k. Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai.
l. Anjurkan pasien mengevaluasi secara mandiri manfaat dari berhubungan.
m. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan pasien mengisi waktunya.
n. Motivasi pasien dalam mengikuti aktivitas ruangan.
o. Beri pujian atas keikutsertaan dalam kegiatan ruangan.
p. Lakukan kungjungan rumah, bina hubungan saling percaya dengan
keluarga.
q. Diskusikan dengan keluarga tentang perilaku menarik diri, penyebab
dan car a keluarga menghadapi.
r. Dorong anggota keluarga untuk berkomunikasi.
s. Anjurkan anggota keluarga pasien secara rutin menengok pasien minimal
sekali seminggu.

c. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
Tujuan : Pasien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.
Kriteria Hasil :
1. Pasien dapat menyebutkan koping yang dapat digunakan
2. Pasien dapat menyebutkan efektifitas koping yang dipergunakan
3. Pasien mampu memulai mengevaluasi diri
4. pasien mampu membuat perencanaan yang realistik sesuai dengan
kemampuan yang ada pada dirinya
5. Pasien bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang dilakukan sesuai
dengan rencanan

Intervensi :
a. Dorong pasien untuk menyebutkan aspek positip yang ada pada
dirinya dari segi fisik.
b. Diskusikan dengan pasien tentang harapan-harapannya.
c. Diskusikan dengan pasien keterampilannya yang menonjol selama di
rumah dan di rumah sakit.
d. Berikan pujian.
e. Identifikasi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh pasien
f. Diskusikan koping yang biasa digunakan oleh pasien.
g. Diskusikan strategi koping yang efektif bagi pasien.
h. Bersama pasien identifikasi stressor dan bagaimana penialian pasien
terhadap stressor.
i. Jelaskan bahwa keyakinan pasien terhadap stressor mempengaruhi
pikiran dan perilakunya.
j. Bersama pasien identifikasi keyakinan ilustrasikan tujuan yang tidak
realistic.
k. Bersama pasien identifikasi kekuatan dan sumber koping yang dimiliki
l. Tunjukkan konsep sukses dan gagal dengan persepsi yang cocok.
m. Diskusikan koping adaptif dan maladaptif.
n. Diskusikan kerugian dan akibat respon koping yang maladaptive.
o. Bantu pasien untuk mengerti bahwa hanya pasien yang dapat merubah
dirinya bukan orang lain
p. Dorong pasien untuk merumuskan perencanaan/tujuannya sendiri
(bukan perawat).
q. Diskusikan konsekuensi dan realitas dari perencanaan / tujuannya.
r. Bantu pasien untuk menetpkan secara jelas perubahan yang diharapkan.
s. Dorong pasien untuk memulai pengalaman baru untuk berkembang
sesuai potensi yang ada pada dirinya.



DAFTAR PUSTAKA
Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes R.I. Keperawatan Jiwa. Teori
dan Tindakan Keperawatan Jiwa, , 2000
Keliat Budi, Anna, Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa, EGC,
, 1995
Keliat Budi Anna, dkk, Proses Keperawatan Jiwa, EGC, , 1987
Maramis, W.F, Ilmu Kedokteran Jiwa, Erlangga Universitas Press, , 1990
Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, CV.
Sagung Seto, , 2001.
Residen Bagian Psikiatri UCLA, Buku Saku Psikiatri, EGC, 1997
Stuart & Sunden, Pocket Guide to Psychiatric Nursing, EGC, , 1998

KEDARURATAN PSIKIATRI


KEDARURATAN PSIKIATRI
dr. Agustina Sjenny, Sp.KJ




  • GADUH GELISAH
  • SUICIDE ( ancaman bunuh diri )
  • HOMICIDE ( ancaman membunuh )
  • WITHDRAWAL / INTOKSIKASI (opiat)

1. Gaduh Gelisah

  1. gelisah
  2. mondar-mandir
  3. berteriak- teriak
  4. loncat-loncat
  5. marah-marah
  6. curiga +++
  7. agresif
  8. beringas
  9. agitasi
  10. gembira +++
  11. bernyanyi +++
  12. bicara kacau
  13. mengganggu orang lain
  14. tidak tidur beberapa hari
  15. sulit berkomunikasi
  16. dll
ETIOLOGI PSIKOSIS

  1. Psikosis Akut
  2. Skizofrenia
  3. Bipolar, episode manik
  4. Psikosis Akut lainnya
  5. Delirium, dll

  • Non PSIKOSIS

Kemarahan
Kebingungan
Kepribadian Eksplosif
Epilepsi Grandmall

PSIKOSIS

Gejala utama
1. Halusinasi ( yg sering: akustik & visual )
2. Delusi / waham
3. Perilaku disorganisasi ( kekacauan psikomotor )
4. Asosiasi pikir kacau/inkoherensi

(5). Affek / mood : naik/turun, berkabut, berubah

PSIKOSIS vs SKIZOFRENIA

Gejala utama
1. Halusinasi akustik ------- komando, komentar
2. Delusi / waham ---------- bizar, tidak sistematik
3. Asosiasi pikir kacau ----- neologisme, inkoherent
4. Perilaku disorganisasi ----- autistik

5. Affek/mood ----------------------------- tumpul, mendatar

TINDAKAN (1)

  • ‘ATTENDING SKILL’ (mendampingi)
  • sikap ramah
  • tutur lembut
  • sikap empati
  • sentuhan fisik ?
  • tidak menghakimi
  • ( tidak mencari apa/siapa yg salah )
TINDAKAN (2)

SALAM

KALIMAT PEMBUKA
“Apa yg bisa saya bantu?”
“Ada yg mau diceritakan kepada saya ?” , dll

Buatlah pasien senyaman mungkin
tempat duduk / posisi
ditemani atau mau sendirian saja
awali dg pertanyaan yg ringan & sederhana

TINDAKAN (3)
‘MENGURANGI RISIKO’

Singkirkan ‘barang berbahaya’
Jauhkan dari api, mesin, tempat tinggi, dll
Tenangkan secara psikologik (attending skill)
Tenangkan dg psikofarmaka  segera !

PSIKOFARMAKA (1)
Antipsikotik injeksi / sediaan cepat larut

Klorpromasin 50 – 100 mg im/iv
Haloperidol 5 – 10 mg im/iv
Fluphenazine 5 – 10 mg im/iv
Olanzapine 10 – 30 mg im

(Risperidone) 4 – 8 mg solution,
quicklet

PSIKOFARMAKA (2)
Ansiolitik
Diazepam 10 mg iv/im
Midazolam (Dormicum) 5 –10 mg iv/im

Antidepresan ?
Barbiturat
Phenobarbital
Penthotal
RAWAT INAP ??

apabila
Membahayakan diri sendiri
Membahayakan orang lain
Situasi-kondisi di luar RS tak mendukung terapi

2. SUICIDE
PENYEBAB
Krisis-penderitaan
protes, tak berdaya, tak tertahan, putus asa

….tak ada pilihan
suicide
DEPRESI ide/waham nihilistik
SKIZOFRENIA halusinasi auditorik

TINDAKAN pada kasus suicide


PSIKOFARMAKA
Untuk mengatasi gejala apa ?

Waham/ide ----- antipsikotik
Halusinasi ----- antipsikotik
Insomnia ----- hipnotik
Ansietas ----- ansiolitik
Depresi ----- antidepresant
3. HOMICIDE
PENYEBAB
PSIKOSIS : waham, halusinasi
NON PSIKOSIS : impulsif, hostilitas, budaya

ANALISA ANCAMAN
Menentukan tingkat bahaya/emergency
Menentukan apakah perlu rawat inap ?

TINDAKAN pada kasus homicide

Apabila ancamannya tingkat serius, tindakan:
--- RAWAT INAP

Berikan catatan di status -----‘awas HOMICIDE’

Berikan Psikofarmaka
mengubah disorganisasi proses pikir
mengendalikan psikomotor
menidurkan




PSIKOFARMAKA
Untuk mengatasi gejala apa ?


Waham ----- antipsikotik
Halusinasi ----- antipsikotik
Kemarahan ----- ansiolitik ? antipsikotik
Gelisah ------ ansiolitik ? antipsikotik ?
Insomnia ----- sedatif/hipnotik ?
ansiolitik ?
antipsikotik ?

4.1. INTOKSIKASI OPIAT

Anamnesis :
Riwayat ‘abuser’
Zat apa yg sering dipakai ?
Pemeriksaan Klinis

Klinis yg mengancam jiwa
Koma, kejang, henti nafas, henti jantung
4.2. OPIAT WITHDRAWAL
pilek, batuk, menguap, lakrimasi
suhu tubuh
pupil dilatasi
mual, muntah, diare
vasodilatasi umum:
panas-dingin,‘meriang’, keringat >>, piloereksi
takhikardi, tensi , RR
insomnia

OPIAT WITHDRAWAL (2)

nafsu makan hilang
ansietas, gelisah
mialgia, arthralgia
lesu-lemas
tremor, kramp perut, kejang
‘craving’


OPIAT WITHDRAWAL (3)
Onzet : 6 – 8 jam

Puncak gejala : hari ke 2 dan 3

Lama gejala : 7 – 10 hari


Kasus 1

Wanita muda, 35 th, menikah. Baru saja mengetahui bahwa suaminya mempunyai ‘wanita simpanan’. Ia tampak sedih, menangis, meraung, gelisah, teriak-teriak, ‘histeris’, dll.
Gejalanya hilang timbul.

Sikap
Pendekatan psikologik ?
Pendekatan medikamentosa ?
Diagnosis ? Tindakan ?

Kasus 2

Pria, 35 th. Gejala yg muncul sejak setahun y.l., ia menyatakan sedih & murung. Ia sering menyendiri, banyak melamun. Ia merasa ‘kosong’, tak berguna, banyak dosa. Tidak sanggup lagi meneruskan kehidupannya. Sering menyesali perilakunya. Ia juga menyatakan sering mendengar bisikan-bisikan.

Sikap?
Pendekatan psikologik ?
Pendekatan medikamentosa ?
Diagnosis ? Tindakan ?

Kasus 3

Pria, 25 th., mahasiswa. Ia meyakini ada salah satu dosennya membenci dirinya, sehingga ia di DO. Ia juga merasakan teman-temannya menjauhinya. Ia sering mendengar bisikan-bisikan yg kurang jelas kata-katanya. Ia juga sering ketakutan, katanya ada orang yg akan membunuhnya. Orangtuanya menambahkan, bahwa anaknya sejak lama sbg pecandu narkoba jenis ekstasi.

Sikap?
Diagnosis ?
Pendekatan psikologik ?
Pendekatan medikamentosa ?

PSIKOSOMATIS


PSIKOSOMATIS
dr. Agustina Sjenny, Sp.KJ
PENDAHULUAN
Gangguan jiwa :
Tidak semua perubahan perilaku, pikiran, atau perasaan yang nampak/bermanifestasi tidak lazim, atau “menyimpang”
Bila memenuhi kriteria gangguan jiwa.

Gangguan Jiwa
Suatu kelompok gejala atau perilaku (yang bermakna), dan dapat ditemukan secara klinis dan yang disertai dengan penderitaan (distress) pada kebanyakan kasus, dan yang berkaitan dengan terganggunya fungsi (disfungsi) seseorang.
Gangguan Jiwa
Fisik  Jiwa, Jiwa  Fisik
Pemeriksaan secara komprehensif, evaluasi multiaksial meliputi :
  1. Aksis I : Gangguan Jiwa
  2. Aksis II : Ciri Kepribadian atau Ggn Kepribadian
  3. Aksis III : Kondisi atau Penyakit Fisik/Medik
  4. Aksis IV : Stresor psikososial
  5. Aksis V : Kemampuan Adaptasi Psikososial Tertinggi dlm 1 th terakhir
Penggolongan Gangguan Jiwa (PPDGJ III)
  • F0 : GMO, termasuk Gangguan Mental Simptomatik
  • F1 : Ggn Mental & Perilaku Akibat Zat Psikoaktif
  • F2 : Skizofrenia, Ggn Skizotipal dan Ggn Waham
  • F3 : Gangguan Suasana Perasaan (Mood/Afektif)
  • F4 : Ggn Neurotik, Ggn Somatoform dan Ggn ~ Stres
  • F5 : Sind Tingkah Laku yg Berhub dg Ggn Fisiologis & Fisik
  • F6 : Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa Dewasa
  • F7 : Retardasi Mental
  • F8 : Gangguan Perkembangan Psikologis
  • F9 : Ggn Perilaku & Emosional dg Onset Biasanya pd Masa kanak dan Remaja

F4 : Ggn Neurotik, Ggn Somatoform dan Ggn yg Berkaitan dg Stres
Ciri khas :
Kecemasan,
Fobia,
Obsesif-kompulsif,
Reaksi terhadap stres,
Disosiatif, atau
Somatoform
Latar belakang : faktor psikologis (??)

F45 : Gangguan Somatoform
Ciri khas :
keluhan gejala fisik yang berulang
permintaan pemeriksaan medis, walaupun negatif
Onset dan kelanjutan gejala berkaitan dengan peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan atau konflik-konflik
Pasien menyangkal/menolak membahas
Gejala anxietas dan depresi : ±

F45 : Gangguan Somatoform
Yang termasuk dalam golongan ini :

F45.0 : Gangguan Somatisasi
F45.1 : Gangguan Somatisasi tak Terinci
F45.2 : Gangguan Hipokondrik
F45.3 : Disfungsi Autonomik Somatoform
F45.4 : Ggn Nyeri Somatoform Menetap
F45.8 : Gangguan Somatoform Lainnya

Psikosomatis
Psikosomatis/somatisasi :
Ggn psikis yang tampil dalam bentuk gejala-gejala fisik.
Penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif dan/atau masalah emosi seperti stres, depresi, kecewa, kecemasan, rasa berdosa, dan emosi negatif lainnya.
Psikosomatis

Gejala :
Pegal-pegal, nyeri, mual, muntah, kembung, sendawa
Kulit gatal, kesemutan, mati rasa, pedih seperti terbakar, dan sebagainya.
Berlangsung lama dan berulang-ulang serta berganti-ganti atau berpindah-pindah tempat  mengganggu  sering ke dokter.

Psikosomatis
Pasien psikosomatis :
sulit membedakan apakah penyakit yang diderita itu psikosomatis atau disebabkan gangguan organis biasa, apalagi jika masalah emosi/pikiran penyebab sakit itu tidak disadari.

Psikosomatis
Gangguan psikosomatis >> usia awal 30-an.
Anak-anak bisa terhindar dari gangguan ini karena belum memiliki beban pikiran seperti orang dewasa.

Terapi :
Farmakoterapi
Psikoterapi

Contoh Kasus
Heru. Pria 38 tahun ini dirujuk ke Poli Jiwa dan Poli Penyakit Dalam dengan keluhan maag dan sakit di dada. Keluhan makin terasa menyiksa ketika obat maag dari dokter tidak lagi mempan mengatasi nyeri lambungnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh tidak ditemukan gangguan. Ahli penyakit dalam menduga Heru mengalami gangguan psikosomatis dan merujuknya ke bagian jiwa.

Contoh Kasus
Wawancara : Heru selalu memikirkan sahamnya dan takut kehilangan uang tersebut. Ia memiliki latar belakang keluarga yang pas-pasan, sehingga uang sangat berarti baginya. Beban pikiran itu bermanifestasi menjadi keluhan fisik berupa nyeri lambung.

Contoh Kasus
Dalam bbrp bln ini hampir setiap bln Sally (29) menemui dokter. Ia khawatir hal terburuk terjadi pada dirinya, kanker.
Konsultan komputer yang tinggal di Atlanta, AS, ini sudah lebih dari 3 th menderita sakit perut kronis dan sakit kepala.
Anehnya, dokter belum juga menemukan penyakit yang dideritanya. Karena itu ia setuju dilakukan serangkaian pemeriksaan sekali lagi.

Contoh Kasus
Dengan gugup Sally meremas-remas tisu di tangannya sambil menantikan vonis dokter. Tapi ternyata pemeriksaan menunjukkan hasil negatif.
Hal yang semestinya menggembirakan itu justru mengesalkan karena berarti penderitaannya masih akan berlanjut.
"Kami tak menemukan penyakit Anda. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Anda benar-benar sehat," kata dokter itu sambil menaruh berkas laporan itu di meja kerjanya.

Contoh Kasus
Setengah putus asa seminggu kemudian, Sally menemui dokter lain. Kali ini masih tentang penyakit "aneh"nya yang tak kunjung sembuh itu.
Oleh dokter yang terakhir ini ia dinyatakan menderita somatisasi, yaitu manifestasi penderitaan emosional dalam bentuk gejala fisik yang tidak jelas.

Monday, May 17, 2010

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI (TAKS)







TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

( TAKS )

A. Pengertian

Terapi aktivitas kelompok (TAK) sosialisasi ( TAKS ) adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial.

B. Tujuan

1. Umum

Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap.

2. Tujuan Khusus

1) Klien mampu memperkenalkan diri

2) Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok

3) Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok

4) Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topik percakapan

5) Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi pada orang lain

6) Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok

7) Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAKS yang telah dilakukan

C. Aktivitas dan Indikasi

Aktivitas TAKS dilakukan 7 sesi yang melatih kemampuan sosialisasi klien

Klien yang mempunyai indikasi TAKS adalah klien gangguan hubungan sosial :

1. Klien menarik diri yang telah mulai melakukan interaksi interpersonal.

2. Klien kerusakan komunikasi verbal yang telah berespons sesuai dengan stimulus

SESSI 1 TAKS

A. Tujuan

Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan : nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi

B. Setting

1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran

2. Ruangan nyaman dan tenang

C. Alat

1. Tape recorder

2. Kaset “Marilah kemari “ ( Titik Puspa )

3. Bola tenis

4. Buku catatan dan pulpen

5. Jadual kegiatan klien

D. Metode

1. Dinamika kelompok

2. Diskusi dan tanya jawab

3. Bermain peran / simulasi

E. Langkah-langkah kegiatan

1. Persiapan.

a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu Isolasi sosial : Menarik diri

b. Membuat kontrak dengan klien

c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

Pada tahap ini terapis melakukan

a. Memberi Salam terapeutik : Salam dari terapis

b. Evaluasi / Validasi : Menanyakan perasaan klien saat ini

c. Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu memperkenalkan diri

2. Menjelaskan aturan main berikut :

o Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada terapis.

o Lama kegiatan 45 menit.

o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja

a. Jelaskan kegiatan yaitu kaset pada tape recorder akan di hidupkan serta bola diedarkan berlawanan dengan arah jarum jam (yaitu kearah kiri) dan pada saat tape dimatikan maka anggota kelompok yang memegang bola memperkenalkan dirinya.

b. Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis berlawanan dengan arah jarum jam.

c. Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola mendapat giliran untuk menyebutkan : salam, nama lengkap, nama panggilan, hobi dan asal. Dimulai oleh terapis sebagai contoh.

d. Tulis nama panggilan pada kertas / name tag dan tempel / dipakai.

e. Ulangi b, c, dan d sampai semua anggota kelompok mendapat giliran.

f. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi tepuk tangan.

  1. Tahap terminasi.

a. Evaluasi.

1. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

2. Memberi pujian atas keberhasilan kelompok

b. Rencana tindak lanjut

1. Menganjurkan tiap anggota kelompok melatih memperkenalkan diri kepada orang lain di kehidupan sehari-hari

2. Memasukkan kegiatan memperkenalkan diri pada jadual kegiatan harian klien.

c. Kontrak yang akan datang

1. Menyepakati kegiatan berikut, yaitu berkenalan dengan anggota kelompok

2. Menyepakati waktu dan tempat.

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja untuk menilai kemampuan klien melakukan TAK. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAKS Sesi 1, dievaluasi kemapuan klien memperkenalkan diri secara verbal dan nonverbal dengan menggunakan formulir evaluasi berikut

SESI 1 – TAKS

KEMANPUAN MEMPERKANALKAN DIRI

A. Kemampuan Verbal

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien

















1

Menyebutkan nama lengkap

















2

Menyebutkan nama panggilan

















3

Menyebutkan asal

















4

Menyebutkan hobi

















JUMLAH

















B. Kemampuan non verbal

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien

















1

Kontak mata

















2

Duduk tegak

















3

Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai

















4

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

















JUMLAH

















Petunjuk :

1. Di bawah judul nama klien, tuliskan nama panggilan klien yang ikut TAKS.

2. Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan memberi tanda P jika ditemukan pada klien atau tanda X jika tidak ditemukan.

3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan, jika nilai 3 atau 4 klien mampu, dan jika nilai 0, 1, atau 2 klien belum mampu.

SESI 2 : TAKS

A. Tujuan

Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok

a. Memperkenalkan diri sendiri : nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi

b. Menanyakan diri anggota kelompok lain : nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi

B. Setting

1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran.

2. Ruangan nyaman dan tenang

C. Alat

1. Tape recorder

2. Kaset “Marilah kemari “ ( Titik Puspa )

3. Bola tenis

4. Buku catatan dan pulpen

5. Jadual kegiatan klien

D. Metode

1. Dinamika kelompok

2. Diskusi dan tanya jawab

3. Bermain peran / simulasi

E. Langkah-langkah kegiatan

1. Persiapan.

a. Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada Sess 1 TAKS

b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

a. Memberi salam terapeutik

1. Salam dari terapis.

2. Peserta dan terapis memakai papan nama.

b. Evaluasi / Validasi

1. Menanyakan perasaan klien saat ini

2. Menanyakan apakah telah mencoba memperkenalkan diri pada orang lain

c. Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu berkenalan dengan anggota kelompok

2. Menjelaskan aturan main berikut :

o Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada terapis.

o Lama kegiatan 45 menit.

o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja

b. Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis berlawanan dengan arah jarum jam.

c. Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola mendapat giliran untuk berkenalan dengan anggota kelompok yang ada di sebelah kanan dengan cara :

1. Memberi salam

2. Menyebutkan nama lengkap, nama panggilan asal, dan hobi.

3. Menanyakan nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi.

4. Dimulai oleh terapis sebagai contoh.

d. Ulangi a dan b sampai semua anggota kelompok mendapat giliran.

e. Hidupkan kembali kaset pada tape recorder dan edarkan bola. Pada saat tape dimatikan, minta pada anggota kelompok yang memegang bola untuk memperkenalkan anggota kelompok yang disebelah kanannya kepada kelompok yaitu nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi. Dimulai oleh terapis sebagai contoh.

f. Ulangi d sampai semua anggota mendapat giliran.

g. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi tepuk tangan.

4. Tahap terminasi.

a. Evaluasi.

1. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

2. Memberi pujian atas keberhasilan kelompok

b. Rencana tindak lanjut

1. Menganjurkan tiap anggota kelompok melatih berkenalan dengan orang lain pada kehidupan sehari-hari

2. Memasukkan kegiatan berkenalan pada jadual kegiatan harian klien

c. Kontrak yang akan datang

1. Menyepakati kegiatan berikut yaitu bercakap-cakap dengan orang lain dalam kelompok.

2. Menyepakati tempat dan waktu

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan ketika proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAKS Sesi 2, dievaluasi kemampuan klien dalam berkenalan secara verbal dan nonverbal dengan menggunakan evaluasi berikut

SESSI 2 – TAKS

KEMANPUAN BERKENALAN

A. Kemampuan Verbal

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien

















1

Menyebutkan nama lengkap

















2

Menyebutkan nama panggilan

















3

Menyebutkan asal

















4

Menyebutkan hobi

















5

Menanyakan nama lengkap

















6

Menanyakan nama panggilan

















7

Menanyakan asal

















8

Menanyakan hobi

















JUMLAH

















B. Kemampuan non verbal

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien

















1

Kontak mata

















2

Duduk tegak

















3

Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai

















4

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

















JUMLAH

















Petunjuk :

1. Di bawah judul nama klien, tuliskan nama panggilan klien yang ikut TAKS.

2. Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan memberi tanda P jika ditemukan pada klien atau tanda X jika tidak ditemukan.

3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan,

Kemampuan verbal, disebut mampu jika mendapat nilai ≥ 6 ; disebut belum mampu jika mendapat nilai ≤ 5.

SESI 3 : TAKS

A. Tujuan

Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok

1. Menanyakan kehidupan pribadi kepada satu orang anggota kelompok

2. Manjawab pertanyaan tentang kehidupan pribadi

B. Setting

1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran

2. Ruangan nyaman dan tenang

C. Alat

1. Tape recorder

2. Kaset “Marilah kemari “ ( Titik Puspa )

3. Bola tenis

4. Buku catatan dan pulpen

5. Jadual kegiatan klien

D. Metode

1. Dinamika kelompok

2. Diskusi tanya jawab

3. Bermain peran / simulasi

E. Langkah-langkah kegiatan

1. Persiapan.

A. Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada Sessi 2 TAKS

B. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

a. Salam terapeutik

Pada tahap ini terapis melakukan :

1. Memberi salam terapeutik

2. Peserta dan terapis memakai papan nama

b. Evaluasi / Validasi

1. Menanyakan perasaan klien saat ini

2. Menanyakan apakah telah mencoba berkenalan dengan orang lain

c. Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu bertanya dan menjawab tentang kehidupsn pribadi

2. Menjelaskan aturan main yaitu :

o Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada terapis.

o Lama kegiatan 45 menit.

o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja

a. Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis berlawanan dengan arah jarum jam.

b. Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola mendapat giliran untuk bertanya tentang kehidupan pribadi anggota kelompok yang ada di sebelah kanan dengan cara :

1. Memberi salam

2. Memanggil nama panggilan.

3. Menanyakan kehidupan pribadi : orang terdekat / dipercaya / disenangi, pekerjaan.

4. Dimulai oleh terapis sebagai contoh.

c. Ulangi a dan b sampai semua anggota kelompok mendapat giliran.

d. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi tepuk tangan.

4. Tahap terminasi.

a. Evaluasi.

1. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

2. Memberi pujian atas keberhasilan kelompok

b. Rencana tindak lanjut

1. Menganjurkan tiap anggota kelompok bercakap-cakap tentang kehidupan pribadi dengan orang lain pada kehidupan sehari-hari

2. Memasukkan kegiatan bercakap-cakap pada jadual kegiatan harian klien.

c. Kontrak yang akan datang

1. Menyepakati kegiatan berikut yaitu menyampaikan dan membicarakan topik pembicaran tertentu

2. Menyepakati waktu dan tempat

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan ketika proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAKS Sesi 3, dievaluasi kemampuan verbal dalam bertanya dan menjawab pada saat becakap-cakap serta kemampuan nonverbal dengan menggunakan evaluasi berikut

SESI 3 – TAKS

KEMANPUAN BERCAKAP-CAKAP

A. Kemampuan Verbal : Bertanya

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Mengajukan pertanyaan yang jelas





















2

Mengajukan pertanyaan yang ringkas





















3

Mengajukan pertanyaan yang relevan





















4

Mengajukan pertanyaan secara spontan





















JUMLAH





















B. Kemampuan Verbal : Menjawab

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Menjawab dengan jelas





















2

Menjawab dengan ringkas





















3

Menjawab dengan relevan





















4

Menjawab dengan spontan





















JUMLAH





















C. Kemampuan non verbal

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Kontak mata





















2

Duduk tegak





















3

Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai





















4

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir





















JUMLAH





















Petunjuk :

1. Di bawah judul nama klien, tuliskan nama panggilan klien.

2. Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan memberi tanda P jika ditemukan pada klien atau tanda X jika tidak ditemukan.

3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan. Jika mendapat nilai 3atau 4, klien mampu ; jika nilai ≤ 2 klien dianggap belum mampu.



SESSI 4 : TAKS

A. Tujuan

Klien mampu menyampaikan topik pembicaraan tertentu dengan anggota kelompok

1. Menyampaikan topik yang ingin dibicarakan.

2. Memilih topik yang ingin dibicarakan

3. Memberi pendapat tentang topik yang dipilih

B. Setting

1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran.

2. Ruangan nyaman dan tenang

C. Alat

1. Tape recorder

2. Kaset “Marilah kemari “ ( Titik Puspa )

3. Bola tenis

4. Buku catatan dan pulpen

5. Jadual kegiatan klien

6. Flipehart / whitwboard dan spidol

D. Metode

1. Dinamika kelompok

2. Diskusi tanya jawab

3. Bermain peran / simulasi

E. Langkah-langkah kegiatan

1. Persiapan.

C. Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada Sessi 3 TAKS

D. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

a. Salam terapeutik

Pada tahap ini terapis melakukan

    1. Memberikan salam terapeutik
    2. Peserta dan terapis memakai papan nama

b. Evaluasi / Validasi

1. Menanyakan perasaan klien saat ini

2. Menanyakan apakah telah latihan bercakap-cakap dengan orang lain

c. Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu menyampaikan, memilih, dan memberi pendapat tentang topik percakapan.

2. Menjelaskan aturan main berikut :

o Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus minta ijin kepada terapis.

o Lama kegiatan 45 menit.

o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja

a. Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis berlawanan dengan arah jarum jam.

b. Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola mendapat giliran untuk menyampaikan satu topik yang ingin dibicarakan. Dimulai oleh terapis sebagai contoh. Misalnya : “Cara bicara yang baik” atau “Cara mencari teman”.

c. Tulis pada flipehart / whoteboard topik yang disampaikan secara berurutan.

d. Ulangi a, b dan c sampai semua anggota kelompok menyampaikan topik yang akan dibicarakan.

e. Hidupkan lagi kaset dan edarkan bola tenis. Pada saat dimatikan, anggota yang memegang bola memilih topik yang disukai untuk dibicarakan dari daftar yang ada.

f. Ulangi e sampai semua anggota kelompok memilih topik.

g. Terapis membantu menetapkan topik yang paling banyak dipilih.

h. Hidupkan lagi kaset dan edarkan bola tenis. Pada saat dimatikan, anggota yang memegang menyampaikan pendapat tentang topik yang pilih.

i. Ulangi h sampai semua anggota kelompok menyampaikan pendapat.

j. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi tepuk tangan.

4. Tahap terminasi.

a. Evaluasi.

1. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.

2. Memberi pujian atas keberhasilan kelompok.

b. Rencana tindak lanjut

1. Menganjurkan setiap anggota kelompok bercakap-cakap tentang topik tertentu dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari

2. Memasukkan kegiatan bercakap-cakap pada jadual kegiatan harian klien.

c. Kontrak yang akan datang

1. Menyepakati kegiatan berikut, yaitu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi.

2. menyepakati waktu dan tempat.

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan ketika proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAKS Sesi 4, dievaluasi kemampuan verbal menyampaikan, memilih, dan memberi pendapat tentang topik percakapan serta kemampuan nonverbal dengan menggunakan evaluasi berikut.

SESI 4 – TAKS

KEMANPUAN BERCAKAP - CAKAP TOPIK TERTENTU

A. Kemampuan Verbal : Menyampaikan topik

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Menyampaikan topik dengan jelas





















2

Menyampaikan topik secara ringkas





















3

Menyampaikan topik yang relevan





















4

Menyampaikan topik secara spontan





















JUMLAH





















B. Kemampuan verbal : Memilih topik

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Memilih topik dengan jelas





















2

Memilih topik secara ringkas





















3

Memilih topik yang relevan





















4

Memilih topik secara spontan





















JUMLAH





















C. Kemampuan Verbal : Memberi Pendapat

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Memberi pendapat dengan jelas





















2

Memberi pendapat secara singkat





















3

Memberi pendapat yang relevan





















4

Memberi pendapat secara spontan





















JUMLAH





















D. Kemampuan Non Verbal

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Kontak mata





















2

Duduk tegak





















3

Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai





















4

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir





















JUMLAH





















Petunjuk :

1. Di bawah judul nama klien, tuliskan nama panggilan klien.

2. Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan memberi tanda P jika ditemukan pada klien atau tanda X jika tidak ditemukan.

3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan. Jika mendapat nilai 3 atau 4, klien mampu ; jika nilai ≤ 2 klien dianggap belum mampu

SESI 5 : TAKS

A. Tujuan

Klien mampu menyampikan dan membicarakan masalah pribadi dengan orang lain. sosialisasi kelompok.

a. Menyampaikan masalah pribadi

b. Memilih satu masalah untuk dibicarakan.

c. Memberi pendapat tentang masalah pribadi yang dipilih.

B. Setting

1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran.

2. Ruangan nyaman dan tenang

C. Alat

1. Tape recorder

2. Kaset “Marilah kemari “ ( Titiek Puspa )

3. Bola tenis

4. Buku catatan dan pulpen

5. Jadual kegiatan klien

6. Flipchart / whiteboart dan spidol

D. Metode

1. Dinamika kelompok

2. Diskusi dan tanya jawab

3. Bermain kartu dalam kelompok

E. Langkah-langkah kegiatan

1. Persiapan.

a. Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada Sessi 4 TAKS

b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

a. Memberi salam terapeutik

a. Salam dari terapis

b. Klien dan terapis memakai papan nama

b. Evaluasi / Validasi

1. Menanyakan perasaan klien saat ini

2. Menanyakan apakah telah latihan bercakap-cakap tentang topik / hal tertentu dengan orang lain

c. Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu menyampaikan, memilih, dan memberi pendapat tentang masalah pribadi

2. Menjelaskan aturan main berikut :

o Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta ijin kepada terapis.

o Lama kegiatan 45 menit.

o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja

a. Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis berlawanan dengan arah jarum jam.

b. Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola mendapat giliran untuk menyampaikan satu masalah pribadi yang ingin dibicarakan. Dimulai oleh terapis sebagai contoh. Misalnya : “sulit bercerita” atau “tidak diperhatikan ayah / ibu / kakak / teman”.

c. Tuliskan pada flipchart / whiteboard masalah yang disampaikan.

d. Ulangi a, b dan c sampai semua anggota kelompok menyampaikan masalah yang ingin dibicarakan.

e. Hidupkan lagi kaset dan edarkan bola tenis. Pada saat dimatikan, anggota yang memegang bola memilih masalah yang ingin dibicarakan.

f. Ulangi e sampai semua anggota kelompok memilih masalah yang ingin dibicarakan.

g. Terapis membantu menetapkan topik yang paling banyak dipilih.

h. Hidupkan lagi kaset dan edarkan bola tenis. Pada saat dimatikan, anggota yang memegang menyampaikan pendapat tentang masalah yang pilih.

i. Ulangi h sampai semua anggota kelompok menyampaikan pendapat.

j. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi tepuk tangan

4. Tahap terminasi

a. Evaluasi.

1. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

2. Memberi pujian atas keberhasilan kelompok

b. Rencana tindak lanjut

1. Menganjurkan tiap anggota kelompok bercakap-cakap tentang masalah pribadi dengan orang lain pada kehidupan sehari-hari.

2. Memasukkan kegiatan bercakap-cakap tentang masalah pribadi pada jadwal kegiatan harian klien

c. Kontrak yang akan datang

1. Menyepakati kegiatan berikutnya yaitu kerja sama dalam kelompok..

2. Menyepakati tempat dan waktu

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan menggunakan formulir dibawah ini pada saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAKS Sesi 5, dievaluasi kemampuan verbal menyampaikan, memilih, dan memberi pendapat tentang percakapan mengenai masalah pribadi, serta kemampuan nonverbal.

SESI 5 – TAKS

KEMANPUAN BERCAKAP - CAKAP MASALAH PRIBADI

A. Kemampuan Verbal : Menyampaikan topik

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Menyampaikan topik dengan jelas





















2

Menyampaikan topik secara ringkas





















3

Menyampaikan topik yang relevan





















4

Menyampaikan topik secara spontan





















JUMLAH





















B. Kemampuan verbal : Memilih topik

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Memilih topik dengan jelas





















2

Memilih topik secara ringkas





















3

Memilih topik yang relevan





















4

Memilih topik secara spontan





















JUMLAH





















C. Kemampuan Verbal : Memberi Pendapat tentang masalah

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Memberi pendapat dengan jelas





















2

Memberi pendapat secara singkat





















3

Memberi pendapat yang relevan





















4

Memberi pendapat secara spontan





















JUMLAH





















D. Kemampuan Non Verbal

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Kontak mata





















2

Duduk tegak





















3

Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai





















4

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir





















JUMLAH





















Petunjuk :

1. Di bawah judul nama klien, tuliskan nama panggilan klien yang ikut TAKS.

2. Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan memberi tanda P jika ditemukan pada klien atau tanda X jika tidak ditemukan.

3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan. Jika mendapat nilai 3 atau 4, klien mampu ; jika nilai ≤ 2 klien dianggap belum mampu



SESI 6 : TAKS

A. Tujuan

Klien mampu bekerjasama dalam permainan sosialisasi kelompok.

1. Bertanya dan meminta sesuai kebutuhan pada orang lain.

2. Menjawab dan memberi pada orang lain sesuai dengan permintaan.

B. Setting

1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran

2. Ruangan nyaman dan tenang.

C. Alat

1. Tape recorder

2. Kaset “Marilah kemari “ ( Titiek Puspa )

3. Bola tenis

4. Buku catatan dan pulpen

5. Jadual kegiatan klien

6. Kartu kwartet

D. Metode

1. Dinamika kelompok

2. Diskusi dan tanya jawab

3. Bermain kartu dalam kelompok

E. Langkah-langkah kegiatan

1. Persiapan.

a. Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada Sessi 5 TAKS

b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

a. Salam terapeutik

1. Salam dari terapis

2. Klien dan terapis memakai papan nama

b. Evaluasi / Validasi

1. Menanyakan perasaan klien saat ini

2. Menanyakan apakah telah latihan bercakap-cakap tentang masalah pribadi dengan orang lain

c. Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu dengan bertanya dan meminta kartru yang diperlukan serta menjawab dan memberi kartu pada anggota kelompok.

2. Menjelaskan aturan main berikut :

o Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta ijin kepada terapis.

o Lama kegiatan 45 menit.

o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja

a. Terapis membagi 4 (empat) buah kartu kwartet untuk setiap anggota kelompok. Sisanya diletakkan di atas meja.

b. Terapis meminta tiap anggota kelompok menyusun kartu sesuai dengan seri (satu seri mempunyai 4 kartu)

c. Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis berlawanan dengan arah jarum jam.

d. Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola memulai permainan berikut :

1. Meminta kartu yang dibutuhkan (seri yang belum lengkap) kepada anggota kelompok di sebelah kanannya.

2. Jika kartu yang dipegang serinya lengkap, maka diumumkan pada kelompok dengan membaca judul dan sub judul.

3. Jika kartu yang dipegang serinya tak lengkap, maka diperkenankan mengambil satu kartu dari tumpukan kartu di atas meja.

4. Jika anggota kelompok memberikan kartu yang dipegang pada yang meminta maka ia berhak mengambil satu kartu dari tumpukan kartu di atas meja.

5. Setiap menerima kartu, diminta mengucapkan terima kasih.

e. Ulangi c, dan d jika d.2 atau d.3 terjadi.

f. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi tepuk tangan.

4. Tahap terminasi.

a. Evaluasi.

1. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

2. Memberi pujian atas keberhasilan kelompok

b. Rencana tindak lanjut

1. Menganjurkan tiap anggota kelompok latihan bertanya, meminta, menjawab dan memberi pada kehidupan sehari-hari (kerja sama).

2. Memasukkan kegiatan bekerja sama pada jadwal kegiatan harian klien.

c. Kontrak yang akan datang

1. Menyepakati kegiatan berikutnya yaitu mengevaluasi kegiatan TAKS.

2. Menyepakati tempat dan waktu

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan menggunakan formulir dibawah ini pada saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAKS Sesi 6, dievaluasi kemampuan verbal dalam bertanya, meminta, menjawab, dan memberi serta kemampuan nonverbal.

SESI 6 – TAKS

KEMAMPUAN BEKERJASAMA

A. Kemampuan Verbal :Bertanya dan meminta

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Bertanya dan meminta dengan jelas





















2

Bertanya dan meminta dengan ringkas





















3

Bertanya dan meminta secara relevan





















4

Bertanya dan meminta secara spontan





















JUMLAH





















B. Kemampuan Verbal : Menjawab dan memberi

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Menjawab dan memberi dengan jelas





















2

Menjawab dan memberi dengan ringkas





















3

Menjawab dan memberi secara relevan





















4

Menjawab dan memberi secara spontan





















JUMLAH





















C. Kemampuan Non Verbal

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Kontak mata





















2

Duduk tegak





















3

Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai





















4

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir





















JUMLAH





















Petunjuk :

1. Di bawah judul nama klien, tuliskan nama panggilan klien yang ikut TAKS.

2. Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan memberi tanda P jika ditemukan pada klien atau tanda X jika tidak ditemukan.

3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan. Jika mendapat nilai 3 atau 4, klien mampu ; jika nilai ≤ 2 klien dianggap belum mampu



SESI 7 : TAKS

A. Tujuan

Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan kelompok yang telah dilakukan.

B. Setting

1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran.

2. Ruangan nyaman dan tenang

C. Alat

1. Tape recorder

2. Kaset “Marilah kemari “ ( Titiek Puspa )

3. Bola tenis

4. Buku catatan dan pulpen

5. Jadual kegiatan klien

D. Metode

1. Dinamika kelompok

2. Diskusi dan tanya jawab

E. Langkah-langkah kegiatan

1. Persiapan.

a. Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada Sessi 6 TAKS

b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

a. Salam terapeutik

1. Salam dari terapis

2. Klien dan terapis memakai papan nama

b. Evaluasi / Validasi

1. Menanyakan perasaan klien saat ini

2. Menanyakan apakah telah melakukan bekerja sama dengan orang lain

c. Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu menyampaikan manfaat eman kali pertemuan TAKS.

2. Menjelaskan aturan main berikut :

o Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta ijin kepada terapis.

o Lama kegiatan 45 menit.

o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja

a. Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis berlawanan dengan arah jarum jam.

b. Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola mendapat kesempatan menyampaikan pendapat tentang manfaat dari 6 (enam) kali pertemuan yang telah berlalu.

c. Ulangi a dan b sampai semua anggota kelompok menyampikan pendapat.

d. Berikan pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi tepuk tangan.

3. Tahap terminasi.

a. Evaluasi.

1. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

2. Memberi pujian atas keberhasilan kelompok

3. Menyimpulkan 6 kemampuan pada 6 kali pertemuan yang lalu

b. Rencana tindak lanjut

1. Menganjurkan tiap anggota kelompok tetap melatih diri untuk enam kemampuan yang telah dimiliki, baik di RS maupun di rumah.

2. Melakukan pendidikan kesehatan pada keluarga untuk meberi dukungan pada klien dalam menjalankan kegiatan hidup sehari-hari.

c. Kontrak yang akan datang

Menyepakati rencana evaluasi kemampuan secara periodik

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi

Evaluasi dilakukan dengan menggunakan formulir dibawah ini pada saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAKS Sesi 7, dievaluasi kemampuan klien menyampikan manfaat TAKS yang telah berlangsung 6 sesi secara verbal dan disertai kemampuan nonverbal

SESI 7 – TAKS

EVALUASI KEMAMPUAN SOSIALISASI

A. Kemampuan Verbal :Menyebutkan manfaat enam kali TAKS

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Menyebutkan manfaat secara jelas





















2

Menyebutkan manfaat secara ringkas





















3

Menyebutkan manfaat yang relevan





















4

Menyebutkan manfaat secara spontan





















JUMLAH





















B. Kemampuan Non Verbal

No

ASPEK YANG DINILAI

Nama Klien





















1

Kontak mata





















2

Duduk tegak





















3

Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai





















4

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir





















JUMLAH





















Petunjuk :

1. Di bawah judul nama klien, tuliskan nama panggilan klien yang ikut TAKS.

2. Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan memberi tanda P jika ditemukan pada klien atau tanda X jika tidak ditemukan.

3. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan. Jika mendapat nilai 3 atau 4, klien mampu ; jika nilai ≤ 2 klien dianggap belum mampu